Lebih Dalam Tentang Bima Satria Garuda Bersama Reino Barack

Hai Citizen! Kalian semua pasti sudah tau dong apa itu Bima Satria Garuda. Ya, Tokusatsu pertama asli Indonesia ini telah merhasil menarik perhatian masyarakat Indonesia, terutama anak-anak dan para pencinta Tokusatsu. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia telah sangat haus akan kehadiran pahlawan lokal yang keren. Beruntung Duniaku memiliki kesempatan untuk bertemu secara langsung dan berdiskusi dengan pencipta Bima Satria Garuda, Reino Barack. Simak interview kita!

D: Bisa diceritakan bagaimana lahirnya Tokusatsu ini?

R: Pada awalnya saya tidak bermaksud membuat Tokusatsu, saya hanya ingin membuat konten anak-anak yang baik. Awalnya saya malah ingin membuat anime dan mengusung tema local, seperti pencak silat, bulu tangkis, sepakbola atau yang lainnya. Semangat ini saya peroleh ketika saya merasa jengah dengan kondisi konten yang ada di media TV, yang jujur, tidak banyak yang bisa mendidik masyarakat. Sayangnya, hal tersebut memang digemari oleh masyarakat. Berangkat dari sana, saya ingin membuat suatu konten yang memiliki nilai positif, terutama untuk generasi muda. Saya merasa bahwa anak-anak muda perlu sosok pahlawan yang dapat menjadi panutan. Saya ingin membuat sesuatu yang dapat menjadi penyeimbang dari keseluruhan konten di TV. Superhero ini sendiri sebenarnya hanyalah packagingnya saja. Yang harus dilihat adalah esensi dari tokoh Ray ini, dimana dia adalah seseorang yang kurang beruntung dalam hidup namun berhati mulia dan memiliki banyak tanggung jawab. Saya ingin menanamkan hal ini kepada anak-anak di masa depan agar mereka tidak pernah mengenal kata putus asa. Dalam prosesnya, saya bekerjasama dengan Ishimori, salah satu rumah produksi pemegang lisensi Kamen Rider. Hal ini saya lakukan agar terjadi transfer knowledge antara Indonesia dan Jepang, sehingga kedepannya kita dapat menjadi lebih mandiri dan memproduksi sendiri. Namun perlu diingat, Bima Satria Garuda bukan Kamen Rider, Bima adalah produk baru yang saya namakan Satria. Lisensinya-pun sebagian besar dipegang oleh MNC.

D: Untuk desainnya sendiri, apa yang menginspirasi Bima Satria Garuda?

R: Untuk desain memang bukan saya yang menggambar, tapi hampir semuanya berdasarkan arahan saya. Desain awalnya memang sangat mirip dengan belalang, karena Bima Satria Garuda memang hasil kerjasama MNC dengan Ishimori. Namun saya tetap meminta agar nilai-nilai Indonesia tetap dituangkan dalam Bima. Garuda yang menjadi hewan mitologi Indonesia juga saya jadikan landasan dari Bima.

D: Dalam proses produksi, apakah ada supervisi dari pihak Jepang?

R: Pada awalnya ada tiga orang dari pihak Ishimori, yaitu Sutradara, DOP (Director of Photoraphy) dan Correographer. Mayoritas kru tetap dari Indonesia. Namun seiring dengan berjalannya produksi, saya merasa kami perlu lebih banyak belajar. Sehingga saat ini ada tujuh orang dari pihak Jepang yang membantu keseluruhan proses produksi Bima Satria Garuda. Bahkan proses editing sampai saat ini sepenuhnya saya pegang sendiri. Diharapkan kedepannya kami bisa membuat dengan kualitas yang lebih baik dan murni sendiri.

D: Bagaimana respon penonton terhadap BSG?

R: Sampai saat ini rating sudah diatas rata-rata. Namun kalau dari saya sendiri, dari segi kualitas, saya merasa masih kurang. Menurut saya, masih banyak room for improvement yang bisa dilakukan. Selain itu, memang gaungnya masih terasa kurang, masih banyak orang yang belum mengetahui apa itu Bima Satria Garuda. Produk ini sendiri kedepannya akan saya bawa ke ranah licensing, sehingga Bima Satria Garuda mampu mencapai seluruh lapisan masyarakat dan dikenal secara luas.

