E3 2013: Sony Dengan PlayStation-nya Menjadi Platform Ideal Developer Indie?

Berbeda dengan konfirmasi awal PlayStation 4 pertengahan Februari lalu, memang konferensi pers Sony selama Electronic Entertainment Expo 2013 terlihat jelas memberi tempat khusus untuk developer game indie. Beberapa yang sudah kami tuliskan sebelumnya, seperti TransistorMercenary KingsDon’t Starvedan juga remake dari Oddworld: Abe’s Oddysee original, membuktikan bahwa Sony kini memberi akses mudah bagi pengembang game yang biasa bergerak di jalur Kickstarter tersebut untuk bisa sukses di jalur non Steam.

Selama Game Developer Conference 2013, Sony mengatakan bahwa mereka ingin mempermudah para kreator indie mengembangkan game untuk platform PlayStation, dengan mengijinkan developer berlisensi untuk menerbitkan sendiri, termasuk menentukan harga dan kapan tanggal rilisnya. Bahkan Sony juga mengatakan mereka akan mengesampingkan hal-hal kecil seperti biaya patch. Sebelumnya Sony yang juga dalam upayanya meramaikan PS Vita, mereka juga mempermudah developer dengan memberikan development kit, bahkan sebelum kontrak dengan Sony berlangsung.

Selain itu, Sony juga memberikan dukungannnya untuk engine game Unity, engine populer untuk kelas developer game kecil, sehingga mempermudan mereka mem-port game untuk PlayStation. Tidak hanya itu saja, pada tahun 2011 lalu Sony juga berkomitmen mendukung dana developer kecil melalui langkah Pub Fund. Berkat langkah Sony yang lebih open tersebut, makin banyak game-game indie masuk ke PS3 dan PS Vita, bahkan sampai yang sebelumnya eksklusif Xbox seperti Limbo juga berhasil di-port untuk PlayStation.

The Witness

Hasilnya saat ini terlihat, beberapa game indie dipastikan memulai debut untuk konsol pertamanya di PS4 (timed-exclusive) sebelum hijrah ke konsol lainnya. Selain yang sudah disebutkan di atas, setidaknya ada 6 judul game indie lainnya yang siap memperkuar perpustakaan game PS4 ketika pertama kali dirilis nantinya. Mulai game puzzle The Witness dari desainer  Jonathan Blow, yang juga dikenal melalui game puzzle/platformer Braid. Bukan sekadar puzzle, karena The Witness menuntut kita mengeksplorasi sebuah pulau besar, dimana untuk membuka bagian baru pulau tersebut, kita dihadapkan pada puzzle yang harus diselesaikan terlebih dahulu. Selain dirilis lebih awal untuk PS4, game ini juga akan muncul untuk Windows dan Apple iOS.

The Witness on PlayStation 4

Octodad: Dadliest Catch

Kemudian ada Young Horses (dibentuk oleh sekelompok mahasiswa dari DePaul University, Chicago) dengan Octodad: Dadliest Catch, sebuah game aneh yang sarat dengan lelucon kasar seputar kehidupan sehari-hari, dimana kamu mengendalikan seekor gurita yang menyamar sebagai manusia. Dadliest Catch mendapatkan dana pengenbangan melalui Kickstarter dan juga lolos melalui proses Steam Greenlight. Selain untuk PS4, developer juga akan merilisnya di Windows dan Mac.

Secret Ponchos

Game shooter lainnya yang lahir dari jalur independen adalah Secret Ponchos. Game garapan Switchblade Monkeys ini mengangkat tema spaghetti western (sub-genre film yang mengangkat dunia barat, namun diproduksi secara low budget oleh studio Eropa). Sesuai dengan temanya, genre game ini adalah shooter. Kamu mengendalikan seorang penjahat yang diburu oleh hukum, dengan setting Wild West, serta opsi permainan multiplayer online. Agar bisa selamat, kamu perlu membuat karakter terkenal dengan melakukan duel dengan pemain lainnya dan meningkatkan reputasi. Makin banyak karakter yang kamu kalahkan, maka kamu bisa membuka perk point dan upgrade kemampuan karakter. Sejauh ini Secret Ponchos eksklusif PS4, namun belum dipaastikan kapan akan dirilis.

