Belajar Menjadi Entrepreneur dari Wirausaha Muda Mandiri (Part 1)

Wirausaha Muda Mandiri Expo 2013 (WMM Expo) yang diadakan minggu lalu berhasil mengajarkan banyak hal kepada generasi muda bangsa, dan salah satunya adalah untuk berusaha menjadi mandiri dan membuka lapangan pekerjaan baru dengan cara menjadi seorang entrepreneur. Namun sebelum benar-benar melaksanakannya, ada baiknya kita belajar dari para WMM yang telah sukses merintis usahanya.

Athaya – Vetrylla Prima Zastrina

Vetrylla Prima Zastrina telah berhasil mendirikan Athaya, sebuah usaha untuk penjualan batik tulis madura. Sebelumnya, Vetrylla merupakan karyawan perusahaan provider telekomunikasi di Solo. Berawal dari hobby terhadap kain batik, Vetrylla seringkali membeli batik dari pasar Klewer hingga memiliki koleksi batik yang menumpuk di lemarinya. Vetrylla kemudian memanfaatkan media blog untuk mencoba mengosongkan lemarinya. Tak disangka, ternyata penjualan batiknya sangat lancar. Melalui keluarga suami yang ada di Madura, Vetrylla kemudian menseriusi usaha ini dan bahkan keluar dari tempat kerjanya. Kini selain melalui online, Vetrylla juga telah memiliki toko batik yang berada di Bangkalan, Madura. Vetrylla kini juga telah memiliki desain sendiri yang ia jual melalui tokonya. Satu pesan Vetrylla sebelum membuka usaha mandiri adalah kuatkan mental. Modal akan mengikuti ketika usaha semakin berkembang, sehingga kuatkan dulu mental dan jangan mudah menyerah.

Newbee Corporation – Harland Firman Agus

Harland Firman Agus memiliki cerita yang berbeda mengenai usahanya mendirikan Newbee Corporation. Newbee Corporation sendiri merupakan sebuah perusahaan IT kreatif yang bergerak di bidang software, game, dan IT kreatif lainnya. Salah satu produk unggulan Newbee Corporation adalah Game Agustusan yang telah memenangkan Telkom Indigo Fellowship di tahun 2012. Dalam waktu 2 tahun, Harland telah berhasil memperkerjakan sekitar 20 orang. Inspirasi Harland dalam membangun bisnisnya adalah peluang yang ia lihat dalam dunia IT Indonesia, dimana negeri ini membutuhkan banyak sekali konten IT, namun perusahaan yang mampu mengerjakannya sangat sedikit dan kebanyakan adalah asing. Dari situ semangat Harland untuk merebut pasar tertantang dan ingin untuk menjadi penguasa di negeri sendiri. Harland ingin mempopulerkan kembali permainan-permainan tradisional Indonesia melalui game-game yang ia buat. Harland juga mengatakan bahwa passion adalah modal terpenting untuk mendirikan usaha secara mandiri.

Buku Kita

Buku Kita juga ikut berbagi pengalamannya dalam mendirikan toko buku online. Buku Kita berdiri merlalui sebuah komunitas yang seringkali menerima buku hasil hibah dari penerbit. Dikarenakan jumlah yang mulai menumpuk, komunitas ini mencoba menawarkan buku-buku tersebut secara online. Karena komunitas tersebut terdiri dari berbagai macam talent, maka bisa dibilang modal awal Buku Kita adalah Rp. 0,-. Berawal dari sana, Buku Kita kemudian dikembangkan dengan tujuan untuk memudahkan masyarakat untuk membeli buku, Heru Oktaprianto menceritakan bahwa Buku Kita mencoba untuk mengubah sistem belanja buku konvensional menjadi online. Selain lebih mudah karena tidak harus berhadapan dengan macet dan parkir, berbelanja buku secara online juga lebih murah karena tidak memerlukan biaya transportasi ataupun parkir. Apalagi dengan berbelanja online, konsumen dapat memastikan ketersediaan buku terlebih dahulu. Buku Kita juga menjanjikan harga yang lebih murah minimal 15% dari toko buku konvensional. Kini Buku Kita telah bekerjasama dengan lebih dari 200 penerbit besar dan memiliki member lebih dari 150.000. Fokus adalah kunci keberhasilan Buku Kita. Persaingan pasti ada dan siapapun pasti bisa ikut berkompetisi, namun dengan fokus, kita bisa benar-benar mengerti bentuk bisnis kita dan mendalaminya dengan lebih serius.

Katok-Kotak – Ardiaz Ajie Aryandika

Kreativitas juga ternyata menjadi salah satu bekal yang penting untuk mendirikan sebuah usaha. Ardiaz yang ahli di bidang IT berhasil membuktikan hal tersebut melalui Katok-Kotak, sebuah produsen kain motif kotak-kotak. Katok-Kotak sendiri telah eksis sejak Desember 2010, sebelum motif kotak-kotak dipopulerkan oleh Jokowi. Katok-Kotak kini telah menjadi produsen motifnya sendiri dengan jalur distribusi di sekitar Jawa Timur. Keunikan dari produk Katok-Kotak tidak hanya desainnya yang tidak mungkin sama karena satu motif hanya untuk satu baju, namun juga produksinya yang menggunakan metode tenun, sehingga tidak panas ketika dipakai. Ardiaz percaya bahwa produk adalah yang terpenting, sehingga kreativitas dalam menciptakan produk tersebut sangat menentukan keberhasilan.

Sribu.com – Yunus

Yunus dari Sribu.com, salah satu penyedia desain dan crowdsourcing unggulan di Indonesia mengatakan bahwa untuk membangun sebuah bisnis, diperlukan dukungan kerjasama yang kuat, baik dari client maupun dari member. Dengan melakukan sinergi tersebut, perusahaan dapat tumbuh secara bersama-sama. Sribu.com kini telah memiliki sekitar 20.000 member dan 400 client. Dengan perkembangan yang siknifikan, Sribu.com menargetkan untuk dapat memperluas jaringan perwakilannya hingga mancanegara pada tahun 2013 ini. Meski animo sangat besar, namun Yunus menceritakan bahwa dukungan pemerintah juga sangat diperlukan agar usaha-usaha baru dapat saling beraliansi.

Dapat disimpulkan bahwa passion adalah bekal utama untuk menjadi seorang entrepreneur. Seiring dengan pertumbuhan usaha, maka modal akan ikut bertambah dengan sendirinya. Namun dalam pelaksanaannya, fokus dan semangat pantang menyerah juga harus dimiliki. Jangan lupa bahwa perkembangan sebuah bisnis terjadi karena hasil dukungan dari mitra usaha dan konsumen. Simak Belajar Menjadi Entrepreneur dari WMM part 2  untuk informasi lebih dalam mengenai dasar-dasar entrepreneurship.


SHARE
Previous articleSamsung Konfirmasikan Galaxy Express, Unggulkan Kecepatan Akses Data 4G LTE
Next articleDapatkan Dukungan Lebih Banyak Game, Kontroler OUYA Juga Menjadi Lebih Nyaman
Memulai kariernya sebagai freelance majalah Ultima Nation, Dipta berkembang hingga menjadi penulis guide di majalah Optima. Ia sempat menghilang pada tahun 2003 untuk mempelajari film di Australia. Pada tahun 2008 Dipta kembali ke Indonesia dan memimpin GAMEZiNE selama kurang lebih 2 tahun. Ia juga sempat memperoleh penghargaan MURI sebagai Pencipta TCG Indonesia Pertama melalui karyanya Vandaria Wars.