TGS 2013: Keynote Sony. Wujudkan Dunia yang Saling Terhubung Dalam Satu Ekosistem PlayStation

E3 2013 (Electronic Entertainment Expo) dan Gamescom 2013 seakan sudah mencuri sebagian besar highlight dunia video game, sehingga banyak yang menganggap apa yang akan ditampilkan melalui Tokyo Game Show 2013 sebatas trailer dan screenshot saja. Yah, ini efek dari “masa tenang” yang kita lalui sepanjang 2012 lalu (hanya Nintendo Wii U saja yang muncul, dan bahkan Microsoft juga absen), dan juga tidak mungkin produsen hardware game baru memberikan update sehubungan dengan mesin yang rencananya akan mereka rilis akhir tahun ini pada waktu yang mepet, hanya 2 bulan menjelang perilisannya nanti jika menghitung dari tanggal diadakannya TGS 2013 kali ini.

Selain itu, sebenarnya ini bukan kesalahan TGS juga diadakan akhir tahun, mengingat sejak tahun 2002 lalu memang TGS selalu diadakan akhir tahun (awalnya dari tahun 1996 diadakan 2 kali dalam setahun, TGS spring dan autum, meskipun mulai tahun 2002 yang spring diahapuskan). Namun dengan sebagian besar game unggulan yang justru menarget perilisan akhir kuartal 3 dan selama kuartal 4, justru informasinya sudah banyak diperlihatkan selama event-event game yang berlangsung sebelumnya. Mulai E3, Gamescom, hingga Penny Arcade Expo, akhirnya TGS seakan menerima sisa-sisa saja. Namun itu untuk game yang orientasinya global. Kamu yang lebih condong pada game Jepang, TGS masih menjadi surga bagi tipikal RPG Jepang, game berbasis anime, otaku, dan jangan dilupakan juga, masih ada Sony di sini yang keynote mereka selalu ditunggu selama TGS (lupakan Nintendo, sejak tahun 2002, mereka lebih suka gelar “panggung” Nintendo Direct sendirian di luar TGS).

Seperti ini kotak Xbox One yang dibawa Microsoft selama TGS 2013.

Di Jepang memang juga ada Microsoft, namun sepertinya tidak banyak yang mereka demokan selama event ini. Setidaknya ada 8 game yang playable, yaitu Crimson Dragon, Titanfall, FIFA 14Kinect Sports RivalsForza 5RyseMax: The Curse of Brotherhood dan Killer Instinct. Ya, semuanua sudah kita kenal dalam event game yang berlangsung di Barat, sedangkan selama TGS 2013 ini tentu saja, trailer dan screenshot barunya yang muncul. Dan memang benar, Microsoft tidak merencanakan apa pun untuk TGS 2013 ini, kecuali mereka membawa kotak retail Xbox One, yang ternyata berwarna hijau, bukan hitam seperti bayangan kami sebelumnya. Bisa jadi kotak warna hitam untuk yang Day One saja, sedangkan yang hijau ini dijual retail.

Jadi TGS 2013 ini milik Sony saja? Bisa dikatakan seperti itu, walaupun mereka sendiri menegaskan tidak membawa kejutan lain, karena PS Vita slim dan PS Vita TVsudah dikonfirmasikan minggu lalu. Selain itu, PlayStation 4 juga tidak dijual di Jepang hingga akhir Februari tahun depan, sehingga tidak ada alasan bagi Sony membuat event ini mengejutkan sampai mengundang kehebohan media. Namun bukan berarti tidak ada yang menarik dari Sony. Keynote mereka untuk TGS 2013 ini lebih terfokus pada interface konsol, serta fitur pengembangannya. Beberapa figur yang menjadi host keynote mereka seperti SCE President Andrew House,  President of Worldwide Studios SCE Shuhei Yoshida, dan Senior Vice President Masayasu Ito.

Bukan hanya keynote mereka yang berlangsung hari ini dari jam 10:30 – 11:30 waktu Jepang, namun selama TGS Sony membawa banyak game mereka, termasuk event khusus yang meng-cover Gran Turismo 6, Soul Sacrifice Delta, Killzone: Shadow Fall dan Watch Dogs. Keynote mereka memang telah usai, namun kamu bisa melihat kembali rekamannya melalui video di bagian bawah. Beberapa fokus yang kami tangkap dari keynote mereka seperti bagaimana posisi PS4 di dunia yang saling terhubung, game indie dan Dual Shock 4, serta perkembangan PlayStation App.

