Liputan Nikkei Game Networking Jakarta 2013

Halo Citizen! 16 Mei 2013 kemarin, bertempat di Ballroom Gran Melia Hotel Jakarta, telah berlangsung Game Networking Jakarta yang disponsori oleh Nikkei Business Publications. Event yang berlangsung seharian penuh dari pukul 10 pagi hingga 6.30 malam ini menghadirkan pembicara-pembicara top dari beberapa perusahaan yang sedang dan akan berekspansi ke Indonesia, diantaranya adalah SEGA Networks, Square Enix Smileworks serta Premium Agency.

Sesi pertama dibuka oleh perwakilan SEGA Networks, Shunsuke Kitayama sebagai Head of Chinese & Asian Business dengan presentasi “SEGA’s Mobile Strategy Toward an Exploding Asian Market.” Shunsuke mengatakan bahwa masa depan dunia game ada di tangan platform mobile. Oleh karena itu lah SEGA mendirikan divisi yang khusus mengembangkan game-game berbasiskan platform mobile. Beberapa game yang sangat sukses ditelurkan oleh SEGA Networks antara lain adalah Sonic Dash dan Kingdom Conquest 2 yang masing-masing sudah didownload jutaan kali diseluruh dunia. Shunsuke memandang bahwa pasar Asia, terutama Asia Tenggara adalah pasar yang sangat menggiurkan dikarenakan tingkat pertumbuhan smartphone yang sangat tinggi. Namun begitupun, Shunsuke menekankan ada banyak tantangan yang harus dihadapi oleh mereka. Beberapa diantaranya adalah masalah distribusi, payment serta isi konten yang tidak selalu sesuai dengan target setiap negara. “Kami berusaha membuat game dengan tema general yang dapat diadopsi oleh sebanyak mungkin pasar. Asia adalah pasar yang unik, karena walaupun masih berada di satu wilayah, keinginan pasar di tiap negara dapat berbanding terbalik, bahkan dengan negara tetangganya. Oleh karena itulah kami menciptakan game yang mudah diterima oleh semua pasar, kalaupun tidak, kami memberikan ruang improvisasi agar mudah di modifikasi sesuai kebutuhan pasar” terang Shunsuke panjang lebar.

Materi berikutnya diberikan oleh CEO Square Enix Smileworks, Hiroaki Kanamaru dengan tema “Square Enix’s Approach in Indonesia”. Developer game yang baru saja didirikan di Surabaya ini memiliki filosofi “Making the entire world to smile by the best entertainment service based on harmony between Indonesia and Japan.” Hiroaki mengatakan bahwa Indonesia tidak hanya potensial dari sisi pasar saja namun juga dari sumber daya manusianya yang berkualitas. Oleh karena itu Hiroaki mengajak talenta-talenta muda Indonesia untuk bergabung dengan Square Enix Smileworks. “Kami juga membuka kesempatan untuk bekerjasama dengan developer-developer lokal. Kami ingin membantu mengembangkan industri game di Indonesia, dan kami yakin Indonesia mampu menjadi pemain besar di ranah industri game global” ujar Hiroaki di sela-sela konferensi.

Konferensi dilanjutkan dengan materi yang diberikan oleh Katsunori Yamaji, CEO dari Premium Agency dengan materi “Forming Academic-Industrial Collaborations within Indonesia.” Premium Agency adalah sebuah perusahaan yang mengembangkan baik video games maupun mobile games. Namun, Premium Agency lebih dikenal dengan engine multi-platformnya yang bernama Chidori. Beberapa judul game yang menggunakan CGI dari engine Chidori antara lain adalah Metal Gear Solid 4: Guns of Patriots, Bayonetta, Resident Evil 5 dan masih banyak lagi. Premium Agency datang dengan membawa model kerjasama antara perusahaan mereka, universitas di Indonesia dengan Iwate University di Jepang. Premium Agency dapat memberikan bantuan materi akademik bagi universitas di Indonesia dan membantu program pertukaran pelajar dengan Iwate University. Premium Agency juga akan membantu para lulusan untuk mendapatkan pekerjaan, tidak hanya di Indonesia tapi juga di Jepang. Lebih lanjut, Katsunori mengatakan bahwa tahun ini Premium Agency akan segera membangun studio mereka di Indonesia.

Selanjutnya, ada presentasi singkat dari Shinri Endo, Tokyo Game Show Management Office Strategic Business Development. Shinri mengatakan bahwa membuka peluang bagi para developer-developer baru yang banyak berkembang di Asia adalah salah satu isu utama yang ingin diangkat dalam TGS. Sama seperti tahun lalu, event yang akan diadakan pada tanggal 19-22 September 2013 juga menyediakan Asia New Stars Area. Tahun lalu, Agate Studio mendapat kehormatan menjadi developer dari Indonesia yang pertama kali membuka booth di Tokyo Game Show.

Terakhir, konferensi ditutup dengan materi dari Ihsan Wahab, Director of Publishing Altermyth dengan tema The Effective Way to Publish Games in Indonesia’s Market. Sesi ini lebih menjelaskan kepada cara-cara menembus pasar di Indonesia. Permasalahan utama yang dihadapi antara lain adalah distribusi, lokalisasi konten serta cara pembayaran. Distribusi menjadi masalah karena Indonesia adalah negara kepulauan. Ihsan mengatakan, salah satu cara mengatasinya adalah dengan mencari partner yang tepat. Lokalisasi juga penting karena jika masyarakat tidak mengerti dengan tema gamenya, maka akan sangat sulit memasarkan game tersebut. Di penghujung acara, Ihsan membocorkan sebuah proyek yang akan segera diluncurkan akhir bulan ini, atau awal bulan depan paling lambat. Proyek tersebut adalah sebuah gaming platform bagi smartphone dan feature phone. Platform ini diberi nama Nampol. Sayangnya Ihsan belum mau memberikan info lebih lanjut lagi mengenai Nampol. 

Semoga saja dengan adanya event ini, yang berfungsi menjembatani perusahaan Jepang dengan perusahaan lokal, industri game nasional dapat semakin berkembang dengan cepat. Namun patut diwaspadai juga agar jangan sampai kita digilas oleh perusahaan-perusahaan tersebut.


SHARE
Previous articleDetail Sistem Pertarungan di Eiyuu Densetsu: Sen no Kiseki
Next articlePacific Rim Rilis Trailer Ketiga!
Liverpudlian | Airplane enthusiast | History lover | Science minded | Hardcore gamer | Warmonger. Lulus dari STP Sahid pada tahun 2012, sempat bekerja di Club Med Resort selama 6 bulan pada tahun 2012 sebagai bagian dari program internship kampus. Bekerja di departemen MICE (Meeting, Incentives, Conferences and Exibitions). Aktif di WWF-Indonesia sejak 2010 sebagai volunteer untuk kampanye Earth Hour dan menjadi tim inti Earth Hour Jakarta pada tahun 2013. Saat ini aktif sebagai staff perlengkapan di Look Around Indonesia, sebuah NGO yang memfokuskan diri di bidang sosial terutama anak muda.