Computex 2013: ARM Siapkan Prosesor Cortex-A12, Kinerja Antara Cortex-A9 dan A15

Mulai hari ini, 4 Juni hingga 8 Juni besok di Taiwan berlangsung Computex 2013. Ajang tahunan yang digelar mulai tahun 2000 lalu ini menjadi salah satu pameran komputer dan teknologi terbesar. Sesuai namanya, fokus dari Computex adalah teknologi baru komputer, seperti Intel yang mengkonfirmasikan penerus Ivy Bridge, yaitu Haswell, hingga perangkat mobile seperti tablet yang juga selalu meramaikan pameran tersebut. Berikut beberapa produk menarik yang muncul atau dikonfirmasikan selama Computex 2013.

Banyak yang mengklaim Galaxy S4 dengan prosesor octa-core serta konfigurasi big.LITTLE saat ini menjaci Android terkuat. Namun dari banyak hasil uji coba, ternyata chipset Exynos 5 Octa yang menggunakan perpaduan antara prosesor ARM Cortex-A15 yang sangat kencang dan Cortex-A7 yang lebih irit, tidak membantu menghemat keseluruhan kebutuhan daya baterai.

Selain itu, konfigurasi big.LITTLE tersebut produksinya masih belum bisa memenuhi permintaan pasar, secara Samsung dengan Exynos 5 Octa dan nVidia dengan Tegra 4 mereka menggunakan kombinasi yang sama. Dan melihat Intel yang kini makin agresif menembus pasar mobile dengan chipset Intel Atom-nya, ARM merasa perlu menawarkan solusi yang lebih murah dari kombinasi Cortex-A15 & Cortex-A7 untuk menghembat laju Intel yang mulai banyak digunakan di tablet dan smartphone. Solusi mereka melalui chipset baru, ARM Cortex-A12.

Prosesor ini duduk diantara Cortex-A9 dan A15. Dengan A9 yang terlalu lambat untuk berkompetisi dengan Intel Atom (apalagi yang sudah mendukung Hyper Threading) dan Krait 200/300 dari  Qualcomm, dan di sisi lain Cortex A15 justru terlalu kencang (dan boros baterai) untuk beradu dengan dua solusi dari Intel dan Qualcomm.

Seperti inilah penjelasan teknis Exynos 5 Octa. Cortex-A15 memakan area die hingga 5x dari A7 (19mm^2), dan juga membutuhkan tenaga hingga 6x dari A7. Konfigurasi big.LITTLE tersebut cocok untuk yang ingin nge-push performance, namun tidak untuk efisiensi power.

Menurut ARM, Cortex-A12 menawarkan 40% kinerja yang lebih baik dibandingka A9, bahkan pada clock speed yang sama, termasuk juga kebutuhan dayanya lebih kecil meskipun mendukung konfigurasi big.LITTLE. Sehingga Cortex-A12 bisa dipadukan dengan Cortex-A7 untuk mencapai efisiensi tenaga yang lebih baik.

ARM mengajukan prosesor ini untuk smartphones dan tablet mainstream, yang memperhitungkan kinerja dan biaya untuk memproduksi produk tersebut. Hanya saja sayangnya, ARM baru menjanjikan prosesor baru ini bisa mereka sediakan paling cepat pertengahan 2014 mendatang, dan gadget pertama yang akan menggunakannya datang sekitar akhir 2014 atau awal 2015.

Dan untuk menemani Cortex-A12, ARM pun menyiapkan GPU yang sepadan. Sejauh ini GPU kelas atas Mali-T600 baru digunakan untuk Samsung Nexus 10 saja. Bisa jadi karena harganya yang terlalu tinggi, kebanyakan vendor lebih memlih PowerVR dari Texas Instrument atau Adreno dari Qualcomm. Dua GPU yang tergabung dalam block prosesor Cortex-A12 tersebut adalah GPU Mali-T622 dan Mali V500, yang berperan sebagai block video encode/decode. Dibandingkan Mali-T600 yang memiliki 8 core, Mali-T622 ini hanya mengimplementasikan 2-shader core saja. GPU ini menjanjikan dukungan untuk OpenGL ES 3.0, DirectX 11 dan OpenCL 1.1 yang diharapkan mampu membantu menghemat penggunaan daya Cortex-A12 hingga 50%.

GPU tersebut juga mendapat sokongan dari block yang berperan untuk video encode/decode melalui Mali-V500, engine multi-core yang digunakan untuk semua kebutuhan akselerasi video, dan mendukung hingga 100Mbps High Profile H.264. Klaim ARM, block ini mampu memutar content dengan resolusi 4K pada 120 fps menggunakan V500 dengan 8-core.


SHARE
Previous articleSamsung Resmi Perkenalkan Galaxy Tab 3 8-inch dan Galaxy Tab 3 10.1-inch
Next articleGarata: Battle of Baratayudha, Game Bertemakan Wayang Dalam Bentuk Mecha!
Telah dikenal sejak satu dekade yang lalu melalui media game Ultima Nation. Saat itu artikel andalannya adalah panduan walktrough game-game RPG. Ura kemudian juga semakin dikenal lewat tulisannya yang idealis dan selalu konsisten pada satu aspek game, yaitu STORY - yang olehnya dianggap sebagai backbone sebuah game. Selain menggeluti dunia game, Ura juga penggemar gadget, dan dia memiliki hobi "ngoprek" smartphone.