Phoenix Wright: Ace Attorney Dual Destinies Menjadi 1 Dari 12 Game yang Diganjar Rating “M”

Setelah sebelumnya kita dikejutkan dengan kabar jika Phoenix Wright: Ace Attorney – Dual Destinies hanya muncul sebagai game digital di Barat, kali ini ada kabar baru yang tak kalah seru. Game tersebut akan menjadi Phoenix Wright pertama yang ditranslasikan dan mendapat status sebagai game dewasa, alias dengan rating M.

Phoenix Wright sebelumnya tidak ada yang berating M

Capcom sendiri yang mengungkapkan jika Dual Destinies telah diganjar rating “M” untuk Mature/Dewasa oleh badan rating ESRB (hanya boleh dimainkan gamer berusia 17 tahun ke atas), dan membuatnya menjadi game pertama di tengah serial ini yang mendapat rating tersebut. Alasannya adalah karena banyak kasus kejahatan yang diajukan di tengah ceritanya. Selain itu, baru seri ini saja yang mendapatkan rating “C” di Jepang, atau hanya ditujukan oleh gamer berusia 15 tahun ke atas. Sedangkan di Eropa, yang boleh menjamahnya hanya mereka yang usianya minimal 16 tahun. Di semua region, rating game ini meningkat. Ada apa gerangan?

Agak menggherankan memang, karena seri sebelumnya juga penuh dengan unsur kejahatan serta pembunuhan, karena memang itulah salah satu bagian dunia yang digeluti seorang pengacara. Menurut penulis pribadi, bisa jadi karena dirilis untuk 3DS, dan grafisnya pun kini lebih 3D, bukan sekadar pixel 2D yang abstrak, sehingga apa yang ditampilkan pada layar bisa terlihat lebih realistis dan suggestive.

Selain Dual Destinies, sejauh ini diantatra lebih dari 1300 game yang sudah tersedia untuk DS sejak dirilis tahun 2004, dan diantara game tersebut yang hanya 11 saja yang mendapat label Mature. Sedangkan untuk 3DS yang baru dirilis 2 tahun lalu, termasuk Dual Destinies, sudah ada 12 game Mature yang dirilis untuk handheld tersebut (termasuk yang paling dekat dirilis Maret lalu, Castlevania: Lords of Shadow – Mirror of Fate).

Awalnya kemunculan Dual Destinies sangat dinantikan oleh penggemar game ini, apalagi di Barat. Karena sudah lima tahun sejak penampilan terakhir Phoenix Wright melalui Trials and Tribulation. Itu sebelum keputusan rating M ini muncul. Semoga saja tidak mengendurkan pengharapan para penggemar serial Ace Attorney ini di Barat.

Seperti yang sudah kami jelaskan dalam artikel sebelumnya, Dual Destinies menandai kembalinya sang pengacara kita Phoenix Wright sebagai protagonis serial ini, sejak perannya dalam trilogi awal digantikan oleh Apollo Justice. Setting diambil setahun pasca Apollo Justice: Ace Attorney, dan Apollo berhasil membersihkan nama Wright setelah sebelumnya ijin kerjanya dicabut, sehingga dia kini bisa bertugas kembali. Di sini, Wright ditemani asisten baru, Athena Cykes, pengacara muda yang memikili keahlian khusus dalam analisa psikologi. Selain itu, Apollo pun juga bisa kamu kendalikan di tengah permainan, selain kemunculan beberapa figur lama seperti Miles Edgeworth,  Trucy Wright (putri adopsi Phoenix), Pearl Fey (mantan atasan Pheonix) dan juga yang pertengahan Juni lalu dikonfirmasikan, Klavier Gavin. Yup, jika Apollo ada di sini, tidak mungkin rivalnya ketinggalan. Mantan gitaris band rock kembali akan melawan Apollo sebagai jaksa dalam salah satu kasus.

Selama E3 2013 lalu Capcom juga mendemokan game ini, dan memperlihatkan bagaimana perkembangan game ini dibandingkan sebelumnya. Overall nuansanya sama dengan Ace Attorneys sebelumnya, kecuali ada perbedaan utama, grafis 3D. Semua artwork 2D yang sebelumnya kita kenal dari serial ini digantikan poligon 3D (termasuk juga background dimana keseluruhan event game berlangsung), sehingga meskipun penampilan mereka sama seperti game-game sebelumnya, penggunaan grafis 3D membuatnya lebih realistis. Diterapkannya grafis 3D tersebut juga membuat suasana sidang menjadi lebih dramatis, apalagi ketika sudut pandang kamera tidak dibuat statis, namun bergerak menyorot apa yang membuat drama di ruang sidang menjadi lebih menegangkan.

Apalagi ketika Cykes, asisten baru Wright muncul menunjukkan kemampuannya, yaitu melihat emosi para saksi yang berada di tengah ruangan sidang. Sistem Emotion tersebut diterapkan ketika Wright mendengar testimony saksi, dan berusaha menemukan ketidaksesuaian dengan bukti yang ada, sedangkan Cykes berusaha melihat apakah orang yang saat ini berdiri di depannya ini menyimpan informasi penting yang sengaja disembunyikan, entah itu karena gugup. Sistem ini pun diperlihatkan melalui interface khusus dengan empat ikon di setiap sisi layar yaitu Mood Matrix, yang menandakan respon emosional para saksi ketika mereka mengungkapkan testimony. Kuncinya adalah untuk mencari tahu, apakah apa yang dikatakan saksi cocok dengan yang digambarkan Mood Matrix. Misalnya, ketika mereka bercerita sesuatu yang menyenangkan, harusnya muncul ikon wajah yang tersenyum. Namun jika yang muncul wajah sedih, maka itu menjadi petunjuk jika ada sesuatu yang ditutupi.

Oh ya, berikut trailer terbarunya yang dirilis Capcom selama Comic Con, plus beberapa screenshot terbarunya. Versi Jepang game ini akan dirilis 25 Juli besok, dan tersedia juga dalam versi retail. Sedangkan untuk versi translasinya, sayangnya sejauh ini masih tersedia secara digital saja.

Phoenix Wright: Ace Attorney — Dual Destinies Blackquill gameplay SDCC

Phoenix Wright: Ace Attorney — Dual Destinies Gameplay Comicon (Spoiler Free)

Ace Attorney: Dual Destinies – Investigation gameplay

[nggallery id=686]


SHARE
Previous articleSDCC 2013: Ratusan Foto dari Ajang San Diego Comic Con 2013
Next articleSDCC 2013: Poster dan Concept Art Godzilla
Telah dikenal sejak satu dekade yang lalu melalui media game Ultima Nation. Saat itu artikel andalannya adalah panduan walktrough game-game RPG. Ura kemudian juga semakin dikenal lewat tulisannya yang idealis dan selalu konsisten pada satu aspek game, yaitu STORY - yang olehnya dianggap sebagai backbone sebuah game. Selain menggeluti dunia game, Ura juga penggemar gadget, dan dia memiliki hobi "ngoprek" smartphone.