Indonesian Game Studios di TGS 2013: TouchTen Games

Anton Soeharyo, CEO TouchTen

Salah satu studio game yang berpartisipasi di booth Indonesian Game Studios Tokyo Game Show 2013 adalah TouchTen Games. Studio game ini punya banyak prestasi membanggakan. Game-gamenya beberapa kali nongkrong di Top 10 Apps dunia. TouchTen memang punya game yang sangat beragam. Beberapa di antaranya sangat pas untuk pasar Jepang. Tengok saja Sushi Chain, Ramen Chain, The Adventures of Hachiko, sampai Zico: The Official Game.

Anton Soeharyo, CEO TouchTen, menunjukkan komitmennya dengan datang dan menjaga booth Indonesia. Keberadaannya merupakan aset penting bagi Indonesian Game Studios. Maklum saja, Anton pernah tinggal di Jepang cukup lama dan kemampuan bahasanya memudahkan pengunjung-pengunjung booth yang ingin tahu lebih banyak soal Indonesia. Dia tidak hanya menjadi juru bicara bagi TouchTen, melainkan juga mengenalkan game-game dari studio lain.

Kedatangan Anton di Jepang kali ini sebetulnya bukan hanya untuk Tokyo Game Show saja. Dia datang untuk menikahi gadis Jepang yang telah dipacarinya selama delapan tahun. Saya angkat topi untuk dedikasinya bagi Indonesian Game Studios. Di tengah kesibukannya, Anton masih menyempatkan diri untuk datang dan menjaga booth. Empat hari penuh! Bahkan di hari pernikahannya (Sabtu, 21 September 2013), Anton pun tetap datang. Luar biasa!

Di hari terakhir TGS, Anton juga meluangkan waktu untuk sharing pengalamannya kepada Duniaku.

Tim TouchTen Games di Indonesian Game Studios

Duniaku (D): Jadi bagaimana TGS kali ini menurut Anton?

Anton Soeharyo (AS): Ini adalah pertama kalinya aku ke TGS. Aku juga belum pernah ke event-event game internasional lain, seperti GDG atau E3. Tapi jelas kalau dibandingkan dengan event sejenis di Indonesia, ini beda sekali. Dari ukurannya, dari orang-orang yang datang, dari kerennya booth-booth-nya, dari apa yang mereka kasih, itu kerennya jauuuh. Seratus tingkat lebih tinggi dari apa yang ada di Indonesia. Overwhelmed banget sih!

(D): Game-game apa yang dibawa TouchTen ke TGS ini?

(AS): Terus terang game-game yang berbau-bau Jepang. Khususnya Ramen Chain dan Zico.

(D): Bagaimana tanggapan publik Jepang terhadap game-game Indonesia yang bernuansa Jepang seperti Ramen Chain?

(AS): Ramen Chain itu game membuat ramen, yang sangat menarik perhatian Jepang. Kami dapat banyak feedback juga untuk Ramen Chain. Salah satunya, supnya harusnya dimasukkan pertama, bukan terakhir.

(D): Bagaimana dengan Zico?

(AS): Sepak bola Jepang bisa seperti sekarang ini karena Zico. Dia yang membawa J League menjadi lebih baik. Bagi publik Jepang, Zico itu punya daya tarik yang sangat kuat. Banyak juga yang tertarik melihat atribut Zico dan bertanya Indonesia buat apa nih bareng Zico.

(D): Tiap studio punya misi pribadi di TGS ini. Kalau TouchTen, apa misinya?

(AS): Kali ini kita mencari strategic partner. Ada beberapa partner yang ingin membuat sesuatu bersama-sama kami di Indonesia. Partner-partner ini sudah sering ke Indonesia dan sudah beberapa kali ketemu dengan saya.

(D): Apa tanggapan Aton tentang booth kolaboratif Indonesian Game Studios?

(AS): Kita di Indonesia banyak banget talenta. Dan saya senang sekali TouchTen bisa menjadi bagian dari Indonesian Game Studios di TGS ini. Ini kaya tim nasional kalau main bola.

(D): Bagaimana kesannya selama empat hari menjaga booth Indonesian Game Studios?

(AS): Kita berterima kasih sekali kepada pemerintah dan Nikkei bisa diundang di sini. Cuman aku melihat booth-booth negara lain, seperti Taiwan, itu tampaknya bermodal banget. Booth-nya bagus banget. Aku sedikit ngiri nih. Kenapa kita nggak bisa seperti mereka. Ini bukan menyalahkan pemerintah, sih. Cuma saya merasa kalau booth Indonesia lebih baik, maka kita juga bisa lebih maksimal, lebih terlihat, lebih menonjol.

(D): Selama empat hari ini, hal-hal seperti apa sih yang ditanyakan oleh publik Jepang?

(AS): Mereka itu curious dengan Indonesia. Kebanyakan mereka ingin tahu Indonesia itu seperti apa marketnya. Ada juga yang nawarin mau enggak gamenya di-publish di Jepang.

(D): Booth Indonesian Game Studios ini kan terdiri atas beberapa developer game. Apa terasa ada gap, atau terkotak-kotak?

(AS): Saya bersyukur banget, di sini tidak ada kotak-kotak seperti itu.