Secret Ponchos

Ray’s the Dead

Developer indie lainnya yang digandeng Sony yaitu Ragtag Studios, dengan game puzzle-action stealth dimana kamu mengendalikan sepasukan zombie Ray’s the Dead. Game tersbeut seharusnya memulai debut Kickstarter dengan rencana rilis di PC, Mac, dan Linux akhir tahun ini. Namun pendanaannya dibatalkan, dan kini mendapatkan posisi yang lebih baik berkat tawaran Sony menjadi game eksklusif PS4. Untuk gamenya, secara singkat, Ray’s The Dead akan merevisi genre zombie yang kita kenal selama ini. Kamu justru mengendalikan zombie bernama Ray yang baru saja lahir (tentu saja, sebelumnya manusia dewasa), bermain single player dalam usahanya membangun pasukan zombie, di sebuah quest untuk mencari tahu siapa yang telah membunuhnya!

Exclusive video I Ray’s the Dead on PS4

Outlast 

Selain Ragtag Studios yang dibentuk oleh para veteran video game, ada Red Barrels, yang membawa game horor Outlast untuk PS4. Seperti Ray’s the Dead, game ini sebelumnya hanya dikembangkan untuk PC saja, namun kemudian berpindah juga ke PS4 berkat langkah Sony yang makin “dekat” dengan developer independen. Red Barrels sendiri bukan nama baru, karena studio ini dibentuk oleh beberana nama dari Naughty Dog dan Ubisoft Montreal.

Di sini kamu mengendalikan seorang reporter bernama Miles Upshar, yang memutuskan untuk menyelidiki rumor penelitian ilegal yang didakan di sebuah rumah sakit jiwa. Ternyata rumor itu benar, dan kamu harus mengendalikan seorang Upshar yang tidak memiliki kemampuan bertarung ataupun membawa senjata (kecuali kameranya), dalam tampilan first-person, menjelajahi setting yang gelap, sangat seram, serta akan sering berlarian menghindari musuh — bisa disamakan dengan DreadOut nih!

Outlast – Official Trailer from Red Barrels

Galak-Z

Terakhir SOny juga menyebutkan Galak-Z, game baru dari tim developer yang bertanggung jawab atas game strategi Skulls of the Shogun (game shooter yang bisa dimainkan bersamaan untuk  Xbox 360, Windows 8, Microsoft Surface, dan Windows Phone). Detail mengenai game ini memang masih minim, namun developernya, 17-Bit dibentuk oleh para mantan developer Sega Jepang, Jake Kazdal pada tahun 2009 lalu, dengan tujuan untuk mengembangkan game dengan nuansa 16-bit.

Dari posting developer di blog PlayStation, kami bisa menyimpulkan jika game ini memadukan unsur arcade shooter klasik seperti R-Type dan Gradius, dengan diri khas tembakan peluru musuh yang bertebaran di layar, dengan shooter modern yang lebih mengedepankan taktik. Hal itu diterapkan melalui opsi seperti cover (ya, pesawatmu bisa berlindung di balik obyek), sehingga pesawat yang kamu kendalikan tidak akan terdeteksi musuh. Berkat penerapan efek physic selama permainan, pesawat yang menghantam asteroid akhirnya juga membuat batu-batu tersebut meluncur ke arah berlawanan, dan bisa saja mengenai pesawat lain untuk efek domino.

PlayStation Menjadi Platform Ideal Developer Indie?

