Oh, Square Enix. Mau kau bawa ke mana Final Fantasy?

Hironobu Sakaguchi, kreator Final Fantasy

Saya patah hati. Perasaan saya tak karuan ketika menulis artikel ini. Bagaimana tidak, Final Fantasy adalah IP kesukaan saya, di mana saya tumbuh dan berkembang bersamanya. Edisi perdana majalah game Indonesia pertama, yaitu Game Master, yang saya bidani, memajang cover Final Fantasy VII. Ini bukti kecintaan saya kepada judul pamungkas Square (dulu belum bergabung dengan Enix). Dengan berat hati, saya harus deklarasikan… Final Fantasy sudah mati!

Ini mungkin bukan hal baru. Bagi banyak orang, Final Fantasy sudah berakhir sejak Hironobu Sakaguchi, Yoshitaka Amano, dan Nobuo Uematsu (tiga pilar pencipta Final Fantasy) meninggalkan Square, paska merger dengan Enix. Kalau kita lihat ke belakang, Final Fantasy terbaik sebelum ini adalah seri ke XII, yang dipimpin oleh Yasumi Matsuno, kreator Ivalice, game Ogre Battle dan Final Fantasy: Tactics. Sebelum itu, ada seri IX, yang masih terasa aura klasiknya karena ditangani oleh sang tiga pilar. Sebelumnya lagi ada seri VII, buah karya Tetsuya Nomura, pencipta Kingdom Hearts, yang begitu fenomenal dan digadang-gadang sebagai cikal bakal Final Fantasy modern. Tapi bagi gamer generasi 80-an, atau sebelumnya, Final Fantasy terbaik adalah seri IV, V, dan seri favorit saya, yaitu VI.

Final Fantasy X tidak jelek. Namun sekuelnya, X-2, sangat mengejutkan. Bagaimana Square Enix memaksakan karakter wanita saja yang playable, didandani dengan pakaian yang seronok, dan menjadikan mereka bintang J-pop. Come on, ini kita bicara tentang Yuna, summoner yang sangat anggun di prekuelnya!

Serupa dengan Yuna dan Final Fantasy X, berikut adalah cuplikan seri tanya jawab di undangan Play Community tanggal 27 Juli, oleh Nobuhiro Goto dan Motomu Toriyama, pengembang Lightning Returns: Final Fantasy XIII:

Tanya: Apakah ukuran dada Lightning berubah dari C cup ke D cup?

Goto: Nah, Toriyama-san mengatakan ia ingin dadanya lebih besar, jadi…

Toriyama: Hei, jangan mencoba untuk lari dari tanggung jawab! (tertawa)

Goto: (tertawa) Ya, kami membuatnya lebih besar.

Tanya: Apakah payudara Lightning bisa bergoyang-goyang kali ini?

Goto: Ya!

Toriyama: Itu tergantung dari pakaiannya.

What a twisted-guy you are, Toriyama-san…

Lebih lengkap tentang interview di event itu, silakan baca artikel berikut (warning bagi yang punya fetish ketiak, errr).

Lebih lanjut tentang hal ini, Dengeki Online menyebutkan kalau pemain dapat mengubah kostum dan senjata Lighting UNTUK mengatur durasi dan goyangan dadanya. Kalau ingin view yang lebih baik untuk dada Lightning, pemain disarankan untuk meng-equip shield yang lebih kecil. WTF?!

Wajah baru Final Fantasy. Eh, kamu lihat wajahnya, kan?

Oh, Square Enix. What’s wrong with you? Seingatku dulu, di masa jayanya, Final Fantasy adalah game tentang petualangan, kisah epik, mengaduk-aduk emosi, dengan karakter-karakter yang menarik. Kenapa sekarang jadi ajang fanservice begini? Jangan salah, saya juga doyan fanservice. Tapi ini Final Fantasy, bukan Dead or Alive.

Ini hal yang sangat serius dan sudah waktunya untuk kita diskusikan. Square Enix bukan lagi primadona di generasi ini, sementara konsol generasi baru akan segera datang. Masa depan mereka bergantung pada XIV: A Realm Reborn dan XV (plus Kingdom Hearts III, tapi kita simpan itu untuk diskusi lain waktu). IP ini sukses sejak lama. Tentunya kita semua akan kehilangan jika Square Enix jatuh karena salah memposisikan Final Fantasy. Mari kita bedah Final Fantasy terbaru mereka.

