Live from TGS 2013: Kementrian Parekraf RI Kunjungi TGS

    Rombongan Kementrian Parekraf RI

    Harry Waluyo, Dirjen Ekonomi Kreatif basis Media, Desain, & IPTEK – Kementerian Pariwisata & Ekonomi Kreatif RI, berkunjung ke Tokyo Game Show 2013 pada hari pertama. Hal ini membuktikan bahwa pemerintah Indonesia begitu mendukung industri game tanah air. Seperti yang sudah kami beritakan tahun lalu, Mari Elka Pangestu, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, meninjau langsung pameran game terbesar di Jepang ini di tahun 2012.

    Selain untuk memberikan dukungan kepada Indonesia Game Studio, kedatangan Harry Waluyo adalah untuk melihat langsung pameran game di skala internasional. Apalagi belum lama ini Indonesia Game Show telah diselenggarakan juga di Indonesia. Bisa dibilang ini adalah studi banding untuk membawa industri game Indonesia ke level yang lebih tinggi.

    Dukungan langsung ke Indonesia Game Studio
    Menjelajah Tokyo Game Show

    Ditemani oleh Arief Widhiyasa (CEO Agate Studio), dan Kris Antoni (CEO Toge Productions), Harry Waluyo menjelajah booth-booth TGS. Mulai dari Square Enix, Capcom, Namco Bandai, hingga Koei Tecmo disinggahi oleh beliau. Tak hanya itu, Dirjen Ekonomi Kreatif ini bahkan juga sempat masuk ke booth merchandise Square Enix, dan menyaksikan langsung betapa luar biasa industri game internasional.

    Ada hal yang sangat menarik bagi saya. Ketika mengunjungi Game School Area, Harry Waluyo bertemu dengan pelajar dari Indonesia yang sudah tiga tahun menimba ilmu di Jepang. Dia adalah Daniela Setyobudi, gadis asal Surabaya yang belajar tiga tahun di Japan Electronics College. Sebuah pertanyaan menggelitik terlontar dari Harry Waluyo, apakah Daniela akan kembali ke Indonesia. Pelajar berusia 24 tahun ini menjawab bahwa dia telah mendapat kontrak kerja selama dua tahun di Jepang setelah menyelesaikan program studinya.

    Harry Waluyo dan Daniela Setyobudi
    Diskusi seputar edukasi game di Jepang

    Kunjungan langsung dari pemerintah semacam ini tentu saja sangat positif. Baik bagi pemerintah, maupun para pelaku industri. Hal ini juga dirasakan oleh Harry Waluyo, yang baru pertama kali ini mengunjungi TGS. “Saya rasa kita bisa banyak belajar dari event semacam ini,” ujarnya. “Terutama dengan adanya dua hari di TGS yang digunakan khusus untuk bisa. Seharusnya hal ini juga bisa dilakukan di event Indonesia.”

    Setelah lebih dari empat jam berkeliling TGS, termasuk menyaksikan Asia Game Business Summit, dengan Dien Wong (CEO Altermyth) sebagai salah satu panelisnya, Harry Waluyo dan rombongan Kementrian Parekraf meninggalkan Tokyo Game Show 2013. Beliau juga akan berkunjung ke kantor pusat Bandai Namco. Tunggu laporan eksklusifnya, lengkap dengan interview bersama Harry Waluyo, di Duniaku.net.


    SHARE
    Previous article‘Experience the 3rd Dimension,’ Featurette Terbaru dari Gravity
    Next articleTGS 2013 Booth Tour: Sony Dengan Booth Terluas! Mulai PS4, PS3, PS Vita, PS Vita TV dan Xperia
    Mengawali karier menulisnya pada tahun 1997 sebagai kontributor rubrik game majalah Mentari Putera Harapan. Namanya mulai dikenal setelah dia turut membidani lahirnya majalah game pertama di Indonesia, Game Master. Begitu banyak majalah yang lahir dari buah pemikirannya. Sebut saja Game Master, 3D Magazine, Ultima Nation, hingga Zigma dan Omega. Tidak hanya dikenal sebagai jurnalis dan konseptor, GrandC juga seorang penulis cerita. Saat ini dia banyak disibukkan dengan pengembangan Vandaria, dunia fiksi ciptaannya.