Indonesian Game Studios di TGS 2013: Agate Studio

Tahun ini adalah kali kedua Agate Studio tampil di Tokyo Game Show. Jika sebelumnya Agate Studio diwakili oleh Shieny Aprilia (COO), kali ini sang CEO, Arief Widhiyasa yang turun langsung. TGS ini merupakan event yang sangat penting bagi Agate Studio. Apalagi studio game asal Bandung ini punya banyak sejarah dengan developer dan publisher Jepang. Baru-baru ini Agate Studio juga meluncurkan game Sengoku IXA, yang dikembangkan oleh Square Enix.

Di Press Room TGS 2013, Arief Widhiyasa berbagi kesan-kesannya kepada Duniaku:

Arief bersama Kris (Toge) dan rombongan Parekraf

Duniaku (D): Bagaimana kesan-kesannya selama TGS kemarin?

Arief Widhiyasa (AW): Ini pertama kalinya saya ke TGS, jadi ekspektasinya baru ke-set, hohoho! Seru banget sih so-far, tapi menarik juga ya, dulu sebelum masuk industri (pas masih sekolah dulu) kayanya sangat pengen banget bisa ke TGS, coba-cobain game baru, tapi kali ini pas ke TGS excitednya karena hal yang berbeda. Inspired sama game company yang udah keren-keren, impressed dan jadi observasi cara mereka launching gamenya, exponya, merchandisenya, booth crewnya, video-videonya, peletakan gamenya, catalog game yang dipilih untuk di-showcase. Trus sangat impressed juga dengan dunia akademi game di Jepang yang sudah sangat mature. Sempet cobain beberapa game di sini, talenta-talentanya sudah sangat siap untuk masuk industri. Trus sempet ke Indie Showcase juga, takjub juga dengan kreativitas-kreatifitasnya disini. Jadi overall experiencenya mantaph dah!

(D): Game-game apa yang dibawa Agate ke TGS ini?

(AW): Kali ini kami tidak terlalu bawa game untuk Expo. Kami lebih banyak fokus di business meeting-nya untuk TGS kali ini. Tapi kami ada bawa satu prototype game kami yang sangat menarik.

(D): Ini adalah kali kedua Agate Studio ikut di TGS. Menurut Arief, apa bedanya TGS tahun ini dengan tahun lalu?

(AW): Wah pertanyaan sulit, kebetulan yang kemarin datang bukan saya, jadi mungkin saya ga bisa komparasi langsung. Tapi so-far pengalaman di TGS ini sangat menarik, banyak ketemu orang baru juga, banyak belajar dari industri yang lebih mature.

(D): Agate bersama Square Enix baru saja merilis Sengoku IXA di Indonesia. Ini menunjukkan bahwa studio Indonesia bisa co-development dengan Jepang. Bagaimana tanggapan Jepang tentang hal ini?

(AW): Nah yang ini cukup asik ya, jadi kami sangat bersyukur dan merasa beruntung bisa bekerja sama dengan SQEX, dan tentunya ini memberikan dampak positif terhadap persepsi company-company game lain dari Jepang khususnya terhadap Agate dan terhadap perkembangan game industri di Indonesia.

(D): Menurut Arief, apa sih yang sebetulnya dilihat perusahaan Jepang dari Indonesia?

(AW): Hmmmm, dari observasi singkat, sebenarnya masih banyak yang sedang mengeksplorasi (masih kebanyakan mode-nya wait and see), tapi ada beberapa yang sudah proaktif eksplorasi, dan dari yang sudah cukup proaktif. Saya lihat ada dua hal yang paling diminati dari Indonesia. Yang pertama itu Pasar Indonesia sangan potensial menjadi engine of growth masa depan, dan yang kedua, talenta dari Indonesia juga memiliki potensial yang sangat tinggi untuk dikembangkan menjadi game developer.

(D): Bagaimana tanggapan Arief tentang Indonesian Game Studios?

(AW): Menurut saya, ini inisiatif yang sangat luar biasa ya, kami bisa maju bersama-sama di event international seperti TGS. Saya quote dari kata-kata bro Anton dari TouchTen, ibaratnya ini kaya TimNas di Bola, jadi seru banget! Jarang-jarang pada bisa ngumpul rame-rame kaya gini. Jadi makin kenal satu sama lain, banyak canda baru juga ke-invent, hahahaha. Apalagi saya satu kamar dengan teman-teman dari Altermyth, kayanya sepanjang hari itu kita keketawaan terus! Seru banget. Bener-benar Live the Fun Way.

