Review Pacific Rim: Kembalinya Kejayaan Mecha!

Banyak orang yang menunggu kedatangan para Jaeger dan Kaiju dari film Pacific Rim garapan Del Toro bulan ini. Beberapa orang, termasuk saya, bahkan sudah menunggu hampir setahun. Dengan begitu banyaknya viral video, trailer serta featurette yang dirilis oleh Del Toro, tidak lah mengherankan jika sebagian orang khawatir bahwa keseluruhan film sebenarnya sudah diperlihatkan di cuplikan-cuplikan tersebut. Setelah menonton premiere perdana Pacific Rim saya menyimpulkan bahwa ketakutan tersebut sangat tidak beralasan. Del Toro sangat cerdik dalam membangun hype melalui berbagai video tersebut yang ternyata hanya sebagian kecil dari keseluruhan film.

10 menit pertama langsung dimulai dengan pertempuran brutal antara Jaeger melawan Kaiju dengan codename ‘Knifehead’ di lepas pantai Alaska. Pada adegan awal ini penonton langsung disuguhi dengan efek yang sangat ciamik, terutama efek cuaca yang digambarkan sedang dalam kondisi badai besar. Disinilah letak kejeniusan Del Toro, saya yakin banyak diantara kalian yang sudah melihat adegan-adegan 10 menit pertama ini di trailer namun jangan salah, begitu pertempuran usai kamu pasti akan terkejut. Sebuah surprise sudah disiapkan oleh Del Toro untuk kita semua.

Cerita bergulir dengan cepat ketika tokoh utama kita Raleigh Becket (Charlie Hunnam) kembali dipanggil ke Hong Kong Shatterdome untuk menjadi Ranger (sebutan bagi pilot Jaeger) setelah pensiun selama 5 tahun akibat kejadian tragis di Anchorage Shatterdome. Di bagian ini penonton akan diperkenalkan dengan beberapa karakter penting seperti Mako Mori (Rinko Kikuchi), duo peneliti Dr. Newton Geizler (Charlie Day) serta Dr. Hermann Gottlieb (Burn Gorman) serta beberapa pilot Jaeger lainnya. Dengan berbagai macam keindahan efek visual yang ditampilkan oleh Jaeger dan Kaiju, terkadang kita sering lupa bahwa di dalam tubuh robot raksasa tersebut ada 2 manusia yang harus berhadapan dengan maut ketika melawan Kaiju. Drama yang terbentuk antar karakter tidak terlalu terasa namun saya dapat memahaminya. Semua karakter di film ini, termasuk Marshall Stacker Pentecost (Idris Elba) adalah individu yang sudah lelah dengan peperangan bertahun-tahun dengan Kaiju. Dengan tekanan yang begitu besar, tidak mengherankan jika mereka tidak banyak mengeluarkan emosi terhadap karakter lainnya karena tentu membiarkan emosi bermain di dalam suasana perang adalah suatu kesalahan fatal, seperti yang kemudian akan diperlihatkan oleh Mako Mori ketika pertama kali berduet dengan Becket.

Mako Mori sendiri adalah karakter yang unik. Sebagai seorang Ranger yang selalu mendapatkan nilai sempurna di dalam simulasi, dia tetaplah seorang Ranger pemula. Hubungannya dengan Becket cenderung seperti ‘love relationship’ namun tanpa ada kesan ‘intimate’ di dalamnya. Tidak ada percakapan yang menyatakan bahwa salah satu dari mereka ‘tertarik’ satu dengan yang lainnya namun penonton dapat merasakan hal tersebut. Sekali lagi, baik Mori dan Becket sama-sama memiliki masa lalu yang kelam. Becket lebih profesional dalam menekan memori tersebut namun lain halnya dengan Mori. Ketika pikiran mereka terhubung untuk pertama kalinya, itu lah saat yang tepat untuk mendorong rasa percaya di antara kedua orang ini. Keintiman yang dapat dirasakan dari Mori dan Becket bukanlah dari segi fisik namun lebih dari segi emosi dan ini merupakan aspek yang sangat menarik dari Pacific Rim. Terlebih lagi karena semua karakter tampaknya ‘menekan’ emosi yang mereka miliki, bahkan diantara ayah dan anak, Herc dan Chuck Hansen, Ranger dari Jaeger Stryker Eureka.

