Resident Evil: Revelations Penentu Masa Depan, Kembali Survival Horror atau Action Oriented

Setelah beberapa kali bocor, Capcom akhirnya mengkonfirmasikan port Resident Evil: Revelations dari 3DS (yang dirilis 7 Februari 2012) untuk semua konsol dan PC pada 23 Januari 2013 lalu. Game tersebut bakal dirilis secara retail dan digital download pada 21 Mei 2013 di Amerika Utara, dan 24 Mei 2013 di Eropa dengan harga $49.99 (konsol) dan $39.99 (PC). Versi digital-nya juga meluncur pada hari yang sama untuk PlayStation 3, sedangkan versi Xbox 360 dan Wii U bakal segera meluncur.

Port plus upgrade ini memperbaiki kualitas grafis versi handheld-nya, selain juga menambahkan content baru, termasuk apa yang diungkapkan musuh yang lebih menyeramkan (plus lokasi keberadaan mereka dibuat lebih random), mode tingkat kesulitan yang lebih “horor” yang disebut “Infernal Mode”, lebih banyak slot untuk save, lebih banyak part untuk kustomisasi senjata, dan perbaikan pada Raid Mode seperti adanya senjata baru, lebih banyak skill set, dan opsi memainkan Hunk serta karakter lain yang belum diungkapkan. Dan tentu saja, grafisnya berkualitas HD dengan efek lighting yang lebih baik, suaranya pun menurut Capcom makin mendukung atmosfer seram.

Raid Mode sendiri merupakan mode online co-op atau solo dimana kamu menghadapi banyak musuh melalui beragam misi sambil menaikkan level dan memperoleh upgrade weapon. Fungsi online tersebut membuat game ini bisa memanfaatkan fitur Residentevil.net, layanan online gratis yang menawarkan content bonus, melacak status para pemain, event komunitas, reward dan juga integrasi media sosial.

Konfirmasi port dari game yang di Jepang bakal disebut sebagai Biohazard Revelations: Unveiled Edition itu jelas membuat pemain konsol bersorak — di atas kesedihan mereka yang membeli 3DS hanya untuk memainkannya… hehe! Dan wajar, walaupun terasa kurang diangkat oleh Capcom dibandingkan flagship Resident Evil 6 yang terasa serakah mencoba menarget semua tipikal gamer, baik yang suka full nuansa horor dan juga full action (yang sayangnya malah kacau!), Resident Evil Revelations justru lebih diterima oleh penggemar asli Resident Evil, yang memang berharap serial itu kembali ke akarnya.

Dan bicara kembali ke akarnya, kamu yang memang mendambakan nuansa pure horror, bisa lebih berharpa pada port ini. Karena produser Revelations, Masachika Kawata bakal memantau terus perkembangan serial ini, terutama pasca Revelations konsol dirilis nantinya, dan mengumpulkan feedback, sebagai acuan bagaimana Capcom bakal mengembangkan game-game baru Resident Evil ke depannya. So, jika kamu memang berharap aksi para polisi kota Raccoon kembali dipenuhi unsur pemicu adrenalin seperti seri pertamanya, bisa urun membeli versi originalnya. Karena bagi publisher besar semacam Capcom, berapa kopi yang terjual menjadi ukuran sukses atau tidaknya. Bicara nominal kopi game yang terjual, bakal kamu bahas dalam artikel lain, yang jelas berhubungan dengan maraknya penutuoan studio game, plus bangkrutnya THQ awal Januari 2013 lalu.

Kembali pada Revelations, mengutip pernyataan Kawata pada Eurogamer, “I think we’ll get a lot of input from the fanbase and the media on what it means forResident Evil, and what it could mean for the future of the series.” Pernyataan tersebut cukup menjadi indikasi bahwa Capcom ingin menentukan arah masa depan Resident Evil. Mau action atau balik ke pure survival horror. Seperti yang dia tambahahkan, “We’ll definitely be looking at that as a signpost for where we need to be going next.” Sepertinya jika Revelations yang oleh Capcom memang sudah dinilai sukses (walaupun secara bisnis, mereka tetap berharap angka penjualan yang lebih besar), versi konsolnya lebih heboh dari Resident Evil 6, maka kita akan lebih banyak menemukan aspek horor untuk masa depan serial ini.

Sebagai informasi, kami melacak angka penjualan Resident Evil: Revelations versi 3DS, yang ternyata hanya laku sekitar 700 ribu kopi saja selama setahun ini (sumber data: VG Chartz). Dibandingkan dengan Resident Evil 6, versi PS3-nya sudah terjual 2,3 juta kopi, dan versi X360-nya 1,48 juta kopi sejak dirilis Oktober 2012 lalu (sumber data: VG Chartz). Secara bisnis, memang jauh lebih menjanjikan Resident Evil 6. Walaupun mungkin biaya pengembangannya lebih besar, namun dari versi konsol Capcom sudah mengantongi pemasukan dari penjualan hingga US $190 juta!

