Phonebloks Adalah Sebuah Ide Keren Yang Membuat Ponsel Bebas Dikustomisasi. Bisakah Terwujud?

Smartphone masa depan mungkin seperti Galaxy Note 3, yang menawarkan layar lega dengan interaksi melalui pena stylush khusus. Atau, smartphone masa depan itu seperti iPhone 5s, yang langsung selangkah lebih maju menggunakan prosesor 64-bit. Bisa jadi juga seperti Lumia 1020, yang memilih sensor kamera besar sekaligus menjadikannya pengganti kamera digital? Namun seperti apa pun smartphone masa depan, tidak ada yang bisa menghindari perkembangan teknologi.

Ketika tahun berganti dan inovasi baru ditemukan, selang beberapa tahun dia akan dilupakan, dan bahkan bisa jadi berakhir sebagai barang rongsokan. Seorang desainer Belanda bernama Dave Hakkens memahami hal itu, dan dia tidak ingin sebuah ponsel berakhir begitu saja menjadi rongsokan di dalam gudang setelah muncul inovasi baru yang membuat teknologi lama ketinggalan. Karena itulah dia menggagas sebuah konsep yang disebut dengan Phonebloks.

Phonebloks memang masih sekadar konsep dari Dave Hakkens, yang mengajukan pemikiran bahwa sebuah ponsel seharusnya dengan mudah bisa dikustomisasi atau di-upgrade ketika salah satu atau beberapa bagian pendukungnya sudah tidak mampu mengakomodir kebutuhan software baru. Ketika baterainya mulai kehilangan daya recharge, membutuhan ukuran layar yang lebih besar, tiba-tiba komponen bluetooth-nya mati, atau prosesornya tidak lagi sekuat sebelumnya dalam menjalankan aplikasi baru, dan idenya adalah kita dengan mudah menggantikan mereka dengan part yang normal atau yang lebih ter-update, tanpa perlu harus membeli ponsel baru untuk membuatnya kembali berfungsi, atau memenuhi kebutuhan kita akan teknologi yang terus berkembang setiap tahunnya.

Pada prinsipnya Phonebloks ini mengajukan sebuah basis ponsel utama, dimana komponen-komponen pendukung tadi akan dirangkai dan terhubung satu sama lain membentuk sebuah ponsel. Komponen tersebut ditempatkan di bagian depan dan belakang base-nya, yang terhubung melalui konektor kecil. Mulai dari layar di sisi depan, dan komponen lain seperti prosesor, memory, kamera, modul bluetooth, WiFi dll ada di belakang. Semua komponen itu akan disatukan dengan base-nya melalui dua sekrup. Dan karena digambarkan berbentuk balok, akhirnya banyak yang membandingkan konsep dari Dave ini seperti bagaimana kita merangkai kotak-kotak LEGO.

Seperti yang dijelaskan Hakkens melalui videonya, Phoneblock bebas dikustomisasi sesuai dengan kebutuhan, sekaligus memudahkan kita mengganti komponen yang rusak. Seandainya kita perlu banyak mengambil foto, tinggal pasangkan saja balok yang berisi modul kamera beresolusi tinggi. Jika membutuhkan lebih banyak storage untuk musik, tinggal beli dan pasang balok storage berkapasitas besar. Hakkens berencana membangun perangkat kerasnya di atas platform terbuka, sehingga siapa pun bisa membuat balok mereka sendiri.

Meskipun baru sekadar konsep, namun Hakkens sudah membuat sebuah kampanye melalui Thunderclap — semacam Kickstarter, namun menggantikan uang untuk pendanaan yang biasa disasar kampanye Kickstarter dengan pemberitaan yang luas melalui media sosial, serta menarget akhir Oktober mendatang untuk meluncurkan konsep tersebut. Hingga saat ini, ide Hakkens ini sudah menuai banyak dukungan. Videonya saja sudah meraih view hingga 8.8 juta, dan kampanye Thunderclap yang diajukannya sudah meraih dukungan hampir 450,000 orang, atau hampir mencapai target yang diinginkan.

Jika kamu menyukai konsep ini, masuk saja ke halaman Thunderclap melalui akun jejaring sosialmu, dan menyebarkan konsep Phoneblock-nya Hakkens. Siapa tahu idenya ini bisa menarik investor besar, dan siapa tahu juga bisa diwujudkan nantinya…

Phonebloks

Sumber: Phoneblocks


SHARE
Previous articleDetail Pertama Plot Cerita Pirates of the Caribbean: Dead Men Tell No Tales Terungkap
Next articleDjimon Hounsou Ikut Bermain dalam Fast & Furious 7
Telah dikenal sejak satu dekade yang lalu melalui media game Ultima Nation. Saat itu artikel andalannya adalah panduan walktrough game-game RPG. Ura kemudian juga semakin dikenal lewat tulisannya yang idealis dan selalu konsisten pada satu aspek game, yaitu STORY - yang olehnya dianggap sebagai backbone sebuah game. Selain menggeluti dunia game, Ura juga penggemar gadget, dan dia memiliki hobi "ngoprek" smartphone.