Event Review GDG 2013: Kelas Tutorial dan Workshop

Bagi para peserta Game Developers Gathering (GDG) 2013 yang baru saja akan terjun ke dunia pengembangan game lebih banyak menghabiskan waktu dalam kelas Tutorial & Workshop yang mengambil tempat di ruangan 301 dan live streaming di ruang 302 ini. Di kelas Tutorial & Workshop ini, beberapa pembicara yang sudah berpengalaman dalam dunia game berbagai platform memberikan tips trik serta tutorial mereka, mulai dari co-founder Main Studios Marlin Sugama, co-founder Agate Studio Aditia Dwiperdana, General Manager dari TMG Felix Ramli, Evangelist Unity Brett Bibby, CEO Toge Productions Kris Antoni dan COO dari Nightspade Dody Dharma.

Beberapa pembicara memberikan tutorial praktis mengenai bagaimana mengembangkan game di sebuah platform, sebagai contoh TMG yang diwakili Felix Ramli sang General Manager, Erwin Setiawan sang Lead Engineer, Betovan Martino sang Game Designer, dan Fransiscus selaku Artist. Keempat punggawa TMG ini menjelaskan beberapa tips dan trik untuk mengatasi kesulitan para developer saat mengembangkan game untuk platform KotaGames yang memiliki banyak keterbatasan. Mereka membicarakan bagaimana mengatasi keterbatasan platform tersebut dari sudut pandang yang berbeda-beda, Felix dari sudut pandang yang umum, Erwin lebih ke arah programming, Betovan berbicara banyak tentang desain game, dan Fransiscus berbicara seputar art-nya.

Dimulai dengan desain game, Betovan banyak berbicara tentang bagaimana seorang game designer harus beradaptasi dengan keterbatasan dari platform KotaGames. Oleh karena itu, game designer harus membuat fitur sesimpel mungkin, dan harus selalu berkomunikasi dua arah dengan para anggota timnya. Lain lagi dengan Erwin yang banyak mengulas tentang programming-nya. Developer harus siap meninggalkan banyak fitur saat melakukan pemrograman untuk platform ini, contoh mereka harus membuat sebuah game tanpa menggunakan JS, Session ataupun Iframe. Untuk menghias halaman pun, programmer juga harus minim menggunakan CSS. Sehingga target loading time di bawah 15 detik bisa tercapai dan tidak memberatkan pemain yang membuka halaman tersebut. Terakhir, Fransiscus memberikan tips bagaimana membuat art untuk game yang menggunakan platform ini. Artist harus siap menggunakan pixel art, dan sebaiknya, jangan menjadikan satu tombol termasuk informasinya dalam satu image. Hal ini bisa menimbulkan masalah, ketiga jaringan sedang lambat, maka informasi dalam tombol tersebut tidak terbaca.

Selanjutnya, ada Aditia Dwiperdana, co-founder dari Agate Studio yang memberikan materi How to Create More Talents for Our Game Industry. Aditia menjelaskan, bahwa saat ini perusahaan developer game sebagian besar masih belum puas dengan talenta-talenta yang dicetak melalui bimbingan akademik di Indonesia. Aditia menjelaskannya dengan memberikan fakta-fakta dan statistik yang didapatkannya setelah melakukan berbagai survey, dimana Aditia mengungkapkan salah satunya, bahwa talenta yang ada di Indonesia sebagian besar menganggap kreatifitas itu penting. Namun, hal tersebut berkebalikan dengan developer game, yang menganggap faktor utama yang penting bukanlah kreatifitas, melainkan kemampuan mereka untuk mendesain sebuah game. Masalah lain yang dihadapi dalam dunia pendidikan menurut Aditia, adalah masih jarang dosen di institusi pendidikan yang benar-benar fokus dalam pengembangan game, berpengalaman setidaknya membuat sebuah game dan menjualnya di pasaran.

Untuk itu, Aditia memberikan beberapa solusi agar pertanyaan yang menjadi topik dalam presentasi ini bisa terjawab, salah satunya adalah talenta yang ada harus aktif untuk memperbanyak networking dengan teman-temanteman-teman lain baik yang belum berpengalaman, maupun yang sudah senior. Selain itu, para talenta juga harus setidaknya bisa membuat sebuah game dan menyelesaikannya hingga menjualnya. Pengalaman membuat game tersebut akan sangat penting saat mereka terjun di developer game nantinya. Dan solusi untuk dosen adalah para dosen setidaknya harus pernah membuat sebuah game hingga melepasnya di pasaran, agar dosen tahu masalah apa saja yang mungkin dihadapi para mahasiswanya, sehingga dia bisa membagikan pengalamannya.