Kami memang tidak mendapatkan data biaya produksi Resident Evil 6, namun untuk Resident Evil 5, Capcom mengaku hanya menghabiskan biaya sekitar US $20 juta saja. Bandingkan dengan Final Fantasy XIII (2009) yang mencapai $50-60 juta, atau Grand Theft Auto IV (2008) – yang mencapai $100 juta. Jika Resident Evil 6 membutuhkan biaya 2 kali lipat Resident Evil 5 pun, Capcom sudah untung banyak! Wajar kan, jika mereka lebih suka membuat yang versi gado-gadi seperti Resident Evil 6 daripada memenuhi segelintir penggemar aslinya dengan orientasi survival horror, yang memang lebih kecil pasarnya?

Kawata juga menyebutkan, jika Resident Evil: Revelations untuk 3DS biaya produksinya tidak sedikit. Dengan angka penjualan yang kurang dari satu juta kopi, Capcom menilai meskipun sudah mencapai taraf break even, mereka masih berharap lebih banyak. “Given the large development costs we had on the 3DS version, we would have liked to have even a little more sales than we did in the end. But that doesn’t mean we saw it as a failure by any means,” dia menambahkan, sekaligus secara tidak langsung mengutarakan jika Revelations versi 3DS belum cukup membuat Capcom selaku publisher puas. So, seandainya angka penjualannya setara Resident Evil 6, mungkin tidak ada versi port ini, dan jelas para pemain versi 3DS-nya tidak perlu gigit jari ya… hehe :)

Kemudian juga banyak bermunculan mengenai kenapa port ini hanya untuk konsol, padahal PS Vita memiliki kemampuan setara konsol. Melalui PlayStation Blog product manager Capcom, Mike Lunn mengungkapkan jika layar format PS Vita terlalu kecil, serta tidak didukung surround sound, membuat mereka mengurungkan niat port untuk PS Vita. Karena memang port konsol dibuat untuk lebih menghidupkan aspek horor melalui keadaan atmosfer lingkungannya, serta efek-efek suaranya. Lunn mengungkapkan, “When we were developing Revelations for new platforms we really wanted to hone in on the experience you get with a large format screen, surround sound, etc. This type of setup really helps players get sucked into the horror vibe and enjoy the game to its fullest extent.”  Masalah resolusi yang berbeda pun juga disinggung oleh Lunn, “3DS and PS-vita infrastructure let alone developing games for them are extremely different beasts. Even just the screens as you mention are completely different resolutions/functions.” So, sepertinya para pengguna PS Vita masih harus menunggu lama jika berharap mendapatkan Resident Evil di handheld mereka. Atau, kamu bisa ikut membantu, dengan berpartisipasi menandatangani petisi Resident Evil untuk PS Vita, di sini.

[nggallery id=373]

Kemudian kabar terakhir, melalui Video Gamer, produser Resident Evil Masachika Kawata mengatakan jika Capcom sudah mempelajari kejenuhan pasar. Capcom mengaku dengan menjatuhkan banyak Resident Evil di pasar sepanjang 2011-2012 kemarin, dengan The Mercenaries 3DRevelations,  Operation Raccoon City dan Resident Evil 6, sepertinya membuat pasar jenuh dengan serial tersebut. Apalagi hanya dalam waktu setengah tahun, pasar kembali akan mendapatkan port Resident Evil: Revelations. Ke depan Capcom akan mengatur kembali pola perilisan seri tersebut, sambil mencari formula yang lebih baik yang lebih bisa diterima para penggemarnya. Dan semoga saja itu bukan berarti kita akan lebih lama mendapatkan Resident Evil terbaru ya… :)


SHARE
Previous articleLego Robotics Competition, Bahkan Anak TK Bisa Nge-Robot
Next articleTemple Run: Oz The Great and Powerful Siap Hadir pada Akhir Februari!
Telah dikenal sejak satu dekade yang lalu melalui media game Ultima Nation. Saat itu artikel andalannya adalah panduan walktrough game-game RPG. Ura kemudian juga semakin dikenal lewat tulisannya yang idealis dan selalu konsisten pada satu aspek game, yaitu STORY - yang olehnya dianggap sebagai backbone sebuah game. Selain menggeluti dunia game, Ura juga penggemar gadget, dan dia memiliki hobi "ngoprek" smartphone.