INAICTA 2013: Memasuki Industri Game Di Indonesia

Kalian semua pasti tahu dong studio game Altermyth. Altermyth adalah salah satu developer game nasional yang paling terkenal dan saat ini dipimpin oleh Wong Lok Dien. Nah, materi conference yang berikutnya ini dibawakan oleh Wong Dien dan membahas beberapa fakta serta permasalahan mendasar yang ada di industri game nasional. Singkatnya, Wong Dien membeberkan seperti apa environment industri game lokal saat ini.

Menurutnya, masyarakat Indonesia adalah orang-orang yang disebutnya sebagai “Digitally Enthusiastic People” , bahkan dengan kecepatan internet yang bisa dibilang masih rendah. Wong Dien menunjukkan fakta bahwa saat ini jumlah pengguna handphone di Indonesia telah mencapai 290 juta unit, melebihi total jumlah populasi penduduk Indonesia. Hal ini dikarenakan banyak diantara kita yang memiliki handphone lebih dari 1 buah. Pengguna internet secara keseluruhan mencapai 55 juta user yang sebenarnya masih cukup rendah karena tingkat penetrasinya hanya 22 %. Jakarta, seperti mungkin sudah banyak diantara kalian yang tahu, adalah ibukota dari Twitter. Penduduk Jakarta men-tweet jauh lebih banyak dari penduduk Tokyo, London, Sao Paulo serta New York.

Wong Dien kemudian menunjukkan beberapa hal potensial yang dapat menjadi keuntungan, atau malah sebaliknya, industri game nasional. Yang pertama adalah infrastruktur. Infrastruktur disini dapat diartikan sebagai kecepatan internet. Dengan kecepatan yang masih sangat rendah, hal ini menjadi masalah yang cukup mengganggu, dapat dilihat dari kecilnya tingkat penetrasi pengguna internet di Indonesia. Permasalahan kedua adalah payment. Minimnya pengguna kartu kredit membatasi pilihan dalam metode pembayaran. Ketiga adalah industri itu sendiri. Karena masih di tahap awal, ekosistemnya masih berantakan dengan sedikitnya konten lokal serta pasar yang masih harus dibentuk. Keempat adalah isu geografis. Hal ini sebenarnya menguntungkan karena dengan jumlah populasi yang tersebar, potensi pasarnya cukup besar. Namun sayangnya hal ini juga menjadi masalah dalam menciptakan rantai distribusi yang efisien. Terakhir adalah masalah resources. Di Indonesia saat ini, sumber daya manusia yang berkualitas masih sangat sedikit dan perlu banyak pelatihan serta memupuk pengalaman.

Kesemua poin diatas sebenarnya adalah hal-hal yang dapat menjadi keuntungan dalam memajukan industri game lokal. Sayangnya, belum ada kesinambungan dari berbagai pelaku industri game untuk menyelesaikan dan merubah hambatan–hambatan tersebut menjadi sebuah keuntungan. Wong Dien menambahkan, jika industri game lokal ingin berkembang, kita semua harus mampu mengeksploitasi potensi-potensi tersebut. Materi conference kali ini ternyata cukup membuka mata para calon developer game lokal yang hadir tentang permasalahan yang akan mereka hadapi nantinya. Semoga saja mereka dapat mengatasinya ya!


SHARE
Previous articleINAICTA 2013: Peran Media Game Di Indonesia
Next articleGTA V Akan Memiliki Lebih dari 200 Soundtrack, Simak Beberapa Sampelnya di Sini!
Liverpudlian | Airplane enthusiast | History lover | Science minded | Hardcore gamer | Warmonger. Lulus dari STP Sahid pada tahun 2012, sempat bekerja di Club Med Resort selama 6 bulan pada tahun 2012 sebagai bagian dari program internship kampus. Bekerja di departemen MICE (Meeting, Incentives, Conferences and Exibitions). Aktif di WWF-Indonesia sejak 2010 sebagai volunteer untuk kampanye Earth Hour dan menjadi tim inti Earth Hour Jakarta pada tahun 2013. Saat ini aktif sebagai staff perlengkapan di Look Around Indonesia, sebuah NGO yang memfokuskan diri di bidang sosial terutama anak muda.