Lomba-lomba yang Identik dengan Perayaan 17 Agustus

Dirgahayu Indonesiaku yang ke-68! Berbicara tentang hari kemerdekaan, tentunya tak lepas dari acara-acara yang menyemarakkan peringatan ini, dan salah satunya adalah lomba 17 Agustus-an. Kalau saya mengingat kembali ke masa-masa sekolah dulu, banyak lomba-lomba yang sangat identik dengan perayaan 17 Agustus, dimana lomba-lomba tersebut awet hingga saat ini. Dan bertepatan dengan hari kemerdekaan Indonesia yang ke-68 ini, Duniaku akan mengajakmu untuk menyimak tentang lomba-lomba apa saja yang selalu hadir di perayaan 17 Agustus-an yang (mungkin) tanpa kamu sadari, beberapa lomba tersebut memiliki arti/makna yang dalam. Apa saja lombanya? Berikut sepuluh lomba pilihan redaksi Duniaku yang identik dengan perayaan 17 Agustus:

Sumber foto: loveindonesia.okezone.com

10. Lomba Bakiak
Biasanya satu bakiak panjang terdiri dari tiga orang. Ini adalah lomba adu cepat dan kerjasama tim agar bisa melangkah dengan kompak dan mencapai garis finish dengan cepat. Lomba ini mengajarkan kita untuk tidak egois dan mau bekerjasama. Karena kemerdekaan diraih bukan karena usaha seseorang tapi karena kerjasama semua pihak.

Sumber foto: smpyapemri.blogspot.com

9. Lomba Memasukkan Paku ke Dalam Botol
Ada beberapa versi dari permainan ini, ada yang menggunakan paku ada juga yang menggunakan pensil. Meski terlihat mudah namun permainan ini cukup susah untuk dilakukan, tak hanya butuh konsentrasi dan ketenangan yang tinggi agar bisa memasukkan paku ke dalam botol, tapi juga KUDA-KUDA YANG KUAT!

Untuk usia lanjut lebih baik untuk menghindari permainan ini, karena bahaya encok mengancam… :D

Sumber foto: brocafkua.blogspot.com

8. Lomba Sepeda Lambat
Tak semua lomba dimenangkan dengan kecepatan, dalam lomba ini justru yang mencapai finish terakhir yang menang. Ingat! Dalam perjalanan mencapai finish, kaki jangan sampai menginjak tanah. Meski tingkat kecelakaannya sangat-sangat-sangat kecil, tapi tak ada salahnya untuk memakai alat keselamatan (helm SNI). :)

Seperti prinsip orang Jawa, “Alon-alon Asal Kelakon.” (biar lambat asal selamat).

Sumber foto: dwikisetiyawan.wordpress.com

7. Lomba Sepak Bola Sarung
Sama seperti lomba memasukkan paku ke dalam botol, lomba ini pun memiliki beberapa versi, ada yang menggunakan sarung ada juga yang menggunakan daster (dan yang bermain itu bapak-bapak!!), menarik bukan? Mungkin kalau ada dari kamu yang mau mengikuti lomba ini hari ini, meski memakai sarung, ingat untuk tetap mengenakan celana panjang/pendak, jaga-jaga kalau sarungnya copot! :D

Sumber foto: eshape.blogspot.com

6. Lomba Memindahkan Belut
Tenang… Perlombaan ini benar-benar tidak berbahaya. Makna yang bisa kita ambil dari permainan ini adalah betapa pun sulit dan licinnya penjajah, tetap harus kita bawa (usir) dari negeri ini. Tak hanya berbicara tentang penjajah dalam arti yang sesungguhnya, tapi juga berbicara tentang penjajah dalam arti yang lain seperti sifat malas, merasa tidak mampu, pikiran negatif, dll, agar kita bisa tujuan/cita-cita (kemerdekaan) yang kita harapkan.

Sumber foto: Kaskus

5. Lomba Membawa Kelereng dalam Sendok
Ini merupakan salah satu lomba yang paling favorit bagi anak-anak. Peserta berlomba jalan cepat untuk mencapai finish dengan menggigit sendok yang di atasnya terdapat sebutir kelereng dan jangan sampai kelerengnya jatuh. Bagi peserta selanjutnya, ingat untuk mengambil sendok yang baru / mencuci sendok yang sudah dipakai.

Sumber foto: menujuhijau.blogspot.com

4. Lomba Tarik Tambang
Meski permainan yang sederhana, namun lomba ini mengajarkan kita tentang kerja keras dan persatuan dalam meraih tujuan. Selain itu, permainan ini juga mengajarkan tentang pentingnya keyakinan dalam mencapai kemenangan dan pentingnya adu otot! Jaman sekarang, kalau kita tidak ngotot (berjuang ekstra keras), bagaimana bisa mencapai keberhasilan.

Sumber foto: haris71indonesia.blogspot.com

3. Lomba Balap Karung
Pemain masuk ke dalam karung, lalu berlari dengan cara meloncat. Tapi awas jangan sampai terjatuh terguling-guling karena terlalu bersemangat.

Meski hanya karung, namun permainan ini punya makna yang dalam. Karena karung mengingatkan kita pada saat penjajahan Jepang. Sebagian besar rakyat mengalami penderitaan sangat berat, hingga masyarakat pada waktu itu mengenakan karung goni yang kasar dan membuat gatal di kulit sebagai pakaian sehari-hari. Hal ini mengingatkan kita untuk selalu bersyukur atas kemerdekaan yang telah diraih dan mengisi kemerdekaan itu dengan prestasi yang positif.

Sumber foto: haris71indonesia.blogspot.com

2. Lomba Panjat Pinang
Lomba yang satu ini pastinya tak pernah terlewatkan. Dahulu, panjat pinang diadakan oleh orang Belanda saat perayaan dengan hadiah seperti keju, gula, dan kemeja. Perlombaan ini mengajarkan kita tentang pentingnya semangat kebersamaan dan kerjasama untuk mencapai tujuan. Meskipun, adakalanya harus menginjak kepala orang yang ada dibawah untuk bisa mencapai atas. :D

Sumber foto: naningisme.wordpress.com

1. Lomba Makan Kerupuk
Nah… Lomba yang satu ini memang tak pernah lekang oleh waktu. Bisa dikatakan, tak ada lomba 17 Agustus-an tanpa adanya lomba makan kerupuk. Hanya menggunakan mulutnya, seorang harus yang tercepat memakan habis kerupuk yang tergantung di seutas tali untuk menjadi pemenang.

Permainan favorit ini mengajarkan kita, bahwa di jaman penjajahan dulu rakyat mengalami kesulitan sandang, pangan dan papan. Jangankan untuk makan 4 sehat 5 sempurna, untuk makan yang paling sederhana sekali pun saja kesulitan, karena hasil panen penduduk diambil paksa oleh penguasa. Akibatnya, banyak rakyat yang kurang gizi bahkan mati kelaparan.

Meski hanya sebuah kerupuk, coba lihat ekspresi para peserta yang begitu menikmati makanan yang satu ini.

Sumber foto: citizenimages.kompas.com/

Dan itulah kesepuluh lombanya, lalu yang mana lomba favoritmu?


SHARE
Previous articleYuk Lihat Blueprint dari Sentinel di X-Men: Days of The Future Past
Next articleMengintip Unsur-unsur Khas Indonesia dalam Video Game
Art Director di TouchOn Magazine (nama baru dari Zigma dan Omega) Memiliki interest yang besar dalam dunia design dan photography. Merupakan penggemar berat film serta salah satu penggebuk drum di redaksi yang kini menikmati hobi baru sebagai penulis.