Review The Conjuring: Horror Yang Sangat ‘Mengganggu’

Annabelle Doll

The Conjuring. Sebuah film yang mampu membuat para orang dewasa menjerit-jerit seperti anak kecil di dalam bioskop. Selama hampir 2 jam penonton akan disuguhi terror yang tidak ada habisnya dari sebuah entitas jahat yang bahkan mampu membuat paranormal investigator kawakan seperti Ed dan Lorraine Warren panik dan histeris. Ya, memang The Conjuring ini diadaptasi dari kisah nyata dan sosok Ed serta Lorraine Warren pun memang betul-betul ada. Hal ini juga yang, setidaknya untuk saya, menambah unsur kengerian dari The Conjuring. Kenapa? Karena kita dihadapkan pada fakta bahwa semua kejadian di dalam film ini benar-benar pernah terjadi.

Di bagian cerita sendiri menurut saya sebenarnya cukup klise, sebuah keluarga dengan 5 anak perempuan baru saja pindah ke rumah impian mereka. Namun sayang, tanpa perlu menunggu hitungan hari, kejadian-kejadian aneh mulai terjadi di sekitar rumah tersebut. Berbagai kejadian mulai dari sekedar pintu yang membuka dan menutup sendiri hingga munculnya penampakan yang menyerang salah satu putri pasangan Carolyn dan Roger Perron. James Wan sangat cerdik dalam memainkan psikologis penonton, momen-momen klise dimana biasanya penonton mengharapkan sesuatu yang mengagetkan muncul ternyata tidak terjadi apa-apa. Kemudian di saat penonton baru akan bernafas lega, BAM! Datanglah momen tersebut. Terdengar klise? Tidak jika momen yang dihadirkan berbeda dari film-film horror lainnya.

Sallah satu momen paling ‘mengesalkan’

Salah satu momen klise yang paling umum adalah dimana tokoh dalam film sedang bercermin dan muncul penampakan di cermin tersebut namun ketika sang tokoh menoleh, makhluk halusnya pun menghilang. Nah di film ini cukup banyak momen seperti itu…. tanpa ada penampakan apa pun. James Wan seperti ingin ‘mengejek’ pengambilan scene horror yang sudah terlalu umum tersebut. Dengan budget hanya 20 juta USD, film ini sangat cantik. Tone yang digunakan membuat The Conjuring terlihat klasik, seakan-akan kita dibawa kembali ke tahun 1960-an namun tidak terlihat cheesy dan pasaran.

Pasangan Warren sendiri adalah pasangan yang sangat solid. Ed sebagai mantan polisi memiliki kemampuan analisis dan deduksi yang lumayan tinggi, sementara Lorraine dengan kemampuan psychic-nya mampu merasakan dan melihat entitas jahat yang menaungi rumah tersebut. Sangat menarik bagaimana pendekatan yang sebenarnya sangat bertolak belakang, antara scientific approach dengan psychic approach, dapat dilakukan secara mulus dan bersamaan.

Sedikit kekurangan di The Conjuring adalah ketika duo Warren menemukan penjelasan dari semua aktifitas paranormal yang terjadi di rumah keluarga Perron. Informasi yang disampaikan cukup banyak namun diberikan dengan cepat tanpa ada penekanan yang berarti, sehingga jika penonton tidak terlalu memperhatikannya maka kemungkinan besar mereka akan bertanya-tanya mengenai keseluruhan cerita dari The Conjuring.

Secara keseluruhan, The Conjuring adalah sebuah film horror yang komplit. Ada momen menakutkan karena setan muncul dalam bentuk yang menyeramkan dan mengagetkan serta ada juga momen dimana sang entitas hanya menunjukkan kekuatannya tanpa penampakan, yang memberikan efek terror pada penonton. Lebih jauh lagi, The Conjuring membawakan horror dari sudut pandang klasik, disturbing feeling yang didapat sama ketika saya pertama kali menonton The Exorcist. Lupakan semua momen horror klise yang kalian tahu, karena kalian pasti akan tetap menjerit di dalam studio. Pujian harus diberikan kepada James Wan yang mampu menghadirkan horror yang menyeramkan tanpa efek gore dan darah. The Conjuring is a must watch movie for all horror freak out there!


SHARE
Previous articleSDCC 2013: Thanos Akan Muncul di Guardians of the Galaxy!
Next articleAtlus Konfirmasikan Tanggal Rilis Persona 3: The Movie #1: Spring of Rebirth
Liverpudlian | Airplane enthusiast | History lover | Science minded | Hardcore gamer | Warmonger. Lulus dari STP Sahid pada tahun 2012, sempat bekerja di Club Med Resort selama 6 bulan pada tahun 2012 sebagai bagian dari program internship kampus. Bekerja di departemen MICE (Meeting, Incentives, Conferences and Exibitions). Aktif di WWF-Indonesia sejak 2010 sebagai volunteer untuk kampanye Earth Hour dan menjadi tim inti Earth Hour Jakarta pada tahun 2013. Saat ini aktif sebagai staff perlengkapan di Look Around Indonesia, sebuah NGO yang memfokuskan diri di bidang sosial terutama anak muda.