(D): Bukannya kalian itu kompetitor ya?

(AS): Di Indonesia sekali pun, bahkan aku juga nggak pernah merasa kita ini kompetitor. Jadi pas di sini pun secara natural kita juga bisa saling dukung.

(D): Studio game di Indonesia kan banyak yang belum tergabung dengan timnas ini. Apa pesan-pesan Anton untuk mereka yang belum gabung?

(AS): Walau kita belum punya game untuk dipamerkan ke publik Jepang, namun itu tidak masalah. Datang aja dulu ke sini. Atur business meeting dengan studio-studio game Jepang. Nikkei kan punya network untuk business meeting yang lumayan bagus. Siapa tahu, malah dapat job dari Jepang. Datang dulu deh. Itu akan membuka banyak hal.

(D): Apa harapan Anton terhadap Indonesian Game Studios?

(AS): Saya pengen lebih banyak studio game Indonesia yang punya game-game untuk dipasarkan di Jepang.

(D): Apa ada input untuk pemerintah?

(AS): Saya rasa yang pemerintah lakukan sudah luar biasa banget. Cuma mungkin untuk kebaikan bersama. Booth-nya bisa lebih besar. Di event internasional seperti ini orang lihat besarnya booth dan WAH-nya booth. Mungkin ini hanya masalah ego. Tapi kita kan membawa nama Indonesia.

(D): Tapi apa cukup dengan hanya memperbesar dan mempermewah booth, membuat Indonesia lebih dipandang di mata dunia?

(AS): Ya, mungkin banyak studio game Indonesia yang memang belum siap. Tapi banyak juga yang punya punya karya bagus, cuma belum ikut bergabung dalam timnas ini.

(D): Menurut Anton, apa yang harus dilakukan agar mereka yang hebat-hebat itu bisa ikutan juga ke TGS?

(AS): Semoga, setidaknya tiket bisa di-subsidi. Supaya lebih banyak orang yang bisa berangkat. Aku lihat banyak teman-teman kita yang numpang-numpang, doang. Itu kan kurang maksimal. Saya yakin bukannya mereka nggak ada duit, cuma ya ragu-ragu aja.

(D): Siapa saja yang perlu di-subsidi tiketnya?

(AS): Ya, kudu ada filter khusus. Mereka yang punya achievement tentunya.

Anton Soeharyo dan istri

(D): Dengar-dengar tujuan Anton ke Jepang ini bukan hanya untuk TGS dan Indonesian Game Studios ya?

(AS): Ya, jadi sekalian saya menikahi pacar. Hahaha.

(D): Wah, SELAMAT!! Pacarnya memang orang Jepang?

(AS): Iya, orang Jepang. Udah tujuh atau delapan tahun. Lucunya kami ketemunya bukan di Jepang, melainkan waktu studi banding di Cina.

(D): Ribet engga tuh proses menikah di Jepang? Siapa tahu ada teman-teman gamedev lain yang pengen menikah juga dengan orang Jepang?

(AS): Hahaha, gampang-gampang susah sih. Untungnya orang-orang KBRI sangat membantu. Jadi aku harus mengambil beberapa dokumen di kelurahan Indonesia, kemudian baru diproses di KBRI sini untuk mendapat surat pengantar nikah. Surat pengantar nikah ini kemudian baru di bawa ke kelurahan di sini. Itu baru sah. Tapi udah sah di Jepang, bukan berarti kita sudah sah di Indonesia. Aku harus kembali ke KBRI lagi untuk mendapatkan surat keterangan nikah. Surat itu nantinya harus dibawa lagi ke kelurahan di Indonesia. Lucu juga suka dukanya.

TouchTen akan datang lagi tahun depan!

(D): Selamat, selamat. Kembali ke TGS. Apa sih harapan pribadi Anton untuk TGS tahun depan?

(AS): Saya pengen tahun depan bisa pergi lagi dan lebih siap lagi. Saya merasa TouchTen tahun ini belum ready.

(D): Betul sekali. Hari ini saya lihat ada orang yang udah muter booth ini empat kali sambil lihat kaos Zico, tapi dia nggak berani tanya.

(AS): Ya, betul sih. Sedikit disayangkan, kami kurang siap. Tapi tahun depan pasti lebih disiapkan!

(D): Jadi tahun depan, TouchTen pasti ikut lagi?

(AS): Pasti!


SHARE
Previous articleTGS 2013: GREE Mengecil dan GungHo Membesar, Mobile dan Social Game Tetap Kuat di Jepang
Next articleMighty No. 9 Dapatkan Challenge Mode dan Stage Ekstra
Mengawali karier menulisnya pada tahun 1997 sebagai kontributor rubrik game majalah Mentari Putera Harapan. Namanya mulai dikenal setelah dia turut membidani lahirnya majalah game pertama di Indonesia, Game Master. Begitu banyak majalah yang lahir dari buah pemikirannya. Sebut saja Game Master, 3D Magazine, Ultima Nation, hingga Zigma dan Omega. Tidak hanya dikenal sebagai jurnalis dan konseptor, GrandC juga seorang penulis cerita. Saat ini dia banyak disibukkan dengan pengembangan Vandaria, dunia fiksi ciptaannya.