Selain dua materi di atas, dalam kelas Tutorial dan Workshop ini para peserta juga mendapatkan beberapa materi menarik lainnya. Salah satunya adalah semua hal tentang engine Unity yang dibawakan langsung oleh sang Evangelist-nya, Brett Bibby. Tidak tanggung-tanggung, Brett mengisi tiga sesi sekaligus tentang Unity. Yang pertama, Brett menjelaskan topik Unity, Asia and You, yang banyak membahas tentang perkembangan Unity di Asia. Brett mengungkapkan, bahwa Unity saat ini sudah berkembang sangat pesat di Asia dan juga di dunia, serta menjadi engine paling populer untuk membuat game. Selain itu, Brett juga menjelaskan bagaimana menggunakan Unity untuk membuat game kasual, serta menjelaskan bagaimana strategi dan rencana Unity untuk Asia.

Materi kedua dan ketiga dari Brett lebih ke arah teknis, dimana dalam materi Unity 101, Brett menjelaskan garis besar dari Unity, platform-platform mana saja yang didukung, dan juga bagaimana alur kerja dasra saat menggunakan Unity. Sebuah materi yang sangat cocok bagi para pemula yang ingin mulai menggunakan Unity sebagai tool mereka untuk mengembangkan sebuah game. Dan materi terakhir, Brett membawakan tema 2D Content Workflows, dimana dia menjelaskan banyak mengenai kemampuan Unity untuk mengembangkan konten 2 dimensi. Sebagai tool untuk membuat konten 2D, Unity bisa dikombinasikan dengan beberapa software 2D ternama yang sudah ada, seperti Adobe Photoshop dan Anime Studio. Brett juga menjelaskan, bagaimana meng-export konten-konten dari tool tersebut, membuat metadata-nya, dan lantas digunakan langsung dalam Unity.

Di sesi lainnya, Marlin Sugama, co-founder dari Main Studios yang selama ini kita kenal dengan animasi Hebring-nya, juga ikut memberikan materi tentang Quick Way to Properly Design a Video Game. Sesuai dengan judulnya, dalam sesi ini Marlin membagikan beberapa tips bagaimana mendesain sebuah game. Marlin menjelaskan, mendesain sebuah game bisa dikatakan mudah untuk dipelajari, namun bagi yang ingin mempelajari lebih lanjut dan menjadi ahli dalam bidang tersebut, bukan perkara yang mudah.

Dua materi terakhir juga banyak berbicara mengenai teknis. Dimulai dari Kris Antoni, CEO dari Toge Productions yang membawakan materi How I Build My Multiplatform Games in Flash. Kris menjelaskan, bahwa sebagai seorang developer game Indie, kamu janganlah membuang banyak waktu untuk melakukan porting game dalam tiga bahasa yang berbeda untuk dipublikasikan di beberapa platform yang berbeda pula. Dengan Flash, kamu bisa membuat sebuah game yang bisa dipublikasikan ke portal-portal game flash di web, sekaligus melakukan porting ke iOS dan Android.  Selain itu, Kris juga membagikan pengalamannya saat mendesain dan membuat game untuk multiplatform ini menggunakan Flash, dengan bahasa ActionScript 3 dan bantuan Starling.

Terakhir, ada Doddy Dharma, COO dan co-founder dari Nightspade yang memberikan materi Super Fast Game Development in Windows 8. Doddy membagikan pengalamannya saat mengembangkan game Stack The Stuff, yang sudah dirilis dalam banyak platform, seperti iOS, Android, Nokia MeeGo dan Symbian. Dan yang terakhir, Nightspade merilis game tersebut untuk Windows 8, yang membuat Stack The Stuff menjadi game pertama dari developer Indonesia yang berhasil menembus Windows Store. Untuk itu, Doddy memberikan beberapa tips dan trik mengenai bagaimana pengalamannya dalam membuat game untuk Windows 8 tersebut secara cepat dan mudah.

Selain kelas Tutorial dan Workshop ini, ada dua kelas lagi yang disediakan dalam GDG 2013 lalu, yaitu Game Design Sharing dan Bussiness & Marketing. Siapa saja pembicara dan materi yang dibawakan dalam dua kelas tersebut? Tunggu artikel kami selanjutnya!


SHARE
Previous articleMengenal Lebih Dekat Para POPSTAR, Bintang Tamu Eksklusif di POPCON ASIA 2013 (Part 1)
Next articleMakin Banyak Digimon di Digimon World Re: Digitize Decode
Ex Managing Editor majalah Zigma dan Omega yang mengawali karirnya sebagai kontributor sebuah blog teknologi. Febrizio dikenal juga suka dengan teknologi, film, pengembangan software, perkembangan sepakbola, serta saat ini juga mulai tertarik untuk mempelajari proses pengembangan game.