(D): Efektif enggak sih Agate ikutan booth kolaboratif seperti ini?

(AW): Kalau efektif atau nggak sangat tergantung tujuan dari company masing-masing ya. Kalau untuk Agate sih, kami merasa sangat efektif, apalagi ada tim (dari Altermyth) yang fulltime menjaga di booth sehingga membuat efektivitas teman-teman yang lain jadi bisa eksplorasi ke luar juga.

(D): Apa saran Arief agar Indonesian Game Studio bisa tampil lebih baik lagi?

(AW): Untuk saran teknis saya yakin setiap individu/kelompok yang datang pasti sudah mendapatkan banyak feedback atau pelajaran dari event kali ini dan dikembangkan dari tahun ke tahun, jadi mungkin lebih ke pengharapan ya. Saya yakin Indonesia Game Studio bisa tampil lebih baik lagi kalau peserta (Game Studio) yang ikut berangkat dari Indonesia juga lebih banyak lagi. Kalau makin ramai pasti booth-nya juga makin ramai, dan pastinya jadi makin heboh.

(D): Tiap perusahaan game punya misi masing-masing, selain membawa bendera Indonesia dalam Indonesian Game Studios. Kalau Agate, misinya apa nih?

(AW): Kalau dari kami, misi utamanya kami ingin belajar dari industri yang sudah mature, dan mengeksplore opportunity untuk bisa berkolaborasi dengan teman-teman dari industri yang sudah lebih mature.

(D): Apa hal paling menarik di TGS kemarin bagi Arief?

(AW): Wah ini sulit. Saya jarang kasi prioritas paling buat sesuatu yang emosional. Hmmm, apa ya… subjectively & personally, saya melihat yang paling menarik adalah interaksi antar sesama game developer lokalnya sih, jadi makin kenal satu sama lain, persatuannya jadi makin terasa, jadi makin klop lah!

Dien Wong, Harry Waluyo, Arief Widhiyasa

(D): Ada pesan untuk rekan-rekan gamedev yang belum ikut ke TGS?

(AW): Ayo ikutan! Pasti seru kok, dan banyak pembelajaran yang bisa didapat, even hanya dengan muter-muter di exponya, ketemu orang-orang dari perusahaan lain pas business meeting, ataupun dari obrolan sesama studio dari Indonesia yang ngobrol-ngobrol santai pas booth baru tutup, pas makan bareng. Jarang2 loh studio-studio-nya pada ngumpul dan pada punya waktu banyak buat bisa sharing-sharing dan tukar pikiran bareng-bareng.

(D): Terakhir, apa yang diharapkan dari Arief event semacam TGS ini?

(AW): Ini berarti untuk TGSnya ya? Hmmmmm, kebetulan kami pernah ada pengalaman mengadakan event yang skalanya lumayan besar dulu, jadi melihat TGS kemarin, sudah sangat-sangat well-organized, jadi sudah super keren banget! Harapannya mungkin pas business day, kalau bisa ada momen dimana perkenalan bisa agak sedikit di-endorse selain via BMS (Business Matching System saja) tapi melalui informal party yang efektif misalnya.


SHARE
Previous articleBerikan Pilihanmu untuk Desain Karakter Call di Mighty No. 9
Next articleKamu Bisa Membangun Trans Town di One Piece: Unlimited World R
Mengawali karier menulisnya pada tahun 1997 sebagai kontributor rubrik game majalah Mentari Putera Harapan. Namanya mulai dikenal setelah dia turut membidani lahirnya majalah game pertama di Indonesia, Game Master. Begitu banyak majalah yang lahir dari buah pemikirannya. Sebut saja Game Master, 3D Magazine, Ultima Nation, hingga Zigma dan Omega. Tidak hanya dikenal sebagai jurnalis dan konseptor, GrandC juga seorang penulis cerita. Saat ini dia banyak disibukkan dengan pengembangan Vandaria, dunia fiksi ciptaannya.