Dimulai dengan presentasi yang menjelaskan positioning PS4 dalam sebuah dunia yang terhubung, “World Created by PlayStation 4.” Presentasi dimulai dengan “A Day With PlayStation”. Sebuah video menunjukkan gamer memainkan Deep Down-nya Capcom, dan kemudian menggunakan fitur sosialnya PS4 membagikan pengalamannya melalui konsol tersebut, bahkan juga melalui aplikasi mobile. Dia melakukan komunikasi teks dengan teman yang juga memainkan game yang sama. Salah satu dari temannya diperlihatkan memasukkan Vita ke dalam tas, mengikuti pelajaran, dan kemudian dia bisa melanjutkan permainannya seperti ketika dia meninggalkannya sebelum belajar.

deep down

Presentasi lainnya memperlihatkan sekelompok gamer memainkan God Eater 2 di sekeliling meja, sedangkan yang lain terlihat memainkan PS Vita TV. Tombol Share menjadi fokus utama dalam presentasi ini, selain itu Sony juga ingin menyampaikan jika ekosistem PlayStaion baru mereka, termasuk di dalamnya, PS4, PS Vita dan aplikasi mobile-nya saling berhubungan dalam sebuah dunia sosial.

Setelah presentasi video tersebut usai, Andrew House muncul dan menjelaskan tiga trend yang bisa menunjang peran konsol dalam dunia yang terhubung. Dia menyebutkan tiga tren. Pertama, pertumbuhan gamer hardcore yang kini lebih mencari game terbaru; dan menyebutkan bahwa Call of Duty: Black Ops 2 dan Grand Theft Auto 5 menjadi bukti jika game konsol bukan lagi menjadi salah satu segmen pasar yang sangat spesifik tapi menguntungkan. Tren kedua adalah perkembangan konsol sebagai peragkat media dan hiburan, bukan lagi sekadar kotak game saja. Saat ini gamer ini pengalaman yang lebih sosial. Dan ketiga, House juga menyinggung tren game free-to-play yang meningkat pesat (baca juga artikel kami mengenal game freemium di sini).

Menurut House, penting bagi konsol yang akan menjadi salah satu pusat ruang keluarga memiliki UI yang mampu menyuguhkan game, media dan konten sosial keepada semua anggota keluarga, serta dengan mudah menghubungkannya ke jejaring sosial. Ide tersebut yang akhirnya mendasari terciptanya PlayStation 4. Setiap kali user menyalakan PS4, mereka bisa langsung melihat luasnya dunia yang terhubung dengan konsol tersebut, dan banyaknya konten akan diwujudkan sesuai dengan setiap individu.

Dalam kesempatannya tersbut House juga menyinggung mengenai game yang biaya pengembangannya menjadi seperti standar film Hollywood, namun Sony berkomitmen untuk membangun lingkungan pengembangan game yang mempermudah developer dalam membuat game, dengan memberi satu contohnya melalui langkah penerbitan game indie yang mereka lakukan. Menurut House, Sony berharap bisa menjual 5 juta unit PS4 hingga akhir tahun fiskal 2013. Hingga juga menyinggung mengenai PS Vita TV yang mencoba menarget pasar casual. Hingga layanan PlayStation Cloud yang oleh Sony akan segera mereka bawa ke Amerika Utara, serta akan mendukung PS Vita selain PS4.

Setelah Andrew House, bos SCE divisi engineering and production Masayasu Ito naik ke panggung dengan presentasi mengenai game indie, Dual Shock 4, dan juga instant network. Dia menyebutkan jika PS4 didesain untuk mendukung developer menyesuaikan diri dengan arah dunia game saat ini, yang juga menjadikan perangkat mobile serta pengalaman jejaring sosial sangat penting di tengah platform tersebut.

Mark Cerny, kepala arsitek PS4 dan juga desainer Knack, bekerja langsung dengan developer untuk memastikan jika konsol yang mereka kembangkan bisa memenuhi kebutuhan para developer. Hasilnya, Sony memilih menggunakan perangkat keras berbasis PC yang lebih terjangkau (bukanya memilih hardware seperti pada PS3 yang menyusahkan developer), bahkan juga menaikkan memory RAM sistemnya menjadi 8GB DDR5 atas permintaan para developer.

Sejalan dengan pernyataan House, Ito juga menegaskan komitmen Sony dalam menghadirkan environment yang ideal bagi semua developer di semua tingkatan, baik yang gamenya dikembangkan untuk PS4 dan Vita. Menurutnya developer perlu diberi kebebasan untuk menentukan harga, kapan waktu peluncuran gamenya, dan juga platform-nya. Ito menambahkan jika SCEI akan selalu memperhatikan saran developer indie, dan presentasi Ito diakhiri dengan banyaknya (ya, sangat banyak) game indie yang akan hadir untuk PS4 dan PS Vita.