Fabula Nova Crystalis alias “The XIII Compilation” alias “The Lightning Saga” adalah representasi Final Fantasy tunggal untuk generasi ini (PlayStation3 dan Xbox 360). Bagi saya ini menyedihkan, karena Final Fantasy XIII terasa sangat sia-sia. Investasi raksasa dan proses pengembangan yang begitu lama bagi developer Jepang, inovasi yang misdirection (menjadikan XIII sebagai game RPG, tanpa kota, tanpa mata uang), lore/cerita yang kurang mengena, karakter-karakter yang kurang disukai (khususnya di luar Jepang), dan dua sekuel yang tidak diperlukan (bahkan salah satunya, Lightning Returns, mungkin akan menjadi game nextgen).

Lebih parah lagi, game ini tidak hit. Dari data terakhir, XIII terjual sebanyak 6.9 juta kopi di seluruh dunia. Sementara itu, sekuelnya, XIII-2 hanya terjual 2.86 juta kopi total. Ini menunjukkan kalau dunia tidak antusias dengan sekuelnya. Coba bandingan dengan angka penjualan VII yang mencapai 9.8 juta kopi, lalu VIII dengan 8.15 juta kopi, IX dengan 5.30 juta kopi, X dengan 6.6 juta kopi, X-2 dengan 3 juta kopi, dan XII dengan 5.2 juta kopi. Kita lihat dari angka penjualan itu jelas ini mengindikasikan kalau antusias gamer terhadap Final Fantasy terus merosot.

Final Fantasy XIV. Ini juga kisah yang tak bisa dibanggakan. Square Enix mungkin tak akan mengakui, namun yang pasti XIV telah menjadi ‘money pit’ yang begitu merugikan mereka.  Dirilis pertama kali di bulan September 2010, XIV mendapat banyak sekali review negatif. Square Enix terpaksa menutup server XIV setahun kemudian. Bagaimana mungkin? Padahal Final Fantasy XI, MMORPG pertama mereka terbilang sukses, khususnya di Asia.

Square Enix tidak membunuh MMORPG keduanya ini. Mereka merombak ulang tim internal dan makin tenggelam dalam development cost XIV. Bulan Agustus kemarin, mereka merilis Final Fantasy XIV: A Realm Reborn. Sejauh ini reviewnya cukup positif. Namun saya yakin langkah mulligan ini sulit untuk menjadi profit center. Apalagi mengingat trend MMORPG dunia yang menurun.

Final Fantasy XV saat ini tengah disiapkan untuk konsol generasi baru. Meski kelihatan menjanjikan, apalagi dengan ditangani oleh Tetsuya Nomura, yang sukses menghadirkan Kingdom Hearts dan Dissidia, game ini punya sejarah panjang yang pahit. Sebelum kita mengenalnya sebagai XV, game ini adalah bagian dari Fabula Nova Crystalis, dengan judul Versus XIII. Dikenalkan pertama kali di tahun 2006 bersama dengan XIII Agito (yang akhirnya dirilis dengan judul Final Fantasy Type-0). Proses pengembangan yang selama itu (tujuh tahun) tentu saja tidak murah, bahkan mungkin berdarah-darah.

Tetsuya Nomura mencoba membuat XV lebih modern. Battle system turn-based khas Final Fantasy dibuang, digantikan oleh action RPG ala Kingdom Hearts. Meski banyak yang kecewa, namun saya melihat hal itu cukup baik. Toh, Kingdom Hearts sudah teruji disukai.  Bagi saya, yang mengkhawatirkan adalah apabila game ini masih berkaitan dengan lore Fabula Nova Crystalis, yang kurang populer di kalangan gamer. Jika ingin lebih diterima, ada baiknya Square Enix membuang jauh-jauh aspek cerita XIII sebagai landasan game ini. Itu juga agar entry-barrier-nya lebih mudah.

Cross promotion Lightning Returns dan A Realm Reborn

Selain generasi baru, Square Enix juga sibuk meremake (dengan slogan HD Remaster). Judul pertama yang mereka pilih adalah X dan X-2. Dua game ini dipaket jadi satu untuk PlayStation3, dan dijual terpisah untuk PS Vita. Saya cukup optimis dengan langkah ini. Banyak gamer muda yang belum pernah mencoba seri ini, sementara gamer tua (termasuk saya) juga ingin memainkannya lagi. Square Enix juga bermurah hati menghadirkan versi International, yang dulu hanya dirilis di region Jepang. Tentunya ada beberapa tambahan konten menarik di versi International ini.

