Casual Connect Asia 2013: Indie Showcase dan Booth Konami

Setelah selama beberapa hari kemarin kami memberikan laporan tentang acara inti dari Casual Connect Asia 2013 berupa materi dan presentasi dari para pembicara, kali ini kami mengajakmu untuk mengintip bagaimana suasana Indie Showcase yang menempati satu ballroom penuh dari hotel Shangri-La Singapore ini. Sesuai namanya, dalam ruangan Indie Showcase ini, puluhan developer game indie memamerkan game hasil karya mereka, baik yang sudah jadi dan dirilis, maupun yang masih dalam tahap pengembangan atau belum dirilis. Selain untuk menarik minat para peserta yang ingin melakukan kerjasama, Indie Showcase ini juga nantinya memilih satu game yang mendapatkan voting terbanyak dari pengunjung, yang ditandai dengan stiker “Like” ala Facebook yang ditempelkan pengunjung di booth mereka.

Banyak developer game Indonesia yang ambil bagian dalam Indie Showcase ini, dimulai dengan Tanoshii Studio yang memamerkan game web based mereka yang dipublikasikan di Kotagames berjudul Garata. Garata ini memiliki konsep yang unik, dimana mereka menggabungkan perang Barathayuda dengan konsep mecha ala Gundam. Game ini sendiri sudah bisa dimainkan melalui ponsel apapun asal memiliki web browser dan memanfaatkan platform Kotagames.

Selanjutnya, ada Artlogic Games yang membawa game yang mereka kembangkan bersama Gamenauts, Castle Champions. Bagi yang belum tahu, Castle Champions adalah perpaduan antara gameplay tower building ala Tiny Tower dengan elemen RPG. Dalam game ini, kamu diharuskan untuk membangun tower dan melengkapi ruangan-ruangan yang ada di dalamnya, sekaligus juga melatih pasukan dan mengirim mereka ke dalam pertempuran.

Di dekat pintu masuk, kamu bisa menemukan tiga developer game Indonesia yang duduk dalam satu blok. Dimulai dengan Toge Productions yang membawa Infectonator 2 dan juga Infectonator untuk mobile. Bukan hanya itu, Kris Antoni, CEO dari Toge Productions juga memberikan sedikit sneak peek mengenai game baru mereka yang masih dalam tahap pengembangan dengan judul Infectonator: Survivor. Berkebalikan dengan Infectonator, dalam Infectonator: Survivor, kamu akan berperan sebagai orang-orang yang bertahan hidup dari serangan zombie dengan menggunakan strategi peletakan pasukan, ala gameplay dari game tower defense.

Yang menarik, Toge Productions juga membuat sebuah kampanye yang menarik, dimana pengunjung bisa mem-posting tweet dengan hashtag #Infectonator atau #Cascon diikuti dengan “Human” atau “Zombie”. Nantinya, tweet dari pengunjung akan men-“summon” zombie atau manusia tergantung pilihan mereka di dalam game. Praktis, kampanye ini cukup menarik minat pengunjung yang mengakibatkan Infectonator sempat mengalami lag karena banyaknya zombie dan manusia yang muncul di layar bersama tweet pengunjung. :D

Di sebelah Toge Productions, ada Agate Studio yang membawa game Valthirian Arc II-nya lengkap dengan trailer final yang bisa kamu saksikan di bawah ini.

Pengunjung pun bisa mencoba sekuel dari Valthirian Arc ini, dan Agate Studio sudah menyiapkan beberapa kertas untuk menampung feedback dari para pengunjung mengenai game mereka. Banyak improvisasi yang diberikan Agate Studio untuk Valthirian Arc II ini, antara lain tambahan mode Academy Simulation, engine baru yang mereka buat dari awal, dan juga beberapa variasi gameplay untuk Quest-nya. Menurut bocoran dari Agate Studio, game ini sudah 100% jadi dan akan segera dirilis sekitar bulan depan. Selain itu, Duniaku juga berbincang-bincang banyak dengan Wimindra Lee, Creative Director dari Agate Studio tentang Valthirian Arc II dan juga platform Gempon yang baru saja dirilis. Tunggu artikel kami selanjutnya ya!

Selanjutnya ada Digital Happiness yang memamerkan demo dari DreadOut mereka. DreadOut yang baru saja menuntaskan target funding mereka di IndieGogo cukup menarik minat banyak pengunjung untuk mencoba, dan tidak sedikit juga dari mereka yang terperanjat ketakutan saat mencoba demo game ini. Selain itu, Digital Happiness juga mempercantik booth mereka dengan membawa action figure musuh yang kamu hadapi dalam game ini. Kami juga sempat berdiskusi banyak dengan Rachmad Imron, sang Game Producer mengenai bagaimana pengalaman mereka saat menempuh jalur crowdfunding dan juga kisah sukses mereka saat berhasil mencapai targetnya.

Di sisi lain, kami juga menemukan Ant Pixel Studio, studio keluarga (ya, semua anggota tim studio ini adalah satu keluarga!) yang membawa beberapa game, mulai dari game tower defense Duelers dan juga game ala Duelers namun dalam format 3D yang masih dirahasiakan judulnya. Yang menarik, Ant Pixel juga membagi-bagikan sebuah papercraft kepada para pengunjung yang berisi karakter-karakter dari Duelers.

Di sisi lain ruangan, ada sekelompok mahasiswa yang juga menunjukkan hasil karya mereka, salah satunya adalah satu meja dari UMN Game Development Club (GDC) yang berasal dari Universitas Multimedia Nusantara. Mereka membawa beberapa game mereka yang terdiri dari dua web game untuk platform Kotagames, TaTaO dan Kebeng, serta beberapa game hasil karya tugas akhir semester mereka. Meskipun baru terbentuk sekitar satu tahun yang lalu, tetapi GDC sudah menunjukkan produktivitasnya dengan memenangkan Hackathon yang diselenggarakan Kotagames beberapa waktu lalu lewat TaTaO yang berimbas kepada dipublikasikannya game tersebut di Kotagames.

Ada juga developer game yang berasal dari Bali, Dragon Game Studio yang membawa game Balified-Word Game of The Gods. Dragon Game Studio adalah studio yang didirikan oleh sepasang suami istri dari Belanda di Bali, dan saat ini sudah menelurkan beberapa judul, Balified, Don’t Steal My Banana dan Harlem Shake vs Gangnam Style Dance Game. Dragon Game Studio sendiri juga mengirimkan dua wakilnya, Yon Hardiyan Tanto sang Studio Manager dan Gilbert Jansen sang Art Director untuk mengisi salah satu materi dalam Casual Connect Asia 2013 yang bertema The Making of Balified-Word Game of The Gods.

Terakhir ada Menara Games yang datang berbondong-bondong ke Casual Connect Asia 2013 ini dan membawa game Momomayhem. Menurut Christian Senjaya sang CEO, Momomayhem ini sebenarnya adalah sekuel dari Doodle vs Brute: World Domination. Namun, karena banyak mengalami perubahan gameplay dan fitur, akhirnya mereka meninggalkan nama Doodle vs Brute tersebut dan memberi nama Momomayhem ini. Dalam Momomayhem, kamu berperan sebagai seekor monster yang menghancurkan gedung-gedung dan bertahan dari manusia yang ingin membunuhnya.

Di booth Blackberry, kami menemukan “cameo” berikut ini yang ditampilkan di layar utama.

Ada yang bisa menebak, game apa diatas? Hehehe

Bagaimana dengan booth developer game indie selain dari Indonesia dan juga dari Konami? Simak halaman berikutnya ya!