Event Review GDG 2013: Kelas Business & Marketing

Kelas terakhir yang disediakan dalam Game Developers Gathering (GDG) 2013, Business & Marketing banyak diikuti oleh mereka yang sudah memiliki studio dan produk, namun mengalami kendala saat ingin mempublikasikannya. Bukan hanya membuka pengetahuan baru mengenai bagaimana pasar game yang akan dihadapi oleh para developer, kelas ini juga dijadikan ajang bagi mereka yang ingin menjalin koneksi dengan para pembicara yang sebagian besar memang berpengalaman dalam bisnis game, sebut saja dari Kongregate, Microsoft, hingga MOL.

Sesi pertama diisi dengan Andi Boediman, Director dari Ideosource yang membawakan materi Business Insight: What Investors are Looking For in Your Company. Sesuai dengan judulnya, Andi menjelaskan beberapa hal yang membuat para investor tertarik untuk menanamkan modal ke dalam sebuah perusahaan. Selain itu, Andi juga menjelaskan bagaimana mekanisme setelah mereka menanamkan modal ke sebuah perusahaan, dan bagaimana mereka bekerja sama dengan perusahaan yang sudah mereka beri modal. Terakhir, tidak lupa Andi juga menjelaskan beberapa point dasar yang dicari para investor di dalam sebuah perusahaan.

Selanjutnya, ada Bill Howard Group Product Manager, Flash Technology, Adobe yang membawakan materi Adobe & Gaming. Dalam sesi ini, Bill menjawab beberapa pertanyaan mengenai masa depan Flash dan juga menjelaskan mengenai fitur-fitur Adobe Gaming SDK yang sampai saat ini sudah digunakan oleh 1.3 milyar orang untuk membuat aplikasi untuk mobile. Selain itu, Bill juga menjelaskan beberapa roadmap dari beberapa produk Flash, mulai dari update selanjutnya untuk Flash Player, dan juga Adobe Gaming SDK itu sendiri.

Komunikasi dua arah dalam sesi tanya jawab di tiap-tiap akhir materi yang dibawakan.

Sebelum istirahat makan siang, peserta mendapatkan materi Making Money With Your Games on Microsoft Platform yang dibawakan oleh Norman Sasono, Technical Evangelist dari Microsoft. Sesi ini menjelaskan banyak mengenai bagaimana proses untuk mempublikasikan game di Windows Store, mulai dari opsi monetisasi yang disediakan, alur pendaftarannya, hingga sedikit tips dan triknya. Selain itu, Norman juga mendiskusikan secara mendetail bagaimana seorang developer bisa mendapatkan keuntungan yang maksimal melalui trial conversion (konversi game dari trial menjadi full version jika gamer membayar sejumlah uang), perbedaan fitur antara versi free dengan berbayar, pembelian item dalam aplikasi dan juga kemungkinan mendapatkan penghasilan dari iklan. Terakhir, Norman juga menjelaskan beberapa kemungkinan untuk mempublikasikan game di berbagai platform milik Microsoft, mulai dari tablet dan PC dari Windows 8, Windows Phone dan Windows Azure dan juga bagaimana Microsoft memberikan dukungan untuk para startup yang ingin mengembangkan game dan aplikasi iOS dan Android.

Setelah istirahat makan siang, sesi dilanjutkan dengan sesi Paradigm Shift in Global Online Game Publishing yang dibawakan oleh Patrick Setiawan, Country Manager Indonesia dari MOL Access Portal. Patrick menjelaskan bahwa industri game saat ini banyak berubah dibandingkan beberapa tahun lalu dengan adanya penetrasi internet di seluruh dunia, dan juga perkembangan internet dan gaming mobile yang sangat pesat. Hal tersebut menyebabkan demografis dari gamer juga ikut berubah. Jadi, dalam sesi ini, Patrick menjelaskan bagaimana cara memahami perubahan dalam industri game ini, dan juga memonitor segala tantangan yang ada untuk membangun bisnis game online secara global.

