Live from TGS 2013: Bincang Seru dengan Harry Waluyo

    Meski baru pertama kali datang ke Tokyo Game Show, Harry Waluyo, Dirjen Ekonomi Kreatif basis Media, Desain, & IPTEK – Kementerian Pariwisata & Ekonomi Kreatif RI, ternyata sangat antusias. Bukan hanya industri kreatif dan game yang dipikirkannya, melainkan lebih dari itu. Membangun IP (intellectual property) yang kuat untuk menjadi identitas Indonesia di panggung kreatif dunia. Duniaku berkesempatan untuk diskusi seputar TGS dan apa manfaatnya bagi Indonesia.

    Duniaku (D): Ini pertama kali Bapak ke Tokyo Game Show?

    Harry Waluyo (HW): Betul sekali.

    (D): Apa kesan-kesan bapak terhadap Tokyo Game Show?

    (HW): Sebelum ke Tokyo Game Show, saya sudah melihat Indonesia Game Show. Itu adalah dua peristiwa yang objeknya sama, yaitu tentang game. Namun jika kita lihat di Tokyo, skalanya jauh berbeda. Baik itu dari kapasitas ruangan maupun pesertanya yang lebih besar. Saya kira kita bisa banyak belajar dari mereka.

    (D): Apa yang membedakan Tokyo Game Show dengan Indonesia Game Show kemarin?

    (HW): Di TGS ini ada dua hari yang memang digunakan untuk aktivitas bisnis. Hal ini sangat baik untuk memberikan kesempatan kepada para peserta agar bisa bertemu dengan para mitra bisnis mereka. Sayangnya hal ini belum ada di IGS kemarin.

    (D): Sebetulnya apa yang diharapkan dari pemerintah dengan mendukung Indonesian Game Studio di TGS ini?

    (HW): Saya percaya Indonesia punya talenta. Namun kita ini berdiri sendiri-sendiri. Lewat Indonesian Game Studio, Kementrian Parekraf ingin agar studio-studio game Indonesia bisa menjadi satu membawa nama Indonesia. Di dalamnya, tentu saja ada bendera masing-masing studio game.

    (D): Bagaimana pendapat bapak melihat booth Indonesian Game Studio kemarin?

    (HW): Ini adalah kali kedua Indonesia berpartisipasi di TGS. Saya tidak datang tahun lalu, sehingga tidak bisa membandingkan. Namun kami berharap Indonesia bisa lebih dikenal dunia lewat karya kreatifnya. Tentunya karena sudah ada game developer yang ikut di tahun sebelumnya, saya berharap untuk kegiatan tahun ini mereka lebih siap.

    (D): Menurut bapak, bagaimana potensi kreatif Indonesia?

    (HW): Kalau kita bicara soal game, Indonesia ini potensinya tersebar menjadi dua. Yang pertama adalah perguruan tinggi, kemudian berikutnya adalah komunitas. Karakteristik produknya sangat berbeda. Perguruan tinggi cenderung untuk membuat game edukasi. Sedang komunitas itu gamenya fun dan tujuannya bisnis. Keduanya punya potensi yang sangat besar, karena sama-sama membuat karya. Namun kebanyakan mereka melihat karya hanya sebagai sebuah produk. Padahal nilainya lebih dari itu. Pemerintah selalu mengingatkan agar mereka itu juga melindungi IP (intellectual property) gamenya. Terlebih lagi kalau sudah masuk di bisnis, IP itu sangat penting. Mereka bisa terus mendapatkan keuntungan di luar produk game itu sendiri.

    (D): Ini menarik. IP seperti apa, pak?

    (HW): Maksud saya tentang IP adalah hak cipta. Karya game itu kan banyak yang intengible. Ini yang harus dilindungi. Jangan sampai mereka tidak paham pentingnya ini. Nah, pemerintah siap memfasilitasi dari sisi IP ini.

    (D): Menurut Bapak, IP Indonesia seperti apa yang cocok untuk masuk ke pasar internasional?

    (HW): Karya apa saja boleh, selama positif dan membawa nilai-nilai luhur bangsa kita. Coba kita lihat Dragon Ball itu. Komiknya sudah berakhir lebih dari lima belas tahun, tapi gamenya masih saja dibuat sampai sekarang.

    (D): Lalu apa bentuk dukungan pemerintah kepada studio yang capable membuat IP?

    (HW): Ada direktorat khusus yang memfasilitasi mereka yang mau mendaftarkan IP-nya. Ini kami fasilitasi karena banyak juga dari pelaku industri ini yang belum tahu mekanismenya bagaimana. Silakan hubungi kami, di Dirktorat Kerjasama dan Fasilitasi, dengan Ibu Lolly Amalia Abdullah.

    (D): Lalu apa rencana berikutnya bagi Indonesian Game Studio?

    (HW): Indonesia tidak boleh berhenti hanya di TGS. Kita akan berpartisipasi juga ke event-event game internasional lainnya. Saya ingin teman-teman di industri juga paham bahwa pemerintah itu sangat mendukung apa yang mereka kerjakan dan siap memfasilitasi. Oleh karenanya mari bergabung bersama dan kita besarkan Indonesia bersama-sama.

    (D): Bagaimana dengan Indonesia Game Show? Apa rencana pemerintah?

    (HW): Saya kira harus ada perubahan. IGS ini kan diselenggarakan oleh swasta. Saya menyayangkan porsi Indonesia di dalamnya yang sangat kecil. Jika penyelenggaraannya seperti kemarin, Indonesia akan dipandang sebelah mata. Saya berencana untuk berdialog dengan EO-nya dan minta agar pemerintah bisa dilibatkan. Kita berkolaborasi juga.

    (D): Terima kasih atas waktunya.


    SHARE
    Previous articleChristian Bale Kenakan Kostum Val Kilmer Saat Audisi Batman!
    Next articleEvent Reminder: Duniaku Checkpoint Bersama Tim NusantaRanger!
    Mengawali karier menulisnya pada tahun 1997 sebagai kontributor rubrik game majalah Mentari Putera Harapan. Namanya mulai dikenal setelah dia turut membidani lahirnya majalah game pertama di Indonesia, Game Master. Begitu banyak majalah yang lahir dari buah pemikirannya. Sebut saja Game Master, 3D Magazine, Ultima Nation, hingga Zigma dan Omega. Tidak hanya dikenal sebagai jurnalis dan konseptor, GrandC juga seorang penulis cerita. Saat ini dia banyak disibukkan dengan pengembangan Vandaria, dunia fiksi ciptaannya.