Presentasi Ito juga menyinggung mengenai DualShock 4, menyorot kemiripan desainnya dengan DualShock 3, keberadaan tombol Share, tombol Option yang baru menggantikan Start dan Select, bidang sentuh capacitative dan juga Light Bar. Selain itu Ito juga menjelaskan kembali fitur yang disebutnya sebagai rapid network. Sony ingin mengurangi rasa fristasi gamer dengan membuat game bisa langsung playable seiring berjalannya download, dan juga dengan mempercepat proses download. Dalam pandangan yang sama, Sony juga ingin tombol Share bisa membantu game meng-upload video dan screenshot dengan cepat dan mudah.

Berhubungan dengan fitur social network, Ito juga mengatakan jika gamer bebas memilih mau menggunakan nama asli atau nama samaran selama menggunakan platform mereka. Kamera PS4 juga bisa membantu dalam proses interaksi sosial tersebut. Dengan menu yang sederhana, gamer bisa mengambil foto atau video untuk menggambarkan dirinya dan dijadikan sebagai bagian profil akun.

Presentasi terakhir Sony datang dari kepala SCE Worldwide Studios, Shuhei Yoshida, yang menjelaskan mengenai PlayStation App, aplikasi mobile pendukung untuk platform PlayStation. Selama presentasi, tentu saja Yoshida menggunakan smartphone Xperia. Pertama, aplikasi yang dia demokan menunjukkan interface What’s New, yang memperlihatkan apa saja yang dilakukan teman-temanmu yang berada di social network PlayStation. Yoshida kemudian melihat salah seorang temannya baru saja membeli Killzone, maka dia mengirim permintaan multiplayer melalui smartphone tersebut. Melalui Xperia tersebut dia juga melihat teman lainnya mem-broadcast video gameplay, dan Yoshida dengan mudah men-share link video tersebut ke jejaring sosial lainnya.

Selanjutnya Yoshida menunjukkan apa yang dia sebua sebagai fitur masa depan, yaitu kendali layar kedua alias second screen, seperti tablet Wii U atau Xbox SmartGlass. Dengan menghubungkan ponsel Xperia dengan PS4, gamer bisa mengakses cara permainan baru yang kemudian bisa diintegrasikan ke dalam gameplay utama permainan tersebut di PS4 atau PS Vita. Menurut Yoshida akan sangat mudah bagi developer game PS4 untuk menggunakan entah itu PlayStation App atau aplikasi khusus yang mereka buat sendiri, untuk mengimplementasikan fitur layar kedua tersebut. Melalui presentasi Yoshida  juga kita pertama kali bisa melihat bagaimana penerapan Remote Play dilakukan antara PS4 dengan PS Vita TV. Jadi kamu bisa melanjutkan permainan yang sebelumnya dilakukan melalui, misalnya TV utama di rumah dengan PS4 dan Dual Shock 4, ke TV lain yang terhubung dengan PS Vita TV hanya dengan sedikit proses sinkronisasi antara Dual Shock 4 dengan PS Vita TV.

“That is the kind of fun world that we hope to create,” begitu ujar Yoshida selama presentasinya. Dan sepertinya memang ekosistem game Sony ini begitu sempurna terhubung satu sama lain. Tinggal kita menunggu penerapan realnya ketika PlayStation 4 dirilis pertengahan November nanti, sudah tidak sabar mencoba menggunakan PS Vita sebagai kontroler keduanya…

Playstation 4 Tokyo Game Show 2013 Keynote

Direktur Media ZIGMA OMEGA dan Editor in Chief Duniaku Network, Ami Raditya, meliput Tokyo Game Show live dari Makuhari Messe.


SHARE
Previous articleThe Last Days on Mars, Penjelajahan ke Planet Mars yang Berakhir Bencana
Next articleTGS 2013: Namco Bandai Pamer Screenshot dan Trailer Pertama Soulcalibur Lost Swords
Mengawali karier menulisnya pada tahun 1997 sebagai kontributor rubrik game majalah Mentari Putera Harapan. Namanya mulai dikenal setelah dia turut membidani lahirnya majalah game pertama di Indonesia, Game Master. Begitu banyak majalah yang lahir dari buah pemikirannya. Sebut saja Game Master, 3D Magazine, Ultima Nation, hingga Zigma dan Omega. Tidak hanya dikenal sebagai jurnalis dan konseptor, GrandC juga seorang penulis cerita. Saat ini dia banyak disibukkan dengan pengembangan Vandaria, dunia fiksi ciptaannya.