D: Hubungan seperti apa yang terjalin dengan Bandai untuk Bima Satria Garuda?

R: Murni licensing business. Kami sebagai pemilik license Bima Satria Garuda menjualnya ke Bandai sehingga mereka yang memproduksi semua mainannya. Kami memilih Bandai karena kualitasnya sudah terjamin. Namun tetap saya minta secara langsung agar kualitasnya terjaga. Permintaan saya kepada mereka juga sangat banyak, sepertinya saya sudah membuat mereka pusing.

D: Gackt sempat datang ke Indonesia, apakah hal ini terkait dengan Bima Satria Garuda?

R: Ya, memang datang untuk melakukan shooting Bima Satria Garuda. Dia akan tampil sebagai Bima Legend, tokoh Satria yang tidak berasal dari dunia manusia. Sosok Bima Legend sendiri nantinya akan menjadi mentor bagi Bima, seperti Mister Miyagi dalam Karate Kid.

D: Bagaimana dengan artis Jepang lainnya? Apakah ada yang akan ikut bergabung?

R: Tidak, sampai saat ini belum ada. 

D: Bagaimana dengan artis lokal? Apakah ada rencana untuk mengajak mereka bergabung sebagai Satria?

R: Ada, namun tidak sebagai Satria. Saya cukup hati-hati dalam memilih pemeran, terutama untuk tokoh-tokoh utama. Kenapa saya memilih, sebagai contoh, Christian Loho, Adhitya Alkatiri dan Rayhan Febrian, adalah karena mereka netral dalam artian tidak terhubung dengan konten lainnya. Saya maunya ketika orang mendengar nama-nama tersebut, yang terbayang adalah Bima Satria Garuda. Sama seperti Tetsuo Kurata, sampai saat ini dia tetap dikenal sebagai Kotaro Minami. Selain itu, mereka semuanya memang pribadi yang baik di kehidupan aslinya, hal ini menjadi penting karena mereka harus bisa menjadi panutan anak-anak. Tentu saja kita tidak ingin mendengar kalau pahlawan kesayangan kita ternyata berperilaku tidak sepantasnya di kehidupan nyata bukan? Bayangkan saja Kotaro Minami terlibat suatu skandal, saya rasa para anak kecil yang dulu menonton dan mengidolakan dia akan trauma. Saya tidak mau hal itu terjadi.

D: Spoiler sedikit. Apakah Bima akan muncul dalam wujud lainnya?

R: Spoiler ini telah diperlihatkan di Anime Festival Asia 2013 kemarin, yaitu Bima God Helios Form. Untuk form lainnya, tonton saja Bima Satria Garuda.

D: Season 1 akan selesai di episode 26, apa rencana selanjutnya untuk Bima Satria Garuda?

R: Sampai saat ini belum ada rencana yang pasti. Saat ini saya sudah mulai merancang untuk season 2, tapi kembali lagi harus menunggu perhitungan-perhitungan lainnya. Yang pasti, antara season 1 dan 2 akan ada jeda terlebih dahulu. Tapi melihat rating diatas rata-rata seperti ini, saya cukup optimis untuk bisa melanjutkan seri Satria secara terus menerus.

D: Ada rumor yang mengatakan bahwa memasuki episode 16, script akan dipegang oleh pihak Jepang. Apakah betul?

R: Iya betul. Ini akan terus berlangsung sampai episode 26. Hal ini saya lakukan karena saya merasa kita masih harus perlu belajar dari yang sudah berpengalaman terlebih dahulu dalam menciptakan cerita yang kuat. Tindakan ini sendiri sebenarnya di luar rencana, bahkan budget untuk melakukan ini tidak ada dalam perhitungan awal. Namun untuk membuat Bima menjadi sempurna, saya rasa ini perlu dilakukan.

D: Pemilihan bahasa dalam Bima Satria Garuda terasa kaku. Apakah memang sengaja seperti itu?

R:  Iya, itu permintaan saya sendiri. Seperti saya bilang sebelumnya, saya ingin menciptakan konten yang positif bagi generasi muda, terutama anak kecil. Saya tidak ingin anak-anak Indonesia lebih mengenal bahasa gaul dan melupakan bahasa Indonesia. Mereka harus selalu diingatkan seperti apa bahasa Indonesia yang baik dan benar.

