Insight : Blackberry

Launching BBOS10 tanggal 30 Januari kemarin hanya disambut hangat hangat kuku saja oleh publik dunia, Sistem operasi yang digadang gadang menjadi juru selamat Blackberry (d/h RIM) ternyata sangat tidak dapat memenuhi ekspektasi publik dunia dikarenakan ketidaksiapan produknya sendiri.

Berita menjadi semakin hangat karena tepat seminggu lalu mantan Co-CEO Blackberry Jim Balsille, yang memegang sekitar 5% saham telah menjual seluruh sahamnya, sebuah langkah yang sangat mengkhawatirkan mengingat publik pasti mempertanyakan apakah beliau juga khawatir akan masa depan Blackberry.

Di masa lalu saham Blackberry sempat bernilai lebih dari 230 US$ per sahamnya pada 20 Juli 2007 dan sekarang setiap sahamnya sedang diperdagangkan pada angka 13,07 US$, hanya 5 persen dari masa keemasannya.

Pergerakan saham Blackberry setelah penjualan saham oleh Jim Balsille jelas telah membawa kepercayaan pasar ke zone negatif, seperti terjadi dapat dilihat pada pergerakan 5 hari terakhir

Walaupun masa depannya masih belum begitu jelas, saat ini, ada beberapa faktor yang kami rasa akan membawa Blackberry yang dulu digdaya ke hari hari suramnya.

Sistem Operasi

BBOS10 merupakan pertaruhan besar untuk masa depan Blackberry, Sistem operasi ini dibangun dengan investasi waktu, biaya  besar dan target yang tinggi. Pengurangan pegawai Blackberry yang cukup besar juga diduga merupakan salah satu faktor kenapa produk ini melewatkan  beberapa target peluncurannya.

Peluncuran finalnya pada tanggal 30 Januari 2013 kemarin telah memberikan gambaran utuh dari produk ini setelah publik dihibur beberapa versi alpha dan beta dari sistem operasi dan implementasinya dalam Blackberry Z10 dan Q10.

Salah satu fitur andalan yang justru malah hilang dalam BBOS10 adalah push email, sebuah fitur yang sampai OS7 masih membedakan antara Blackberry dengan pesaingnya. Sekarang Blackberry hanya menawarkan scheduled pull email setiap beberapa menit sekali, sebuah teknologi jelas sekali sangat tertinggal-bahkan dibanding pendahulunya.

Satu satunya hal yang segar dari sistem operasi baru ini adalah antarmuka yang  cukup menarik, namun kami berpendapat antarmuka baru ini malah akan memaksa pengguna setia blackberry untuk belajar beberapa hal yang baru. Bagi pengguna dari sistem operasi lain seperti iOS dan Android juga akan mengalami kurva pembelajaran yang sedikit curam, sehingga siapapun butuh waktu cukup lama untuk membiasakan penggunakan sistem operasi ini.

Sebagai sebuah paket lengkap kami sangat setuju dengan mayoritas media yang menyatakan bahwa BBOS10 adalah produk yang bagus, sayang peluncurannya yang terlambat dan produk yang belum terlalu siap akan kesulitan memikat pengguna yang sudah nyaman menggunakan OS lain.

Launching yang Gagal

Tidak masuknya Indonesia sebagai negara yang disasar dalam peluncuran Blackberry jelas merupakan kesalahan. Sebagai salah satu benteng terakhir Blackberry di Asia, Indonesia harusnya diberikan prioritas tinggi dalam peluncuran produk yang jelas akan mendapatkan atensi publik Indonesia.

Peluncuran Blackberry di beberapa negara pasar lainnya seperti Amerika Serikat juga jelas tidak berhasil, sampai 20 februari ini belum ada tanggal pasti kapankah ponsel ini bisa dibeli  tanpa harus merogoh kantong US$999 di Amerika Serikat.

Dengan aktivasi 1,3 juta aktivasi android setiap harinya dan 27,5 Juta pengguna iPhone, jeda waktu 2 bulan berarti puluhan juta pengguna potensial yang hilang dan beralih ke produk lain yang sudah siap dijual.

Mundurnya penjualan Blackberry pada bulan maret juga memaksa customer untuk membuat pilihan sulit, karena jauh lebih dekat dengan peluncuran iPhone 5S dan Galaxy SIV, produk yang siklus hidupnya lebih tinggi (dan hampir pasti lebih baik) daripada flagship Blackberry.

Belum ada Aplikasi Populer

Ketidakadaan aplikasi seperti whatsapp, instagram, line, pinterest dan banyak aplikasi populer lainnya jelas merupakan kekurangan dari sistem operasi ini, pengguna umum pasti mengharapkan beberapa aplikasi ini dapat hadir pada saat BBOS 10 pertama dapat dibeli sehingga produk ini bisa dijadikan pengganti gadget yang lama.

Developer aplikasi popular juga sepertinya menunggu perkembangan peluncuran BBOS10 sebelum benar benar mencurahkan sumber daya untuk dapat memporting aplikasi yang sudah sukses di platform lainnya. Ini seperti ayam dan telur, developer menunggu platform populer, platform populer karena penggunanya banyak dan pengguna mau beralih jika banyak aplikasi populer.

Blackberry sepertinya telah mengantisipasi hal ini dengan menyiapkan solusi untuk menjalankan aplikasi berbasis Android di sistem operasi ini, sebuah solusi yang terdengar cerdas pada awalnya namun perlu sangat dicermati perkembangannya. Sebagai pengguna emulasi yang lebih matang seperti Wine, penulis sangat yakin bahwa banyak aplikasi Android yang tidak akan berjalan di Blackberry.

Belum ada Dukungan untuk Enterprise

Benteng Blackberry yang masih belum runtuh sebelum peluncuran BBOS10 adalah dominasinya di pasar korporasi. Dominasi di pasar tersebut dimungkinkan  dengan adanya layanan unik yaitu Business Enterprise Server yang memberikan kendalan dan keamanan komunikasi data di korporasi. hal yang tidak disediakan oleh pesain lainnya dengan maksimal.

Walaupun jelas masuk dalam peta jalan rencana pengembangan BBOS 10, sampai saat ini belum ada kabar mengenai kapankah BES akan dapat digunakan pada platform baru ini. Ketidakpastian jadwal ini jelas akan membuat korporasi berpikir beberapa kali untuk dapat mengadopsi Blackberry sebagai gadget resmi perusaahaan.

Kesimpulan

Penulis  percaya bahwa launching BBOS10 tidak mengubah peta persaingan mobile dunia namun hanya akan mempertahankan posisi pada beberapa negara yang sudah terlanjur memiliki basis pengguna yang besar seperti Indonesia, Nigeria, Amerika Serikat dan beberapa negara Eropa. Blackberry juga akan membuat beberapa kejutan dan mewarnai persaingan mobile dunia dengan beberapa produknya dalam beberapa tahun kedepan tapi jelas sangat sulit mengulangi kejayaan yang pernah dicapainya di masa lalu.

[cb type=”company”]BlackBerry[/cb]