First Look DreadEye: Proyek Lanjutan Setelah DreadOut Yang Menggunakan Oculus Rift!

Seperti sudah sering diberitakan sebelumnya, Duniaku membuka event Duniaku Showcase untuk para developer game lokal yang ingin memamerkan game-game buatan mereka di INAICTA kemarin. Ada satu developer yang mejanya tidak pernah sepi dari pengunjung, bahkan orang sampai mengantri untuk melihat gamenya! Ya betul, developer tersebut adalah Digital Happiness yang sudah terkenal dengan game DreadOut ! Namun ada yang sedikit berbeda, kali ini mereka tidak membawa DreadOut melainkan membawa satu buah game yang merupakan project baru mereka,DreadEye! Menariknya, game ini dimainkan dengan menggunakan Oculus Rift, wow! Beruntung lah kalian yang bisa mencicipi perangkat yang sejatinya masih berada dalam tahap development ini.

Saya berkesempatan untuk berbincang-bincang dengan Mega Dirgantara, Director of Marketing & Promotion Digital Happiness dan membahas beberapa hal seputar DreadOut serta DreadEye. Ketika ditanya kapan DreadOut akan rilis, Mega masih belum bisa memastikan tanggalnya, namun yang pasti akhir tahun ini sudah akan rilis di Steam. “Permasalahannya, terkadang kita sudah mencapai 85% dari keseluruhan game namun kemudian ada hal-hal yang harus dirubah, misalnya bentuk map yang terlalu sulit, sehingga kami harus mundur lagi ke level 70%. Kami ingin game ini perfect karena tanggung jawabnya memang cukup besar, terutama kepada para backers kita,” ungkap Mega lebih lanjut. Untuk harga ketika rilis nanti pun masih belum bisa dipastikan namun akan berkisar di angka 20 USD. Lebih jauh, DreadOut nantinya akan ditranslate ke dalam beberapa bahasa loh! Seperti Jepang, Spanyol serta Polandia. Keren banget kan?!

Ternyata, Digital Happiness ingin membangun universe dari IP Dread ini loh! Nantinya franchise Dread akan memiliki banyak produk. “Dalam waktu dekat ini kami juga akan memproduksi komik, rencananya sih sebelum DreadOut dirilis. Selanjutnya tentu akan ada project lainnya, seperti DreadEye ini. Demo ini baru mulai dikerjakan minggu lalu sebenarnya dan masih mentah banget, kita cuma mau menunjukkan ke depannya seperti apa karya yang ingin kita hasilkan. Kalau sukses, kami ingin menggabungkan DreadEye yang menggunakan Oculus Rift ini dengan project satunya lagi yang menggunakan motion sensor. Pasti seru banget deh!” Terang Mega panjang lebar.

Ketika saya mencoba DreadEye, kesan saya adalah, WOW! Kita tidak berinteraksi di dalam game ini, artinya tidak perlu menekan tombol apapun. Ceritanya pun kita hanya duduk di kursi roda dan didorong oleh sesosok suster. Nah, melewati lorong-lorong rumah sakit yang gelap ini, banyak muncul beberapa penampakan yang cukup mengagetkan, terlebih lagi Oculus Rift dapat diputar hingga 360 derajat. Kemanapun saya menoleh, yang terlihat hanya lah ruangan-ruangan rumah sakit yang pastinya seram banget!

Project DreadEye ini sangat prospektif dan menarik sekali menurut saya. Walaupun Oculus Rift belum dirilis untuk konsumen, keberanian Digital Happiness untuk mencoba tekhnologi baru patut diacungi jempol. Padahal, kalau melihat market lokal, perangkat seperti Oculus Rift pun sepertinya akan sulit untuk dijual. Dari sini terlihat bahwa Digital Happiness lebih condong menyasar pasar international, which is good! Dan ingat, jika DreadOut sudah rilis di Steam, belinya yang original yah! Dukung terus developer nasional!


SHARE
Previous articleMakin Banyak Peningkatan Fitur di Bravely Default: For the Sequel, dan Juga Opsi Bahasa Inggris!
Next articleDetail Baru Xbox One, Mulai Dukungan untuk Delapan Kontroler hingga Penggunaan Hardisk Eksternal
Liverpudlian | Airplane enthusiast | History lover | Science minded | Hardcore gamer | Warmonger. Lulus dari STP Sahid pada tahun 2012, sempat bekerja di Club Med Resort selama 6 bulan pada tahun 2012 sebagai bagian dari program internship kampus. Bekerja di departemen MICE (Meeting, Incentives, Conferences and Exibitions). Aktif di WWF-Indonesia sejak 2010 sebagai volunteer untuk kampanye Earth Hour dan menjadi tim inti Earth Hour Jakarta pada tahun 2013. Saat ini aktif sebagai staff perlengkapan di Look Around Indonesia, sebuah NGO yang memfokuskan diri di bidang sosial terutama anak muda.