Arkana dan Combo Card: Dua Card Game Terbaru di Toys & Games Republic 2013

TGR

Toys & Games Republic (TGR) adalah acara tahunan yang mewadahi berbagai komunitas mainan, termasuk card game, untuk bertransaksi dan berinteraksi. Sebagai toys fair terbesar di Jawa Barat, TGR siap mewadahi 100 tenant dan 20 komunitas hobi berskala nasional. TGR tahun ini juga diadakan di Bandung, kali ini di Be Mall pada 4-6 Oktober 2013

Dua card game teranyar yang hadir di TGR tahun ini adalah Arkana dari Vandaria Saga dan Combo Card dari StormIdea Games. Dengan booth berdampingan, Arkana dan Combo Card siap meramaikan TGR dengan keistimewaannya masing-masing. Selain tutorial, pengunjung dapat berdiskusi dengan tim Vandaria dan tim Combo Card tentang pengembangan kedua card game ini.

Vandaria Arkana

TGR Arkana

Vandaria Arkana adalah permainan kartu yang dibuat berdasarkan Vandaria Saga, serial fantasi terbesar di Indonesia. Turnamen Arkana telah digelar dua kali, yaitu di Popcon 7 Juli 2013 dan di Indonesia Game Show 10 Agustus 2013. Kedua turnamen itu mendapatkan sambutan hangat baik dari player Vandaria Wars maupun player baru.

Saat bermain Arkana, player menjadi seorang penguasa yang bersaing dengan penguasa-penguasa lain untuk mengumpulkan wilayah dan menjadi Lord of Arkana. Player bermain dengan tiga jenis kartu, yaitu Territory, Follower, dan Action. Follower dimainkan untuk menyerang atau mempertahankan Territory, sementara Action memberikan efek khusus yang sekali pakai. Dengan jumlah pemain 3 hingga 6 orang, Arkana dapat dimainkan bersama-sama dalam satu meja.

Vandaria Arkana merupakan revival project bagi Vandaria Wars, trading card game Vandaria yang berjaya selama 2005-2011 dan mendapatkan penghargaan MURI sebagai trading card game pertama Indonesia. Arkana sengaja dirancang dengan peraturan permainan yang lebih mudah daripada Wars agar lebih ramah bagi pemain-pemain baru. Arkana dicetuskan oleh Rynaldo C. Hadi, penulis Vandaria Saga: Tabir Nalar, dan dikembangkan oleh Felix Adrianto dan kawan-kawan.

Keunikan Arkana adalah permainan kartu ini turut hidup dalam dunia Vandaria sebagai permainan yang populer di kalangan frameless Edenion dan Pandora. Bisa jadi dalam cerita-cerita Vandaria Saga nanti (baik dalam novel, game, komik, maupun lain-lain), Arkana akan hadir dan berperan.

TGR Arkana

Combo Card

TGR Combo

Combo Card adalah card game yang digagas oleh Henry Darmawan dan dikembangkan oleh Henry bersama Buntono Sidik (Abun). Diluncurkan oleh StormIdea Games pada awal tahun ini, Combo Card telah menarik perhatian dengan alur permainannya yang seru di balik kesederhanaan desainnya.

Saat bermain Combo Card, player menjadi penyihir muda (elementalis) di Consortium for Magic Battle Ordination. Dengan lima elemen dasar dan empat elemen kombinasi (combo), para player bertarung untuk menjadi elementalis terkuat. Sama dengan Arkana, Combo Card dirancang untuk pemain berusia 12 tahun ke atas tapi tidak menutup kemungkinan bisa dimainkan oleh anak-anak berusia 8-11 tahun yang sudah terbiasa dengan card game.

Apabila Arkana adalah produk kesekian dari semesta Vandaria, Combo Card adalah produk pertama untuk semesta Combo yang masih sedang dikembangkan oleh para kreatornya. Semesta Combo akan diperluas dan diwujudkan menjadi berbagai produk, seperti novel, video game, komik, atau lain-lain. Situs comboarena.com juga sedang dikembangkan untuk menjadi tempat beradu Combo Card lewat dunia maya.

Booth Combo Card di TGR 2013 akan dijaga sendiri oleh kedua kreator Combo, yaitu Henry dan Abun. Maka TGR 2013 dapat menjadi kesempatan kita untuk mendapatkan bocoran terkini mengenai pengembangan semesta Combo.

TGR Combo

Untuk mendapatkan info lebih lanjut tentang Arkana dan Combo Card, Anda dapat menghubungi:

Anton Budiono : 0818 721 308

Melody Violine : 0857 8281 7088

Buntono Sidik : 0838 9366 6466


SHARE
Previous articleNew Line Cinema Rilis Tiga Banner Keren dari The Hobbit: The Desolation of Smaug
Next articleLoki Dirantai dalam TV Spot Terbaru Thor: The Dark World
Meskipun menyandang nama musik, Melody Violine lebih senang menulis daripada bermain musik. Itulah mengapa ia memutuskan untuk kuliah di Program Studi Indonesia FIB UI hingga lulus pada tahun 2009. Selain menjadi kontributor Duniaku, ia menerjemahkan novel-novel dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia, termasuk di antaranya adalah adaptasi novel Assassin's Creed (Oliver Bowden).