HTC One Max, Smartphone Raksasa Dengan Proteksi Sidik Jari

Setelah beberapa kali muncul secara tidak resmi, akhirnya kemarin HTC mengumumkan HTC One Max, versi yang lebih bongsor dari HTC One sekaligus dengan ugrade beberapa fitur seperti layar membesar menjadi 5.9-inchi, sensor sidik jari dan opsi menambah storage melalui slot microSD.

Spesifikasi dan fiturnya memang tidak membuat kami terkejut, karena semuanya sudah bocor sebelum HTC sendiri resmi mengumumkannya. One Max mengajukan layar 5.9-inchi dan prosesor yang sayangnya masih sama seperti kakaknya HTC One yang berlayar 4.7-inchi, Qualcomm Snapdragon 600. Sensor sidik jari yang diposisikan di bawah kamera utama seakan juga menjadi pengikut tren yang mulai dipopulerkan oleh Apple melalui iPhone 5s. One Max juga langsung menjalankan Android 4.3 Jelly Bean yang dibaluk dengan interface HTC Sense versi 5.5.

Seperti kompetitor Android lainnya, layarnya yang menggunakan material Super LCD 3 sudah full HD 1080p. Penulis pribadi menyukai material tersebut, selain IPS, karen mampu menyajikan warna yang natural, tidak terlalu tinggi kontrasnya dan berakhir seperti gambar kartun, seperti yang penulis temui pada tipikal layar AMOLED (Galaxy S4 dan Note 3 masuk di sini). Dengan bidang yang membesar, HTC masih percaya prosesor Krait 300 quad-core 1.7GHz melalui chipset Snapdragon 600 mampu mengoperasikan semua tugas yang dibebankan dengan lancar. Apalagi ada memory RAM 2GB yang mendukungnya dan GPU Adreno 320. Kemudian yang juga banyak disambut baik adalah leganya kapasitas baterai, karena di sini diberikan baterai hingga 3300 mAh, yang lebih baik dari HTC One, karena bisa diakses bebas dengan casing belakang yang bisa kamu lepas. Namun tetap saja baterai tersebut ditanam di dalamnya, dan tidak akan mudah kamu lepaskan.

Jika kapasitas sebesar itu dirasa kurang, HTC sudah memikirkan solusinya. Mereka juga menawarkan flip cover yang memiliki baterai cadangan 1150 mAh. Dengan baterai yang bisa diakses bebas tidak seperti pada HTC One, dalam One Max kita bisa menemukan kembalinya slot microSD untuk One Max ini di balik penutup casing belakang — selain juga slot microSIM. HTC mengklaim smartphone bongsor mereka ini bisa menerima micro SD hingga kapasitas 64 GB. Selain potensi menambah storage tersebut, kamu juga bisa memilih membelinya dengan opsi default internal storage 16GB atau 32GB. Bukan hanya itu saja, HTC yang bekerjasama dengan Google juga menawarkan tambahan kapasitas langganan storage Drive di awan sebesar 50GB bagi para pengguna One Max.

Menunjuk pada data pengajuan sertifikat Ditjen Postel, sepertinya yang akan beredar di Indonesia adalah varian One Max yang mendukung koneksi 4G LTE. Selain koneksi data GSM kecepatan tinggi tersebut, kamu juga masih bisa menggunakan WiFi a/b/g/n/ac, Bluetooth 4.0 (dengan opsi aptX), GPS, dan NFC untuk konektivitas lokal. Sensor yang diusung One Max pun masih sama, termasuk magnetic san gyroscope. Di beberapa wilayah penjualan, HTC juga berencana memaketkannya dengan stylus capacitive untuk One Max ini. Sekadar stylush capacitive biasa, bukan dengan stylush aktif seperti pada Galaxy Note 3.

Lebih spesifik melihat sensor sidik jari pada casing belakangnya, HTC menyebut sensor itu dengan “Fingerprint Scan.” Menurut HTC mereka memberikan banyak fitur khusus memanfaatkan sensor tersebut. Mulai fungsi dasar untuk membuka dan mengunci One Max, hingga jalan pintas untuk meangaktifkan hingga tiga aplikasi. Sayangnya, sensor ini tidak seperti Touch ID-nya iPhone 5s, yang bisa mengaktifkan dan langsung membuka kunci.

Kamu tetap perlu mengaktifkan One Max, baru kemudian menenpatkan jari yang kamu buat untuk membukanya. Selama proses scan posisi jari juga harus vertikal, yang mungkin akan menyusahkan karena ketika kita menggenggam One Max dengan satu tangan, dan mencoba menempatkan jari di atas sensornya, posisi vertikal ini susah dicapai.

