Review Combo: Card Games Anyar Hasil Karya Anak Bangsa!

Beberapa waktu lalu, Violine pernah memberikan tutorial untuk memainkan Combo, sebuah card games besutan Stormidea Games. Tutorial ini dapat dilihat disini. Jangan salah, card games ini asli dari Indonesia loh! Nah hari ini, saya berkesempatan untuk menjajal langsung seperti apa gameplay dari Combo, yang sejatinya adalah singkatan dari Consortium for battle Magic Ordination.

Jujur, pertama kali melihat set dari Combo saya sedikit skeptis bahwa permainan ini akan membosankan. Kenapa? Karena desainnya yang sangat minimalis dan tanpa ada teks sama sekali. Sekilas, dengan adanya dot (titik) di pojok-pojok kartu, kesan yang pertama saya dapatkan adalah “wah, kok mirip kartu domino ya?” Permainan ini sebenarnya cukup sederhana, player bertindak sebagai seorang penyihir yang di game ini disebut sebagai Elementalis dan tujuan utamanya adalah membunuh semua player lainnya. Elemen yang ada di game ini semuanya berjumlah 4, yaitu Api, Angin, Bumi serta Air. Keempat elemen ini memiliki fungsi-fungsi yang berbeda, Api digunakan untuk menyerang, Angin digunakan untuk menambahkan kartu dari Deck, Air untuk menambah poin energi sedangkan Bumi digunakan untuk mengurangi kartu lawan.

Nah menariknya, ternyata untuk mengalahkan Elementalis lawan tidak selalu harus melalui direct attack dengan menggunakan kartu elemen api. Sebagai contoh, di akhir giliran seorang pemain, kita dapat menggunakan kartu Angin untuk menambahkan kartu ke tangannya. Loh, bukannya itu malah membantu lawan? Ternyata, setiap pemain hanya diperbolehkan memegang 5 kartu di tangannya ketika gilirannya selesai. Jika kelebihan kartu, maka pemain tersebut akan kehilangan energy point sesuai dengan kelebihan kartu yang dimilikinya. Hal ini menambah unsur strategi dari permainan ini, belum lagi, 2 elemen yang berbeda jika digabungkan dapat menciptakan elemen baru dengan efek spell yang berbeda-beda.

Yang sedikit agak mengganggu alur permainan adalah adanya fitur incantation, yang pada dasarnya adalah, setiap pemain dapat menabung 3 kartu yang ditumpuk menjadi satu tumpukan. Incantation ini jika digunakan maka harus semuanya, tidak bisa satu kartu saja. Masalahnya, pada akhirnya pemain akan terdorong untuk melakukan deck building sehingga membuat pace permainan menjadi lambat. Padahal, Combo ini lebih menarik jika dimainkan dengan alur permainan yang cepat.

Kedua, untuk saya pribadi, visual adalah hal yang sangat penting dari sebuah card games atau boardgames. Desainnya yang terlalu minimalis membuat Combo terkesan seperti sebuah card games yang belum selesai dibuat. Selain itu, minimnya art dari Combo membuat saya kurang bisa berimajinasi menjadi seorang Elementalis, terlebih lagi tidak adanya kelas atau karakter khas yang dapat dimainkan sehingga agak sulit membayangkan universe dari Combo. Padahal, Combo ini ada storynya loh, cuma tidak bisa terbentuk dengan baik karena kurangnya visualisasi serta penjelasan mengenai universenya sendiri.

Terlepas dari hal tersebut, Combo sangat fun untuk dimainkan. Replay valuenya cukup tinggi, karena setiap kali bermain strategi permainan pun akan berubah. Panduan untuk berbagai macam kombinasi spell pun disediakan dalam bentuk Combo Spell Diagram yang diberikan kepada semua pemain. Untuk yang belum pernah memainkan card games sebelumnya mungkin Combo agak sedikit membingungkan, namun menurut saya, cukup dengan bermain sebanyak 2-3 kali saja seseorang sudah dapat lancar memainkan game ini. Yang butuh waktu sedikit lebih lama adalah menghafal berbagai kombinasi spell yang ada. Tertarik untuk membeli card games ini? Combo dijual dengan harga Rp. 150.000 dam dapat dipesan melalui email ke sales@comboarena.com


SHARE
Previous articleDuniaku INAICTA Showoff: Slab Games
Next articleHuawei Ascend Mate Dirilis di Indonesia, Android “Raksasa” Dengan Baterai Terbesar di Kelasnya
Liverpudlian | Airplane enthusiast | History lover | Science minded | Hardcore gamer | Warmonger. Lulus dari STP Sahid pada tahun 2012, sempat bekerja di Club Med Resort selama 6 bulan pada tahun 2012 sebagai bagian dari program internship kampus. Bekerja di departemen MICE (Meeting, Incentives, Conferences and Exibitions). Aktif di WWF-Indonesia sejak 2010 sebagai volunteer untuk kampanye Earth Hour dan menjadi tim inti Earth Hour Jakarta pada tahun 2013. Saat ini aktif sebagai staff perlengkapan di Look Around Indonesia, sebuah NGO yang memfokuskan diri di bidang sosial terutama anak muda.