PopCon Asia 2013: Profil Para Pop Star di Artist Alley! (Bagian 2)

1. Indonesia U.S Comic Collector

IUSCC adalah sebuah komunitas pecinta dan kolektor dari komik-komik yang berasal dari Amerika Serikat. Walaupun komunitas ini baru berdiri tahun 2010 yang lalu, saat ini IUSCC sudah tersebar ke beberapa kota seperti Bandung, Semarang, Surabaya serta Yogyakarta. Pada awalnya, komunitas ini berdiri hanya sebagai wadah untuk saling bertemu antar para kolektor dan saling bertukar koleksi masing-masing. Namun dalam perjalanannya, Diki, salah satu founder dari IUSCC, mengatakan bahwa konsep komunitas ini berubah. Tidak lagi hanya sebagai ajang bertukar koleksi namun juga mulai mengikuti berbagai macam event pop culture untuk mempromosikan artist lokal yang ingin mencoba go international. Tahun ini, khusus untuk event PopCon, IUSCC mengundang artist dari luar negeri untuk datang ke Indonesia. Beberapa artis yang diundang antara lain adalah harvey Tolibao dari Filipina yang merupakan artist untuk DC Comic dan Marvel, Hasmi pencipta dari karakter-karakter lakon Gundala Gawat serta Tobing Pipin, ilustrator lokal yang sudah mulai menggarap beberapa proyek untuk komik-komik di yang terbit di Amerika Serikat.

2. Tobing Pipin

Tobin Pipin adalah salah satu ilustrator yang diundang oleh IUSCC. Pipin sudah jatuh cinta dengan komik Amerika sejak dia kuliah di tahun 1990-an dan menelurkan komik dengan judul Jawara. Selesai kuliah, Pipin lebih fokus kepada penggarapan storyboard untuk advertising atau periklanan dan mengerjakan komik sebagai sebuah hobi. Selepas dari dunia advertising, sekitar tahun 2004, Pipin mulai kembali fokus ke dunia komik. Karyanya yang paling baru adalah komik Fly yang diterbitkan oleh Zenescope Comic di Amerika Serikat. Keterlibatannya di dunia komik Amerika Serikat adalah ketika ia bertemu dengan ilustrator asal Malaysia, Sheldon Goh, di ajang STGCC. Goh sebelumnya sudah terlibat dalam proyek Zenescope dan dia lah yang membukakan jalan bagi Pipin untuk mengririmkan karyanya ke editor dari Zenescope Comic.

Saat ini Pipin juga sedang mengerjakan proyek baru yang rencananya akan dirilis September tahun ini, sayangnya dia masih belum mau memberikan info karena masih rahasia. Menurutnya, prospek kerja sebagai ilustrator saat ini sangat bagus karena internet sudah memudahkan pekerjaan yang 10 tahun masih sulit dilakukan. Tidak perlu lagi repot mengirim gambar ke Amerika Serikat, para ilustrator saat ini cukup men-scan karya mereka dan mengirimkannya ke editor mereka. Pipin menambahkan, jika serius ingin menjadi ilustrator yang profesional, Pipin menyarankan untuk terus berlatih dan jangan malu-malu untuk bertanya kepada para senior. Selain itu, sebagai seorang ilustrator, hal yang paling penting lainnya adalah mematuhi deadline yang sudah diberikan oleh editor karena tidak hanya berdampak kepada si ilustrator secara pribadi namun juga dapat mempengaruhi pendapat mereka kepada ilustrator Indonesia secara general.

3. Harvey Tolibao

Harvey Tolibao adalah comic book artist asal Filipina untuk Marvel, DC Comic serta Dark Horse Comics. Harvey mulai menulis komik sejak dirinya masih kecil dan dia belajar sendiri bagaimana cara membuat komik, mulai dari storytelling, anatomi dan hal-hal lainnya. Semua dilakukan secara otodidak dan melalui proses trial and error yang cukup panjang. Menurutnya, kualitas dan kemampuan orang Asia tidak kalah jika dibandingkan dengan para komikus serta ilustrator barat. Permasalahannya dulu adalah lebih kepada komunikasi dimana pada akhir tahun 1990an dan awal 2000an, sangat sulit sekali mengirimkan portofolio ke studio-studio besar di Amerika Serikat. Gambar harus dikirim secara langsung melalui pos dan seringnya sampai terlambat atau malah hilang. Sekarang, dengan adanya internet, ilustrator sangat dipermudah dalam berkarya. Ketika ditanya mana karya miliknya yang menjadi favorit, Harvey menjawab bahwa setiap karya yang dibuatnya secara otomatis menjadi favoritnya. Seperti ketika dia diberikan proyek Star Wars dan dia sendiri bukan lah fans dari serial itu, pengalamannya yang dialaminya menjadi suatu kenangan tersendiri.

Harvey menambahkan bahwa acara seperti PopCon ini sangat penting untuk membangun ketertarikan masyarakat terhadap industri kreatif. Bagi para artist yang baru ingin terjun ke dunia kreatif pun akan mendapat banyak manfaat dari event PopCon ini. Dengan banyaknya artist dan ilustrator kelas dunia yang sedang berkumpul di satu tempat, kesempatan untuk belajar sangat banyak. Tidak hanya belajar tentang langkah-langkah untuk menjadi seorang ilustrator yang baik, para artist pemula pun dapat menunjukkan karya mereka ke para artist yang sudah terlebih dahulu berkiprah di kancah internasional. Pesan terakhir dari Harvey adalah, menurutnya, tidak ada yang namanya ‘keberuntungan’ di dunia ini. Untuk meraih kesuksesan di industri kreatif, seseorang harus terus bekerja keras dan terus menerus berlatih. Pada akhirnya, ‘kesempatan’ akan datang dengan sendiri kepada kita.


SHARE
Previous articleThe Wreck of Us, Wreck-It Ralph Versi The Last of Us
Next articleFilm Animasi Battle of Surabaya Rilis Teaser Trailer Perdana!
Liverpudlian | Airplane enthusiast | History lover | Science minded | Hardcore gamer | Warmonger. Lulus dari STP Sahid pada tahun 2012, sempat bekerja di Club Med Resort selama 6 bulan pada tahun 2012 sebagai bagian dari program internship kampus. Bekerja di departemen MICE (Meeting, Incentives, Conferences and Exibitions). Aktif di WWF-Indonesia sejak 2010 sebagai volunteer untuk kampanye Earth Hour dan menjadi tim inti Earth Hour Jakarta pada tahun 2013. Saat ini aktif sebagai staff perlengkapan di Look Around Indonesia, sebuah NGO yang memfokuskan diri di bidang sosial terutama anak muda.