IGS 2013: Talkshow Interaktif dengan Tema Masa Depan Karir Gamer!

Hari kedua Indonesia Game Show (IGS) 2013 yang jatuh pada hari Sabtu, 7 September 2013 lalu memang menjadi hari paling padat selama tiga hari penyelenggaraannya. Betapa tidak, selain penuh sesak dengan pengunjung karena memang akhir pekan, di beberapa booth juga melakukan konferensi pers untuk memperkenalkan game baru maupun rencana mereka ke depannya. Plus, di panggung utama terdapat satu talkshow yang menghadirkan dua pelaku industri game, satu dari kalangan gamer profesional, dan satu lagi merupakan staff dari salah developer game papan atas dunia.

Di masa sekarang ini, mungkin kamu seringkali mendengar anggapan bahwa menjadi gamer adalah hal yang negatif, anti sosial dan masa depannya tidak jelas. Nah, kali ini Hayato Sawada, yang merupakan Head of Bussiness Development South East Asia dari Square Enix dan Richard, gamer profesional dari tim NXL membantah anggapan tersebut dengan menghadirkan talkshow yang bertema gamer dan bagaimana masa depannya. Talkshow ini sendiri dimoderatori oleh CEO dari Agate Studio, Arief Widhiyasa.

Arief memulai talkshow dengan memberikan pertanyaan mengenai apa alasan Richard dan Sawada menggeluti profesi masing-masing yang berkarir di bidang game. Richard yang merupakan gamer profesional mempunyai anggapan bahwa menjadi gamer profesional seperti dirinya memiliki masa depan yang cerah, dan dibuktikannya dengan mendapatkan banyak gelar di turnamen-turnamen game baik nasional serta internasional, serta kali ini dia juga menggeluti bidang lain sebagai pengusaha di bidang aksesoris game. Tak lupa, Richard juga mengungkapkan bahwa menjadi gamer profesional ini sesuai dengan passion-nya, yang memang suka sekali dengan dunia game. Berbeda dengan Sawada, yang tertarik menjadi developer game setelah dia melihat besarnya pangsa pasar yang ditawarkan dalam game. Sawada juga beranggapan bahwa menjadi gamer profesional juga sebuah karir yang membanggakan, dan berharap gamer indonesia bisa semakin berjaya di dunia internasional.

Pertanyaan kedua yang dilontarkan oleh Arief adalah mengenai tanggapan Richard dan Sawada mengenai anggapan bahwa game punya banyak efek negatif. Richard kembali membantah anggapan tersebut, dan dia mengungkapkan bahwa dia mendapatkan banyak pelajaran dari bermain game, seperti leadership dan memimpin orang lain agar bisa menjadi lebih baik. Sawada juga berpendapat senada, dimana dia mengungkapkan bahwa dirinya hanya membuat game yang bisa memberikan pelajaran untuk diterapkan di kehidupan nyata. Dia juga menepis anggapan bahwa menjadi gamer tidak akan membuat gamer menjadi anti sosial, justru membuat gamer bisa terus berinteraksi dengan gamer lain untuk saling sharing mengenai masalah-masalah yang dihadapi selama bermain game. Dia juga mencontohkan, bahwa di Amerika Serikat dan Jepang, banyak terjadi di usia 30 hingga 40 tahun seorang gamer bisa mendapatkan kehidupan yang normal, sama dengan seseorang yang bukan gamer. Richard kembali menambahkan, bahwa berkarir sebagai seorang gamer profesional awalnya ditolak oleh keluarganya. Namun Richard pantang menyerah, dan terus membuktikannya dengan beragam prestasi yang didapatkannya. Sehingga keluarga yang dulunya menolak, kini malah berbalik mendukung Richard dengan profesinya tersebut.

Selanjutnya, Arief membedah bagaimana kehidupan sehari-hari mereka, baik gamer profesional seperti Richard maupun game developer seperti Sawada. Richard mengungkapkan, bahwa di pagi hari dia bekerja untuk mengurusi usahanya, lantas menjelang sore hingga malam dia menjalankan aktivitasnya sebagai gamer profesional dengan bermain dan berlatih bersama timnya. Sawada selanjutnya menjelaskan, bahwa sebagai developer game, di kantor dirinya bisa bermain game, tetapi tidak setiap hari dia memainkannya. Tugas utamanya adalah untuk mencari-cari seperti apa game yang saat ini diminati oleh pasar, dan apa yang kira-kira diminati oleh pasar saat dirilis nantinya. Sawada mengungkapkan, bahwa dia baru bisa bermain game saat sudah berada di rumah sepulang kerja.

Di akhir talkshow, Arief menanyakan saran dan tips bagaimana untuk meniti karir di dunia game dengan baik. Richard memberikan saran bagaimana menjadi gamer profesional seperti dirinya. Intinya, menjadi gamer profesional yang baik adalah harus memiliki komitmen, visi, misi, berani bermimpi dan percaya, serta memiliki passion di game yang digeluti tersebut. Sawada melanjutkan dengan memberikan sarannya menjadi profesional di dunia pengembangan game. Sarannya adalah benar-benar punya keinginan kuat dan tidak asal-asalan, serta memiliki passion di bidang tersebut. Sawada juga berharap Indonesia bisa membuat game-game yang hebat dan dikenal dunia seperti Final Fantasy. Untuk itu, Sawada mengajak para pelaku industri game di Indonesia untuk memajukan industri game Indonesia agar berkembang lebih baik lagi. Terakhir, Sawada memberikan satu tips singkat namun menarik, “Lakukan saja apa yang ingin kamu lakukan,” tegasnya.

Siapa bilang menjadi gamer banyak berdampak negatif? Baik Richard maupun Sawada sudah membuktikan bahwa berkarir di dunia game ternyata juga memiliki masa depan yang cerah. Bagaimana, ada yang tertarik untuk mengikuti jejak mereka berdua?