INAICTA 2013: Menjadi Besar Dengan Merek!

Ami Raditya, salah satu tokoh industri game nasional yang sudah berkecimpung di industri ini selama lebih dari 10 tahun memberikan insight menarik dalam salah satu sesi conference INAICTA yang diadakan hari ini. Hal tersebut adalah pentingnya sebuah merek atau brand di dalam sebuah industri. Sesi conference dibuka dengan penjelasan dari Ami, sapaan akrabnya, tentang barrier atau halangan berkembangnya industri game lokal selama ini. Menurutnya, salah satu hal utama yang menjadi penghalang adalah permasalahan piracy atau pembajakan. Dilihat dari segi historisnya, Indonesia sudah disusupi oleh masalah pembajakan bahkan jauh sebelum era-nya Playstation, yaitu sejak zaman konsol Nintendo dan Sega masih berjaya. Bahkan, mesin Arcade atau dingdong yang dulu biasa dimainkan ternyata merupakan hasil bajakan loh!

Hal ini menyebabkan pelaku industri game internasional enggan masuk ke Indonesia, karena iklimnya yang tidak sehat. Namun Ami menuturkan hal tersebut sudah mulai berubah saat ini. Perkembangan industri game nasional berkembang dengan sangat pesat, banyak studio-studio game mulai bermunculan. Yang menjadi poin penting adalah akan dirilisnya konsol PlayStation 4 dan Xbox One di penghujung tahun ini. Mengapa menjadi momen yang penting? Karena Sony mengatakan bahwa mereka akan merilis PS 4 secara resmi di Indonesia. Baik PS 4 maupun Xbox One pun mendukung game-game indie bagi para developer yang baru berkembang sehingga memberikan peluang yang sangat besar bagi developer lokal untuk mencoba meningkatkan level kemampuan mereka. Sebelumnya, sangat sulit untuk membuat game bagi konsol dikarenakan technological barrier yang cukup besar.

Ami mengatakan, agar industri game nasional dapat menjadi besar, yang harus diperhatikan adalah permasalahan merek atau brand serta IP (Intelectual Property). Jika melihat contoh yang sudah ada, pelaku industri game internasional sudah mengembangkan brand yang sangat kuat, bagi dari perusahaannya maupun dari karya-karya (IP) mereka. Hal ini lah yang harus dilakukan oleh developer lokal. Dengan adanya brand yang kuat dan ditambah dengan karakteristik yang khas, sebuah produk atau karya dapat menimbulkan sebuah emotional attachment bagi para gamer yang akhirnya akan memberikan recurring element bagi developer tersebut.

Selanjutnya, Ami juga mengingatkan akan pentingnya mengukur nilai merek. Hal ini sering dilupakan oleh banyak orang. Biasanya, yang diukur adalah aset tangible atau fisik yang dapat dilihat. Namun bagaimana jika kita adalah seorang developer game? Kita dapat mengukur intangible asset kita melalui brand equity (seberapa kuat brand kita dikenal), customer equity (seberapa loyal customer kita), rights (keunggulan karya kita) serta patent (keunggulan teknologi). Hal ini sangat penting dilakukan agar produk yang dibuat dapat survive, terutama dengan semakin ketatnya persaingan di industri game, baik nasional maupun internasional. Ingat, merek yang tidak dikelola dengan baik dapat menghancurkan perusahaan sebesar apa pun!


SHARE
Previous articleEvent INAICTA 2013 Resmi Dibuka Hari Ini!
Next articleSTGCC: Wawancara Eksklusif Dengan Vampy Bit Me aka Linda Le
Liverpudlian | Airplane enthusiast | History lover | Science minded | Hardcore gamer | Warmonger. Lulus dari STP Sahid pada tahun 2012, sempat bekerja di Club Med Resort selama 6 bulan pada tahun 2012 sebagai bagian dari program internship kampus. Bekerja di departemen MICE (Meeting, Incentives, Conferences and Exibitions). Aktif di WWF-Indonesia sejak 2010 sebagai volunteer untuk kampanye Earth Hour dan menjadi tim inti Earth Hour Jakarta pada tahun 2013. Saat ini aktif sebagai staff perlengkapan di Look Around Indonesia, sebuah NGO yang memfokuskan diri di bidang sosial terutama anak muda.