Masa Depan Industri Game Ada di Tangan Mobile Gaming?

Antara Hardcore dan Casual Gamer…
Masa Depan Industri Game Ada di Tangan Mobile Gaming

Konsol generasi ketujuh akan tetap dikenang melalui game-game dengan angka penjualan fantastis seperti Halo (keseluruhan serinya terjual 46.3 juta unit), Call of Duty (yang paling baru, satu serinya, Black Ops II terjual 23 juta unit di semua platform) dan Gears of War yang untuk ketiga serinya saja sudah mencapai angka 19 juta unit. Ketiganya memberi penegasan bahwa game konsol masih bisa memberi keuntungan berlebih bagi developer dan publisher…

Satu poin yang pasti dicari sebuah bisnis dimana pun juga. dan dalam dunia game indikatornya adalah budget < penjualan. Perhitungan matematikanya pasti panjang. Kalikan saja jumlah unit dengan harga rata-rata game tersebut yaitu US $60. Satu contoh, Black Ops II terbukti mampu mengungguli pencapaian banyak film box office Hollywood dengan pemasukan mencapai US $1.380.000.000, alias di atas 1 milyar dolar. Sedangkan Halo 4 yang dirilis sejak November lalu, sudah mencapai angka penjualan 8.2 juta unit, dengan pendapatan mencapai US $492 juta! Untuk Gears of War: Judgment yang baru muncul akhir Maret lalu saja, sudah terjual 1.2 juta kopi.

Ketiganya seakan mewakili sebuah puncak teknologi video game konsol generasi ketujuh. Jika bicara grafis, mereka mungkin belum memaksimalkan apa yang mampu diwujudkan sebuah kotak mesin game. Aspek fun permainannya pun sudah mampu mewakili apa yang diharapkan gamer hard-core, sekaligus merasukinya dengan fitur sosial dengan banyaknya unsur multiplayer. Penulis juga banyak menjumpai para analis mengakui jika game yang mampu menyihir jutaan gamer dunia untuk membelinya tersebut semacam “pilihan akhir terbaik sebelum akhirnya digantikan franchise lainnya,” yang mungkin belum tentu bisa sebaik game dengan tipe permainan hard-core, khususnya pilihan untuk konsol generasi delapan nantinya.

Namun kita juga harus mengakui jika ketiganya, tepatnya seri terbaru dari franchise tersebut, atau lebih tepatnya lagi Gears of War: Judgment, terpajang di toko retail di saat paling krusial dari sebuah industri game konsol – saat dimana angka penjualannya terus menurun. Ditambah dengan penerus Xbox serta PlayStation sudah diketahui bakal segera dirilis akhir tahun nanti. Dan satu faktor yang mungkin oleh kita para gamer (khususnya gamer hard-core di konsol) menganggapnya sangat sepele, namun oleh para developer game dunia dipandang sebagai sebuah ancaman kelangsungan bisnis mereka, adalah mobile gaming yang berkembang dengan pesatnya.

Mobile gaming? Bukankah hanya cocok untuk permainan seperti Angry Birds, dan bukan untuk sebuah game sehebat dan se-hardcore Halo, Call of Duty atau Gears of War? Dan jelas, tidak mungkin tiga judul yang penulis sebutkan di atas bisa begitu saja direplikasi dan masuk dengan mudah “ke dalam saku” kalian. Memang tidak mungkin sebuah game hardcore semacam itu dimampatkan ke dalam satu platform bermain game yang bisa mudah dibawa kemana-mana, bahkan dimasukkan ke dalam kantong. Yup, itu memang benar… namum beberapa tahun belakangan, mobile game membuktikan dirinya menjadi satu platform yang berkembang paling cepat (bahkan sangat cepat), sangat menguntungkan, dan sukses mengubah jatidiri banyak hardcore gamer menjadi casual gamer.