Mungkin game independen pengaruhnya tidak sebesar game flagship seperti Halo, atau Killzone yang eksklusif di setiap platform. Namun dengan makin banyaknya developer (indie) yang ikut mendukung PS4, jelas akan memancing lebih banyak lagi masuk ke platform Sony tersebut dengan alasan kemudahan. Seperti Nintendo denga Wii U-nya, Sony tidak mengharuskan para developer independen berpartner dengan publisher besar agar gamenya bisa masuk ke PS4. Berbeda dengan Microsoft, yang melalui Xbox One, mereka melarang studio indie menerbitkan sendiri game mereka. Jelas itu menjadi kendala studio game kecil yang tidak mau ide kreatif mereka dan hak intelektual ciptaannya dikuasai publisher, hingga yang juga sensitif, keuntungan atas penjualan game mereka dibagi dengan publisher.

Atas alasan itulah, kebanyakan game indie dengan ide serta konsep game yang sangat kreatif lebih memilih jalur pendanaan crowfunding melalui Kickstarter, dan memilih memasarkan gamenya untuk Steam saja. Namun berkat penawaran Sony dengan platform PlayStation mereka yang begitu open, studio kecil merasa menemukan rumah baru yang nyaman, dan lebih memilih memasukkan gamenya untuk PS4. Xbox One memang sangat menarik bagi developer, terutama berkat batasan online untuk verifikasi data, dan juga kebijakan game bekasnya. Namun itu untuk developer yang tergabung di bawah payung publisher besar, karena pembajakan jelas akan dibatasi dan publisher mendapatkan keuntungan lebih melalui aktivitas jual beli game bekas.

Bicara game indie, berikut daftar game-game yang masuk melalui jalur independen ke perpustakaan game PlayStation, juga muncul selama E3 2013, dan mendapatkan tempat khusus di booth PlayStation.

  • 1001 Spikes (Nicalis) – PS Vita
  • Blacklight: Retribution (Zombie) – PS4
  • Contrast (Compulsion Games) – PS4, PS3
  • Deathmatch Village (Bloober Team) – PS Vita
  • Divekick (Iron Galaxy) –PS3, PS Vita
  • Dragon Fantasy Book II (Muteki) – PS Vita, PS3
  • FieldRunners 2 (Subatomic) – PS Vita
  • Floating Cloud God Saves the Pilgrims (Dakko Dakko) – PS Vita
  • Hotline Miami (Devolver Digital) – PS Vita, PS3
  • Ibb and Obb (Sparpweed) – PS3
  • Kickbeat (Zen Studios) – PS Vita
  • Limbo (Playdead) – PS Vita, PS3
  • Lone Survivor (Curve Studios) – PS Vita, PS3
  • Luftrausers (Devolver Digital) – PS Vita, PS3
  • Men’s Room Mayhem (Ripstone) – PS Vita
  • OlliOlli (Rolling Media) PS Vita, PS3
  • Pinball Arcade (Farsight) – PS4
  • Bit.Trip Presents Runner 2: Future Legend of Rhythm Alien (Gaijin Games) – PS Vita, PS3
  • Spelunky (Mossmouth) – PS Vita, PS3
  • Sportsfriends(Die Gute Fabrik) – PS3
  • Splice (Cipher Prime) – PS3
  • Stealth Inc. (Curve Studios) – PS Vita, PS3
  • Stick it to the Man (Ripstone) – PS Vita, PS3
  • Velocity Ultra (FuturLab) – PS Vita
  • Warframe (Digital Extremes) – PS4

PlayStation 4 The Promise II: Conversations with Creators


SHARE
Previous articleE3 2013: Don’t Starve Masuk PS4, Kembali Hadapi Tantangan ”Survival” di Dunia Misterius
Next articleE3 2013: The Order 1886 Menjadi IP Orisinal Baru Dari Ready at Dawn
Telah dikenal sejak satu dekade yang lalu melalui media game Ultima Nation. Saat itu artikel andalannya adalah panduan walktrough game-game RPG. Ura kemudian juga semakin dikenal lewat tulisannya yang idealis dan selalu konsisten pada satu aspek game, yaitu STORY - yang olehnya dianggap sebagai backbone sebuah game. Selain menggeluti dunia game, Ura juga penggemar gadget, dan dia memiliki hobi "ngoprek" smartphone.