D: Apakah ada rencana merilis Bima Satria Garuda versi internasional atau mungkin movienya?

R: Untuk versi internasional ada. Prosesnya antara melakukan dubbing atau subtitle. Namun untuk membawa Bima ke Internasional, kualitas masih perlu ditingkatkan. Saya tidak akan melakukan re-shoot. Saya akan melakukan remaster, terutama untuk animasi dan sound.

D: Apakah ada rencana untuk menuangkan Bima Satria Garuda dalam bentuk komik atau videogame?

R: Itu semua tergantung dari bisnis licensing yang akan dikerjakan. Kami selalu terbuka untuk segala macam kerjasama. Namun, sampai saat ini saya cenderung fokus pada Toys dan Action Figure yang banyak digemari anak-anak.

D: Apakah ada rencana bagi Bima untuk berkolaborasi dengan Kamen Rider?

R: Satria memang produk baru dari Ishimori tapi tidak berhubungan dengan Kamen Rider. Kamen Rider merupakan lisensi kerjasama antara Ishimori dan Toei. Sedangkan Bima Satria Garuda merupakan seri Satria hasil kerjasama MNC dengan Ishimori. Oleh karena itu pula saya tidak menggunakan Belt untuk berubah, tapi menggunakan Bima Changer. Belt saya rasa sudah terlalu identik dengan Kamen Rider. Bima juga sampai saat ini belum memiliki tunggangan, karena tunggangan yang umumnya berbentuk motor merupakan ciri khas Kamen Rider. Saya sendiri ingin agar seri ini terus berlanjut sehingga lahir Satria-Satria barus setiap tahunnya. Namun untuk kolaborasi sendiri saya rasa kenapa tidak. Hal tersebut memang belum pernah dibicarakan dengan Toei dan Ishimori. Mungkin Ishimori yang bisa menjembatani hal ini.

D: Bagaimana dengan superhero lokal seperti Gundala, Godam atau Panji dan Saras. Apakah ada rencana untuk menyatukan mereka dalam Bima?

R: Selama visi dan mau mengangkat dari segi edukasinya kenapa tidak? Tapi mungkin tidak di layar kaca ya karena secara desain sosok-sosok ini sangat berbeda. Namun dalam bentuk merchandise ataupun offline event mungkin saja.

D: Misi besar Reino adalah menciptakan sosok pahlawan yang dapat menjadi panutan anak-anak. Bagaimana dengan sosok superhero lokal lainnya, seperti Vandaria misalnya. Apakah agenda untuk kerjasama?

R: Belum ada yang benar-benar datang untuk mengajak kerjasama dengan saya mengenai hal ini. Bima terlahir melalui kerjasama Ishimori, sehingga kita juga memperoleh ilmu untuk melakukan produksi secara mandiri kedepannya. Namun apabila ada produk lokal yang memiliki kualitas tinggi dan visi yang sama. Saya rasa sangat mungkin untuk dilakukan.  

Reino memiliki misi yang sangat luar biasa dalam membantu membangun generasi muda Indonesia yang lebih baik. Sosok Bima sendiri merupakan panutan yang perlu ditiru generasi muda Indonesia. Semoga seri Satria dapat terus berlanjut dan menghasilkan pahlawan-pahlawana baru bagi Indonesia!


SHARE
Previous articleAston Martin Milik Jason Statham Menampakkan Wajahnya di Lokasi Syuting Fast & Furious 7
Next articleSamsung Galaxy J Menjadi Perpaduan Antara Galaxy S4 dan Galaxy Note 3
Liverpudlian | Airplane enthusiast | History lover | Science minded | Hardcore gamer | Warmonger. Lulus dari STP Sahid pada tahun 2012, sempat bekerja di Club Med Resort selama 6 bulan pada tahun 2012 sebagai bagian dari program internship kampus. Bekerja di departemen MICE (Meeting, Incentives, Conferences and Exibitions). Aktif di WWF-Indonesia sejak 2010 sebagai volunteer untuk kampanye Earth Hour dan menjadi tim inti Earth Hour Jakarta pada tahun 2013. Saat ini aktif sebagai staff perlengkapan di Look Around Indonesia, sebuah NGO yang memfokuskan diri di bidang sosial terutama anak muda.