Jka X dan X-2 HD Remaster sukses (dan itu pasti sukses), saya rasa Square Enix juga akan melanjutkan langkah ini dengan seri XII. Game yang mengambil setting di Ivalice ini sebetulnya sangat bagus. Secara konsep, game ini sudah jauh lebih maju. Sayang, karena dirilis di PlayStation2, performanya tidak maksimal. Gameplay XII setaraf dengan RPG modern, seperti Dragon’s Dogma atau Dragon Age: Origins. Versi International-nya (berjudul Zodiac Job System) juga tidak pernah dirilis dalam bahasa Inggris (berbeda dengan X, yang versi Asia-nya tampil dengan opsi teks/subtitle Inggris).

Zodiac Job System di FFXII

Lalu setelah X, X-2, dan XII, game apa yang harus di-HD Remaster-kan oleh Square Enix? Jawabannya adalah …

Come on, Square Enix. That will be easy $$$ for you! Pasti banyak yang mengharapkan FFVII dan VIII dengan remake seperti ini.

Oh ya, jangan lupakan juga Final Fantasy untuk platform mobile. Selain port III dan IV DS untuk iOS dan Android, juga ada Final Fantasy eksklusif di iOS (dan segera untuk Android). Namanya adalah Final Fantasy: All The Bravest. Dikembangkan oleh BitGroove dengan cara yang paling rendah untuk mengeruk profit. All The Bravest tidak memiliki cerita, gameplay yang begitu dangkal, tak ada kustomisasi karakter, daur ulang aset-aset lama, dan dibandrol dengan harga yang sangat bombastis. Biasanya game freemium itu gratis (free + premium), namun Square Enix membandrol All The Bravest ini seharga $3.99, dan memasukkan microtransaction habis-habisan di dalamnya. Microtransaction ini meliputi $0.99 untuk ‘respawn’ karakter, $0.99 untuk membeli hero premium… secara RANDOM!!, hingga $3.99 untuk membeli quest khusus. Total yang harus dikeluarkan bisa lebih dari $50. Ini game mobile, lho. Yang re-using sprite/aset yang sudah berusia belasan tahun. Ini bagai tendangan keras ke arah selangkangan! Berbagai media game memberikan review rendah atas ketamakan Square Enix dan game yang tak tahu malu ini.

Dengan begitu banyaknya review negatif, mengapa game ini masih masuk ke dalam daftar top iTunes App Store? Jawabannya adalah nostalgia! Square Enix mengeksploitasi sifat sentimentil gamer dengan menghadirkan karakter-karakter Final Fantasy klasik yang kita cintai, melawan musuh-musuh, bahkan boss (lihat, ada Kefka juga di trailer atas!), di area-area yang familiar, diiringi musik yang begitu memorable. Total ada 35 karakter premium yang disediakan, mulai dari karakter klasik seperti Rydia, Terra, dan Setzer, sampai karakter modern yang dibuatkan sprite klasik, macam Cloud, Tifa, dan Zidane, juga para maskot seperti Chocobo dan Moogle. Untuk stage premium, ada Zanarkand, Midgar and Archylte Steppe. Lihat, gamer masih begitu mencintai Final Fantasy. Mereka bahkan rela membayar mahal untuk game semacam ini. Dan sepertinya, game-game mobile semacam inilah yang menjadi cash-cow Square Enix saat ini. Mereka juga tengah menyiapkan Final Fantasy Tactics mobile, yang sepertinya akan mengulangi resep All The Bravest.

All The Worst?

Tapi perlu diingat: cash cows don’t last forever. Angka penjualan game Final Fantasy yang terus anjlok seharusnya sudah bisa menjadi indikasi. Pada poin ini, sepertinya sulit sekali bagi Square Enix untuk mengembalikan Final Fantasy ke masa kejayaannya. Apalagi ketika IP ini ditangani oleh orang-orang kreatif yang lebih memikirkan tentang ‘payudara’ ketimbang storyline dan gameplay.

Jadi menurutmu, apa yang seharusnya dilakukan oleh Square Enix?

Game yang paling terasa ‘Final Fantasy’ di generasi ini

SHARE
Previous articleArmie Hammer Tak tertarik Perankan Batman di Sekuel Man of Steel
Next articleSiapkan Senjatamu! Dragon’s Crown Terjual Lebih dari 300k Unit!
Mengawali karier menulisnya pada tahun 1997 sebagai kontributor rubrik game majalah Mentari Putera Harapan. Namanya mulai dikenal setelah dia turut membidani lahirnya majalah game pertama di Indonesia, Game Master. Begitu banyak majalah yang lahir dari buah pemikirannya. Sebut saja Game Master, 3D Magazine, Ultima Nation, hingga Zigma dan Omega. Tidak hanya dikenal sebagai jurnalis dan konseptor, GrandC juga seorang penulis cerita. Saat ini dia banyak disibukkan dengan pengembangan Vandaria, dunia fiksi ciptaannya.