[Kuliah Om Jas] Pentingnya Play Testing pada Game

Ketika kita mendowload dan menginstall sebuah game, tentunya kita ingin game tersebut sudah nyaman dan lancar untuk dimainkan bukan? Namun ada kalanya beberapa game, walaupun secara program sudah baik, minim bug dan minim error, game tersebut tetap saja tidak banyak yang memainkannya. Lalu bagaimana solusinya? Salah satu solusi yang bisa ditawarkan oleh Om Jas dalam kuliah kali ini adalah play testing. Apa itu play testing? Mari kita membahasnya lebih dalam.

Play testing adalah suatu cara menguji sebuah game tanpa memikirkan sisi coding atau bug/error dari game tersebut dari sisi menarik atau tidaknya game. Mari kita sebut para pelaku play testing dengan play tester. Tentunya para play tester akan memainkan game tersebut dan mencoba semua fitur di dalam game dengan cara yang sama persis dengan para gamer atau end user. Biasanya, para game tester pada masa playtesting ini akan menggunakan buku manual dan mengecek beberapa hal, misalnya apakah game ter-install sesuai dengan apa yang tertulis dalam buku manual, atau apakah objek dan komponen game merespon sesuai dengan instruksi yang ada pada buku manual.

Playtesting harus dilakukan tanpa ada pengarahan dari pengembang game, jadi play tester bebas memainkan game tersebut sesuai dengan keinginannya, namun masih dalam koridor buku manual. Jadi apa yang tidak terdapat dalam buku manual atau layar bantuan pada game tidak perlu dipertanyakan.

Tujuan utama dari Playtesting adalah menguji, apakah game menyenangkan atau apakah ada masalah dengan mekanisme game, seperti misalnya ada tempat yang tidak bisa didatangi, atau gerakan kurang luwes.  Lebih dalam lagi, pengujian ini dimaksudkan untuk melakukan penyeimbangan pada game play, atau perubahan mekanisme agar aliran (flow) game bisa lebih menarik, dan yang terutama apakah play tester bisa mengerti maksud dari game yang sedang diujinya tanpa perlu diceritakan oleh sang pengembang secara langsung. Istilahnya, maunya game ini apa sih?

Perlu diingat oleh para pengembang game, Playtesting tidak sama dengan debugging, yang sangat berorientasi pada kode-kode program. Game tester pada masa ini harus berpedoman, lebih baik memainkan game yang berjalan dengan lancar dan menyenangkan, walau kadang ada bug kecil di sana sini, daripada game yang tanpa bug tapi memiliki game play yang membosankan. Pengembang juga harus mengesampingkan ego apabila ada konsep dalam game play yang dianggap membosankan atau tidak enak dimainkan dan segera memperbaiki game ke arah yang disarankan.

Apabila ingin memilih play tester, sebaiknya pilih lebih dari satu orang. Setidaknya 5-10 orang pas untuk melakukan Playtesting pada game yang sedang kita kembangkan. Nah, orang-orang seperti apa yang cocok untuk menjadi play tester untuk game yang sedang kita kembangkan?

1. Mewakili sampel untuk target players, jadi apabila game ditujukan untuk anak-anak usia 6-10 tahun, jadi setidaknya ada beberapa anak usia tersebut yang terlibat sebagai play tester. Begitu pula bila game ditujukan untuk penggemar thriller, maka setidaknya kita menyertakan penggemar thriller tersebut.

2. Memiliki kemampuan yang variatif, pastikan play tester memiliki kemampuan yang variatif, dari yang gamer hardcore sampai yang jarang main game, sehingga  bisa mencakup keseluruhan kemungkinan orang yang akan memainkan game yang kita kembangkan.

3. Tidak familiar dan tidak sedang jatuh hati dengan game yang kita kembangkan, sebaiknya play tester berasal dari orang-orang yang sama sekali belum tahu mengenai game tersebut, atau tidak sedang menanti-nantikan game yang sedang kita kembangkan tersebut agar bisa lebih objektif dan baik dalam pengujiannya, jadi kalau game memang tidak menarik, mereka tidak akan segan-segan mengatakan hal yang sebenarnya.

Pengujian yang dilakukan oleh play tester yaitu jelas mereka akan memainkan game tersebut, lalu para play tester akan memberikan feed back atau pendapat-pendapat yang bisa dikategorikan sebagai berikut (bagian ini dapat juga dipakai sebagai acuan para play tester dalam melakukan Playtesting) :

1. Apakah mereka menyukai game tersebut? Kalaupun suka, karena apa perlu dijelaskan, begitu pula bila tidak suka. Tidak menutup kemungkinan mereka juga menuliskan kelebihan dan kekurangan utama pada fitur-fitur game.

2. Pada bagian mana  dari game yang membuat para play tester merasa frustasi? Apakah karena sebuah area yang sangat menyulitkan, skill yang terlalu rumit untuk dipelajari atau terlalu tidak seimbang? Musuh yang terlalu sulit dikalahkan?

3. Pada bagian mana play tester mulai mengantuk? Apakah storyline yang membosankan, game play atau mekanisme yang membuat play tester masuk ke pada situasi bosan karena terlalu repetitif atau terlalu sulit dipahami?

Playtesting yang dilakukan dengan baik akan menghasilkan banyak masukan seperti misalnya, saat play tester tidak dapat melanjutkan game tersebut, berarti pengembang harus merombak ulang desain game untuk mengetahui alasan pemain gagal melanjutkan game. Apabila game terlalu sulit, maka pengembang game perlu menyederhanakan game tersebut. Lain halnya apabila play tester melakukan hal-hal di luar dugaan, maka pengembang game perlu memperhatikan hal tersebut, jangan-jangan hal tersebut menambah sisi hiburan dalam game tersebut.

Demikianlah Kuliah Om Jas kali ini. Om Jas harap cukup berguna bagi para pengembang game maupun mereka yang ingin menjadi play tester pada sebuah game. Jangan lewatkan Kuliah Om Jas yang berikutnya ya.


SHARE
Previous articleNokia Lumia Sebenarnya Siap Tinggalkan Windows Phone dan Beralih ke Android
Next articleTGS 2013: Namco Bandai Rilis Debut Trailer Tales of Xillia 2 Versi Inggris
Saya adalah seorang penggemar game sekaligus pembuat game. Sehari-hari bekerja sebagai dosen konsentrasi Pengembangan Game, Program Studi Desain Komunikasi Visual, Fakultas Teknologi Informasi di Universitas Kristen Satya Wacana. Saat ini mendirikan sebuah studio game indie yang bernama Enthrean. Karena saya penggemar JRPG, impian saya adalah membuat studio game yang bisa menyaingi ketenaran Square Enix.