Sejarah perkembangan mobile game memang cukup panjang. Jika kita melacaknya mulai dari game yang eksis pertama untuk ponsel, bisa berhenti pada tahun 1997 silam ketika Nokia merilis game Snake untuk feature phone Nokia 6110. Selama satu dekade, perkembangannya sangat lambat, disepelekan, dan banyak yang membandingkannya dengan handheld game dari Nintendo yang terbukti lebih superior. Namun teknologi berkembang lebih cepat, dan dengan satu poin plus evolusi ponsel yang tiap tahun selalu muncul revisi teknologi barunya, membuat game-game ponsel tersebut terus bertahan. Puncaknya terjadi ketika Apple melakukan revolusi mobile game dengan merilis iPhone pada 29 Juni 2007, dan terus berkembang hingga saat ini platform mobile seperti iOS, Android, dan Windows Phone seakan menjadi ”mesin game” alternatif .

Babak baru mobile game, dari yang sebelumnya mengandalkan keypad (pada ponsel-ponsel jadul), kini fokus sentuhan dan mengutamakan target casual gamer yang begitu besar. iPhone pun dengan mudahnya berubah dari perangkat multimedia, gadget semua usia dan kalangan dengan kemudahan pengoperasiannya, menjadi sebuah platform game yang sangat ideal dan menguntungkan banyak pengembang game dengan sistem pemasaran satu portal melalui App Store (dibuka setahun pasca iPhone dirilis) yang memangkas banyak biaya distribusi atau keharusan berbagi keuntungan dengan pihak penerbit. Para gamer pun juga tidak kerepotan mencari game baru yang mereka inginkan. Tinggal pilih, download, dan mainkan. Tidak perlu ada learning progress mempelajari game tersebut, karena memang tipikal game casual mudah dipahami. Konsep free-to-play yang mulai populer melalui mobile game juga banyak disukai. Coba dulu gamenya, jika suka, langsung beli, jika tidak ya di-uninstall saja!

Tidak bisa dipungkiri, mobile game membawa perubahan besar, tidak hanya di tengah industri smartphone (dan kini juga tablet), industri game konsol/handheld, dan juga PC. Nintendo yang mendesain kontroler baru mereka dengan konsep tablet, baik Sony dan Microsoft memiliki pilihan game-game murah mereka sendiri yang harganya di bawah $10, hingga mereka berusaha menutupi celah antara mobile dengan game konsol melalui perangkat tambahan yang berfungsi sebagai wakil konsol tersebut di ranah mobile. Seperti Microsoft, yang memberi solusi bagi kita yang menginginkan ponsel Xbox, bisa dengan membeli Windows Phone – dan achievement yang kamu buka dalam game Windows Phone tertentu bakal menambah akumulasi Gamerscore pada Xbox 360. Atau solusi Sony, jika kamu berharap ada ponsel PlayStation, mereka menggalakkan program yang disebut PlayStation Mobile, yang menginjeksi smartphone dan tablet dengan banyak game-game klasik PlayStation.

Bicara konsumen mobile game, di atas terlihat data 20 negara di dunia yang paling konsumtif belanja game di pasar digital iPhone, iPad dan Android. Amerika, Jepang dan negara-negara di Eropa menduduki posisi teratas.

Era game sudah berubah, dan pasar game bukan sekadar mereka yang memang memainkan game hardcore saja. Dan konsol atau handheld jika ingin menjangkau yang “di luar kotak,” akan mendapat persaingan berat dari smartphone. Karena dewasa ini pasar yang bukan pure gamer justru membeli smartphone atau tablet, meskipun produsen konsol dan portable/handheld game menawarkan hardware baru penuh fitur dan teknologi modern.

Lanjut ke halaman 2…

1
2
3
4
5
6
7
8
9

SHARE
Previous articlePopCap Merilis Plants vs. Zombies Adventures 20 Mei Nanti Untuk Facebook
Next articleEye Candy: Concept Art Iron Man 3
Telah dikenal sejak satu dekade yang lalu melalui media game Ultima Nation. Saat itu artikel andalannya adalah panduan walktrough game-game RPG. Ura kemudian juga semakin dikenal lewat tulisannya yang idealis dan selalu konsisten pada satu aspek game, yaitu STORY - yang olehnya dianggap sebagai backbone sebuah game. Selain menggeluti dunia game, Ura juga penggemar gadget, dan dia memiliki hobi "ngoprek" smartphone.