Kendalikan Game Menggunakan Pikiran dalam Son of Nor!

Semakin banyak developer game independen yang memiliki ide-ide kreatif. Jika sebelumnya saya menuliskan The Novelist, game yang dikembangkan oleh mantan salah satu punggawa LucasArts, kali ini konsep yang menarik juga ingin ditunjukkan oleh salah satu developer game dari Austria, Stillalive Studio melalui Son of Nor. Konsep menarik seperti apa yang ditawarkan pihak pengembang dalam game yang juga tengah berjuang untuk mendapatkan pendanaan dari Kickstarter ini?

Pertama dalam hal gameplay. Dalam game ini, kamu akan memerankan seorang Son of Nor yang mendapatkan karunia dan kekuatan dari Nor, sang dewi malam. Karena mendapatkan kekuatan dari dewi, maka Son of Nor bisa menjadi seorang pengendali elemen ala Aang dalam Avatar, dimana kamu bisa memanfaatkan lingkungan sekitarmu untuk menghadapi musuh. Terdapat tiga kemampuan utama yang kamu miliki dalam game ini, antara lain Telekinesis yang bisa membuatmu mengangkat objek-objek dan melemparkannya ke musuh, Terraforming yang bisa membuatmu memanipulasi lingkungan, serta Elemental Magic yang akan memberimu kekuatan menggunakan elemen yang ada di sekitarmu.

Banyak hal yang bisa kamu lakukan menggunakan tiga kekuatan utama tadi, sebagai contoh dengan menggunakan Terraforming, kamu bisa membuat tembok dari pasir untuk bertahan dari serangan musuh, atau mengangkat batu-batuan lantas melemparkannya kepada musuh untuk menimbun mereka. Selain campaign single player, game ini juga menyediakan fitur co-op yang bisa dimainkan hingga empat orang pemain. Dalam mode co-op ini, kamu bisa mengkombinasikan kekuatan-kekuatan dari dirimu dengan temanmu untuk menghasilkan sebuah kekuatan baru, semisal kamu bisa menggunakan Elemental Magic api, sedangkan temanmu menggunakan Telekinesis untuk mengangkat batu. Batu dan api ini bisa dihantamkan satu dengan yang lainnya di dekat musuh untuk menghasilkan ledakan dan damage yang lebih besar.

Hanya itu saja inovasi dalam Son of Nor? Tentu tidak! Dalam update yang diberikan pihak pengembang di halaman Kickstarter-nya, mereka menuliskan bahwa nantinya kita bukan hanya memainkan game ini menggunakan keyboard, mouse atau gamepad saja, melainkan juga dengan pikiran kita! Untuk itu, pihak pengembang kini tengah melakukan banyak eksperimen dengan mengimplementasikan sebuah alat bernama EPOC Emotiv ke dalam game ini. Alat ini memiliki sebuah sensor yang bisa mengenali perasaan, pikiran dan ekspresi seseorang dengan memanfaatkan sinyal elektrik yang diproduksi oleh otak. Perbedaan sinyal elektrik yang dihasilkan dari macam-macam jenis pikiran seseorang inilah yang coba diterjemahkan pihak pengembang ke dalam game ini dalam bentuk casting magic yang berbeda-beda. Keren!

Bahkan, pihak pengembang rupanya sudah sangat siap dengan implementasi ini. Hal ini bisa dilihat dari halaman Kickstarter mereka yang menyediakan pre order game ini lengkap dengan sebuah EPOC Emotiv yang dibanderol dengan harga US $300 atau sekitar Rp 2.7 juta! Mungkin tidak murah, namun dengan membayar sebesar ini, kamu nantinya bisa memainkan Son of Nor tanpa harus banyak bergerak menekan tombol-tombol di keyboard atau mouse-mu. Menarik bukan?

Sampai artikel ini ditulis, Son of Nor baru mendapatkan dana US $54.472 saja dari total US $150.000 yang ditargetkan. Penggalangan dana ini sendiri akan berakhir pada 30 Mei mendatang atau tinggal enam belas hari lagi. Stillalive Studio sendiri merencanakan jadwal rilis versi closed beta sekitar awal 2014 dan versi final sekitar kuartal kedua 2014 mendatang. Selain berkampanye di Kickstarter, Son of Nor juga tengah menggalang dukungan di Steam Greenlight untuk menjadi salah satu game yang dipublikasikan di salah satu platform game terbesar tersebut.

[Sumber: Kickstarter]


SHARE
Previous articleBBM for All, Layanan Terbaik BlackBerry Resmi Akan Hadir Untuk Android dan iOS
Next articleBlackBerry Q5 Muncul Untuk Kelas Menengah, Pilihan yang “Lebih Murah” Dari Q10
Ex Managing Editor majalah Zigma dan Omega yang mengawali karirnya sebagai kontributor sebuah blog teknologi. Febrizio dikenal juga suka dengan teknologi, film, pengembangan software, perkembangan sepakbola, serta saat ini juga mulai tertarik untuk mempelajari proses pengembangan game.