Review Elysium: Pertempuran Klasik Antara Kaum Kaya Dengan Kaum Miskin!

Selasa, 13 Agustus 2013 kemarin, bertempat di studio XXI EX Jakarta Pusat, Duniaku kembali berkesempatan untuk menghadiri media screening dari film terbaru Matt Damon dan Jodie Foster, Elysium. Selain karena saya adalah seorang penggemar genre science fiction, saya juga juga tertarik dengan tema Elysium dimana di masa mendatang, kesenjangan sosial antara kaum kaya dan miskin menjadi begitu besar dan menciptakan sebuah lingkungan hidup yang sangat berbeda antara dua kelas tersebut.

Cerita dimulai dengan memperlihatkan kehidupan sehari-hari sang karakter utama, Max, yang diperankan oleh Matt Damon di Bumi yang sudah sekarat. Orang-orang yang secara finansial sangat kaya sudah meninggalkan Bumi yang udara beracun dan tinggal di Elysium, sebuah satelit raksasa di orbit Bumi, lengkap dengan ekosistem hijau seperti yang dapat kita temukan saat ini. Max sendiri adalah karakter yang unik. Sebagai seorang mantan penjahat, dia mencoba hidup normal dengan bekerja secara jujur di sebuah pabrik robot. Namun Max tetap seorang pribadi yang cenderung anti sosial dan tidak terlalu peduli dengan lingkungan sekitarnya.

Jalannya cerita di setengah durasi pertama cenderung draggy dan berusaha memperlihatkan pikiran Max yang tidak stabil karena secara terus menerus diperlakukan kasar oleh lingkungan, baik oleh polisi, atasan dan bahkan teman-temannya. Semua berubah ketika Max secara tidak sengaja terkena radiasi dan hanya memiliki sisa waktu 5 hari untuk hidup. Satu-satunya kesempatan untuk hidup adalah dengan pergi ke Elysium dan menggunakan mesin yang pada dasarnya dapat menyembuhkan segala macam penyakit.

Untuk pergi ke Elysium sendiri tidak mudah karena penghuni Bumi tidak diperbolehkan untuk  pergi ke Elysium. Dimulai dari sini, alur film berjalan semakin cepat. Aksi baku hantam yang sudah pasti kita nantikan pun semuanya ada di paruh akhir film ini. Yang cukup membuat saya terkejut adalah ada cukup banyak adegan perkelahian yang sangat brutal. Setiap perkelahian antara Max dan Krueger, seorang tentara bayaran yang dikirim untuk membunuhnya, sangat lah intense dan menegangkan.

Yang patut diacungi jempol selanjutnya adalah peran Delacourt, menteri pertahanan Elysium yang diperankan dengan sangat apik oleh Jodie Foster. Delacourt untuk saya adalah seorang karakter yang dingin dan menyeramkan. Menyeramkan karena dia adalah seorang wanita yang memiliki kekuasaan besar atas pasukan keamanan Elysium. Tidak hanya itu, dia juga sangat kejam dan tidak peduli dengan hilangnya nyawa manusia asalkan keinginannya tercapai.

Kekurangan dari Elysium adalah terlalu banyaknya karakter yang tidak tergarap dengan sempurna. Sebagai contoh, Spider, tokoh gembong penjahat yang membantu Max pergi ke Elysium dengan harapan dapat meraup untung jutaan dollar dari mencuri data penduduk Elysium, tiba-tiba berubah menjadi seseorang yang peduli pada jutaan manusia lainnya di Bumi. Padahal sebelumnya, dia tidak segan-segan mengirimkan orang-orang yang mau membayar untuk diterbangkan ke Elysium, yang pada akhirnya tentu akan mati ditembak atau dikembalikan lagi ke Bumi oleh Delacourt. Hal ini juga berlaku untuk Krueger yang tiba–tiba haus akan kekuasaan serta adanya tokoh Frey, teman masa kecil Max, yang cenderung menjadi pemanis di keseluruhan film ini.

Film ini juga terasa ‘mirip’ dengan District 9, film garapan Neill Blomkamp sebelumnya. Tentu kita mengharapkan Elysium dapat sefenomenal District 9, sayangnya, masih ada beberapa kekurangan yang cukup mendasar di film ini. Namun begitu pun, film ini masih sangat layak ditonton, terlebih karena banyaknya adegan perkelahian yang cukup brutal. Hari ini IMAX 2D dari Elysium sudah mulai tayang di Gandaria XXI dan Gading XXI, jangan sampai ketinggalan ya!

 


SHARE
Previous articleGalaxy Folder Terlahir Sebagai Samsung Hennessy, Combo Dua SIM + Dua Layar!
Next articleOmega #117: Monster Hunter Online, SDGO, Sengoku IXA
Liverpudlian | Airplane enthusiast | History lover | Science minded | Hardcore gamer | Warmonger. Lulus dari STP Sahid pada tahun 2012, sempat bekerja di Club Med Resort selama 6 bulan pada tahun 2012 sebagai bagian dari program internship kampus. Bekerja di departemen MICE (Meeting, Incentives, Conferences and Exibitions). Aktif di WWF-Indonesia sejak 2010 sebagai volunteer untuk kampanye Earth Hour dan menjadi tim inti Earth Hour Jakarta pada tahun 2013. Saat ini aktif sebagai staff perlengkapan di Look Around Indonesia, sebuah NGO yang memfokuskan diri di bidang sosial terutama anak muda.