Ada beberapa komentar yang mengatakan bahwa pengambilan gambar ketika adegan pertempuran sedikit memusingkan serta terlalu cepat karena di zoom terlalu dekat. Menurut saya pribadi, hal ini justru merupakan salah satu keunggulan dari film Pacific Rim, kenapa? Karena dengan zoom-ing yang sangat dekat, penonton dapat dengan jelas melihat detil dari setiap Jaeger serta Kaiju. Begitu detilnya kamu dapat melihat pergerakan piston serta berbagai macam mekanisme yang ada di setiap sendi Jaeger dengan jelas. Bahkan jika kamu teliti, kamu dapat melihat uap keluar dari bagian ‘joint’ para Jaeger. Hal ini juga lah yang menurut saya menyebabkan Del Toro hanya menghadirkan 4 Jaeger utama saja, walaupun beberapa Jaeger muncul dalam TV spot seperti Tacit Ronin serta Romeo Blue. Saya rasa hal ini dilakukan agar dapat menghadirkan Jaeger sedetail mungkin, semakin banyak Jaeger yang tampil tentu akan membuat waktu pengerjaan semakin lama.

Jika kamu menantikan kehancuran total dalam film Pacific Rim, kamu akan mendapatkannya. Namun jika kamu mengharapkan banyak korban bergelimpangan di jalan-jalan yang hancur, mungkin kamu akan sedikit kecewa. Del Toro, yang mengklaim dirinya menganut paham pacifism dan anti perang, tidak menginginkan film ini membuat perang menjadi sesuatu yang ‘keren’. Oleh karena itu lah dia menciptakan Kaiju Emergency Alert System sehingga kota-kota yang terancam dapat mempersiapkan diri dan mengungsikan penduduknya. Oleh karena itu juga saya rasa kenapa sama sekali tidak ada kemunculan pasukan angkatan bersenjata ketika para Kaiju muncul.

Moral yang bisa didapatkan dari film ini menurut saya adalah masalah kepercayaan kepada orang lain. Tidak semua orang cocok dengan kepribadian kita namun ada saatnya kita harus menyingkirkan segala macam perbedaan dan bekerja sama. Pacific Rim adalah sebuah film yang luar biasa. Film ini dapat membangkitkan kembali jiwa dan imajinasi anak-anak setiap orang. Mendengar tepuk tangan dan teriakan kagum lebih dari sekali di dalam studio bioskop sudah cukup memperlihatkan kepada saya bahwa film ini menghibur semua orang. Bingung harus menonton versi IMAX atau 2D-nya saja? Tonton lah dua-duanya karena saya pun akan kembali nonton untuk kedua kalinya. Satu pesan saya ketika kalian ingin menonton film Pacific Rim, kembali lah menjadi seorang anak kecil dan kagumi lah mecha raksasa di hadapan kalian. 


SHARE
Previous articleDebut Trailer Resmi Eiyuu Densetsu: Sen no Kiseki, Hadirkan Karakter Baru!
Next articleNgabuburit Ramadhan Senja: Event Bagi Para Pembalap Di Crazy Kart 2 Dari Lyto!
Liverpudlian | Airplane enthusiast | History lover | Science minded | Hardcore gamer | Warmonger. Lulus dari STP Sahid pada tahun 2012, sempat bekerja di Club Med Resort selama 6 bulan pada tahun 2012 sebagai bagian dari program internship kampus. Bekerja di departemen MICE (Meeting, Incentives, Conferences and Exibitions). Aktif di WWF-Indonesia sejak 2010 sebagai volunteer untuk kampanye Earth Hour dan menjadi tim inti Earth Hour Jakarta pada tahun 2013. Saat ini aktif sebagai staff perlengkapan di Look Around Indonesia, sebuah NGO yang memfokuskan diri di bidang sosial terutama anak muda.