Materi selanjutnya dibawakan oleh David Chiu, BD Director dari Kongregate dengan tema Maximizing Player Retention and Monetization in F2P Games. Di awal presentasinya, David menjelaskan sedikit mengenai Kongregate, dimana Kongregate adalah salah satu platform web based game terbesar di dunia dengan total pengunjung mencapai lebih dari 15 juta setiap bulannya. Kongregate diambil alih Gamestop pada tahun 2010, dan saat ini sudah mulai melebarkan sayapnya ke bisnis publishing game mobile. Lebih lanjut, David menjelaskan beberapa statistik mengenai tren game F2P saat ini dan juga perbedaan antara F2P yang dikembangkan oleh developer Asia dengan developer barat. Menurutnya, game dari Asia memiliki ARPPU (Average Reveneue Per Paying User) tinggi, sehingga monetisasi lebih banyak melayani untuk mereka yang bersedia membayar banyak di dalam game. Sedangkan game dari developer barat memiliki ARPPU yang lebih rendah, sehingga mereka jarang sekali menerapkan aturan Pay 2 Win, alias membayar lebih banyak untuk menjadi lebih kuat di dalam game. Di akhir presentasi, David juga membuka kesempatan bagi para developer untuk bekerja sama dengan Kongregate untuk mempublikasikan game mobile mereka.

Setelah David Chiu, giliran Vlad Micu dari Gramble yang membawakan materi Breaking Through Internationally. Vlad menjelaskan pentingnya sebuah game atau aplikasi untuk dikenal dan dicintai di seluruh dunia. Oleh karena itu, seharusnya developer menjadikan Public Relations (PR) dan Marketing sebagai bagian dari proses development, dan bukan baru dipikirkan dengan matang setelah game tersebut diluncurkan.

Selanjutnya, ada materi dari Ihsan Wahab, Director of Publishing Altermyth dengan tema The Effective Way to Publish Games in Indonesia’s Market. Sesi ini lebih menjelaskan kepada cara-cara menembus pasar di Indonesia. Beberapa permasalahan utama yang dihadapi antara lain adalah distribusi, lokalisasi konten serta cara pembayaran. Distribusi menjadi masalah karena Indonesia adalah negara kepulauan. Ihsan mengatakan, salah satu cara mengatasinya adalah dengan mencari partner yang tepat. Lokalisasi juga penting karena jika masyarakat tidak mengerti dengan tema gamenya, maka akan sangat sulit memasarkan game tersebut. Di penghujung acara, Ihsan membocorkan sebuah proyek yang akan segera diluncurkan akhir bulan ini, atau awal bulan depan paling lambat. Proyek tersebut adalah sebuah gaming platform bagi smartphone dan feature phone yang diberi nama dengan Nampol.

Terakhir di kelas Business dan Marketing ini ada Andi Suryanto, founder dari Lyto sekaligus President dari Asosiasi Game Indonesia (AGI) yang membawakan materi Indonesia Game Association: The Future Strategy for Indonesia Game Industry. Andi menjelaskan banyak mengenai pembentukan AGI, yang bertujuan untuk menjadi wadah bagi seluruh perusahaan yang bergerak di bidang game di Indonesia, mulai dari developer, publisher, animasi, hardware, software, payment gateway, institusi pendidikan hingga media. Dengan dibentuknya AGI pada bulan April 2013 lalu, diharapkan industri game Indonesia dapat mendominasi baik di tingkat nasional dan juga tentu saja di dunia internasional dengan dukungan dari pemerintah.

Selain mengikuti kelas dan materi yang diberikan oleh para pembicara, kami juga sempat berkeliling di area showcase untuk mengintip beberapa game buatan developer Indonesia yang dipamerkan di sana. Ingin tahu lebih banyak? Tunggu artikel kami selanjutnya!


SHARE
Previous articleMarvel Luncurkan Website Resmi Thor: The Dark World
Next articleLG Nexus 4 ”White” Resmi Menampakkan Diri, Dirilis Pertama Kali di Hong Kong
Ex Managing Editor majalah Zigma dan Omega yang mengawali karirnya sebagai kontributor sebuah blog teknologi. Febrizio dikenal juga suka dengan teknologi, film, pengembangan software, perkembangan sepakbola, serta saat ini juga mulai tertarik untuk mempelajari proses pengembangan game.