Kemudian kameranya tidak di-downgrade dari HTC One, dan semoga tidak mengalami gejala “purple tint” yang banyak diderita pengguna HTC One (dan solusinya hanya mengganti modul kameranya di service center). Kamera UltraPixel dengan sensor BSI 2.0-micron pixel (untuk hasil foto yang tetap terang di kondisi minim cahaya) yang menjadi senjata andalan HTC One masih kamu dapati di sini, serta kamera sekunder 2.1-megapixel di sisi depan yang memiliki sudut pengambilan lebar 88-derajat. Prosesor foto HTC ImageChip 2, bukaan f/2.0 aperture melalui lensa 28mm lens, mode HDR baik untuk foto dan video dan flash LED yang mampu secara otomatis menyusaikan tingkat brightness bergantung pada jauh dekat obyek, juga masih kamu temui di sini. Hanya saja sayangnya opsi OIS alias optical image stabilization dibuang dari One Max, sehingga foto rentan nge-blur ketika mengambil obyek yang bergerak.

Fitur kamera dari kakaknya juga kembali di bawa, seperti mode HTC Zoe (merekam video full HD sepanjang 3.6 detik dibarengi dengan 20 foto), merekam video full 1080p hingga Dual Capture, yang juga diterapkan pada beberapa smartphone Android kelas atas lain seperti Optimus G Pro dan Galaxy S4 (memotret langsung dengan sensor depan dan belakang, lalu digabungkan). Fitur unik lain dari HTC One, mulai Video Highlights, BlinkFeed (semacam Live Tile di Home Screen, dan untuk Sense 5.5 ini kamu bisa menarik feed dari akun Google+) dan HTC BoomSound juga masih kamu temukan di sini, dengan kualitas suara yang menurut kami terbaik di kelas mobile karena dihadirkan melalui speaker stereo di sisi depan One Max. HTC hanya memberi upgrade beberapa fitur tersebut, seperti Zoe kini ada datang dengan beberapa theme tambahan pada poin transisi, musik dan efek (bahkan kamu bisa menggunakan musikmu sendiri). Kemudian untuk Highlight bisa dijalankan lebih dari 30 detik dari batasan waktu tersebut dalam HTC One.

Secara desain memang kita masih menemukan konsep yang sama seperti HTC One dan HTC One mini. Dan jika membayangkan One Max ini menjadi HTC One yang berkelas dengan sasis kombinasi aluminium dan plastik polycarbonate, mungkin agak sedikit kecewa. Seperti HTC mini, rupanya HTC meniadakan kesan aluminium di sekitar tubuh One Max. Sisi baiknya, meskipun body-nya bongsor dengan layar lebar, beratnya masih masuk batas toleransi genggaman sebelah tangan pada 217-gram. Keseluruhan One max ini memiliki dimensi 164.5 x 82.5 x 10.29 mm. Bandingkan dengan 151.2 x 79.2 x 8.3 mm dan berat 168-gram pada Galaxy Note 3, dan 137 x 68 x 9.3 mm dan berat 143-gram pada HTC One. Masih berhubungan dengan penampakan eksternalnya, tombol power One Max kini dipindah ke sisi kanan bersama dengan tombol volume, dan memudahkan kita menjangkaunya dibandingkan posisinya pada One. Selain itu, tombol itu juga dipisahkan dari IR blaster, yang masih sama berada di sisi atas, bersama dengan port audio.

HTC menawarkan One Max dengan hanya satu pilihan warna saja, Glacial Silver, dan mereka mengaku akan mulai menjualnya dalam waktu dekat ini di seluruh dunia, atau perkiraan pertengahan hingga akhir Oktober. HTC Indonesia sendiri juga memasukkan One Max dalam rencana penjualan di Indonesia, karena data pengajuan sertifikatnya di Ditjen Postel sudah diajukan sejak pertengahan September lalu dan masuk sebagai HTC 0P3P600, atau varian yang hanya mengadopsi koneksi data GSM, WCDMA dan 4G LTE. Selain One Max, beberapa HTC lain yang akan segera dipasarkan ke Indonesia antara lain HTC 606w atau  Desire 600 dual-SIM (GSM-GSM), HTC PO68220 yang lebih dikenal sebagai Butterfly S, HTC 802d menjadi kode HTC One dual-SIM (GSM-CDMA), HTC 609d ini adalah Desire 600 dengan kemampuan dual-SIM (GSM-CDMA), hingga HTC 301e atau HTC Z3 alias Desire 601

Semoga saja semuanya jadi dijual di Indonesia… karena baru-baru ini kita juga mendengar kabar laporan kerugian yang dialami HTC, sampai rumor bahwa Lenovo akan mengakuisisinya.

HTC One max – First Look

[cb type=”company”]HTC[/cb]

Sumber: HTC, Techradar


SHARE
Previous articleBattlefield 4 Versi Xbox 360 Butuhkan Lebih Dari 12 GB untuk Instalasi!
Next articleDua Soul Baru di Inazuma Eleven GO Galaxy
Telah dikenal sejak satu dekade yang lalu melalui media game Ultima Nation. Saat itu artikel andalannya adalah panduan walktrough game-game RPG. Ura kemudian juga semakin dikenal lewat tulisannya yang idealis dan selalu konsisten pada satu aspek game, yaitu STORY - yang olehnya dianggap sebagai backbone sebuah game. Selain menggeluti dunia game, Ura juga penggemar gadget, dan dia memiliki hobi "ngoprek" smartphone.