Menguak Lebih Dalam Tentang Altermyth Pandawa Bersama Ihsan Wahab

Pandawa - Logo

Tentu kalian semua sudah mengenal Altermyth, sebuah studio game kebanggaan Indonesia. Belum lama ini, divisi publishing terbaru dari Altermyth yang bernama Altermyth Pandawa telah meluncurkan game perdananya yang berjudul Thrones of Demons atau biasa disingkat dengan T.O.D. Nah, Duniaku berkesempatan untuk melakukan bincang-bincang dengan Director dari Pandawa, yaitu Ihsan Wahab.

D: Pandawa merupakan developer baru di Indonesia, boleh diceritakan latar belakang Pandawa?

I: Saya pribadi sebetulnya sudah lumayan lama berkecimpung di dunia game online, terutama game publisher baik di luar maupun lokal. Setelah bekerja selama beberapa waktu, saya bersama teman-teman mendapat investor untuk membuat game publisher sendiri. Pada awalnya model bisnis kita adalah consultant, jadi kita mengurusi segala hal jika ada perusahaan lain yang ingin men-set up perusahaan mereka sendiri. Kita mengurusi mulai dari nama, perizinan, infrastruktur, game hingga tim kontennya. Semua berdasarkan pengalaman kita masing-masing. Jadi memang dulu Pandawa tidak terlalu kelihatan karena kita justru harus membawa nama perusahaan yang menjadi klien kita. Walaupun banyak yang bilang kita baru established dari tahun 2010, sebenarnya kita sudah eksis dari 10 tahun yang lalu.

D: Apa alasan Pandawa memilih arena pertarungan Client Based?

I: Ada 2 alasan sebenarnya. Yang pertama adalah karena misi dan visi saya bersama Master Wong sebagai co-founder dari Altermyth. Impian kami adalah bisa memiliki kemampuan untuk mendevelop game sendiri karena sebagai game publisher, kita sudah sangat paham dengan market serta operasionalnya. Yang kedua adalah kita setuju dengan pandangan para ahli, baik di luar negeri maupun di dalam negeri bahwa masa depan dunia game ada di mobile. Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana shifting ke mobile itu bisa terjadi. Business wise, saat ini yang paling matang adalah masih pasar MMO Client Based. Kita memang mengarah ke mobile, namun agar bisnis tetap berjalan, kita saat ini masih menggeluti Client Based terlebih dahulu.

D: TOD merupakan game MMO pertama yang dibawa oleh Pandawa, mengapa Pandawa memilih game ini?

I: Menurut saya semua MMORPG hampir sama saat ini. Mengapa kita memilih TOD? Karena selain ada beberapa fitur yang kita unggulkan, kita ingin membawa servis yang bagus. Kita ingin lebih menonjolkan servis dibandingkan dengan fitur-fitur yang sebetulnya kebanyakan mirip diantara semua MMORPG. Yang membedakan adalah servis seperti respon yang cepat dalam mengatasi bug dan lain-lain. Lebih jauh lagi, TOD dengan kualitas grafik yang sudah lumayan bagus, sizenya tidak lah besar yaitu kurang dari 1 giga. Hal ini kembali ke permasalahan servis tadi, kita tidak ingin membebani player dengan client yang terlalu berat.

Pandawa - Ihsan Wahab 1

D: Apa yang membedakan TOD dengan MMORPG lainnya?

I: Tentu saja yang menjadi keunggulan dari TOD adalah fitur MOBA-nya. Yang harus diperhatikan adalah, gamer behavior, secara global, terbagi dua yaitu pemain MMORPG dan pemain MOBA (DOTA Style). Belum tentu semua pemain MMORPG memainkan game-game MOBA, begitu pun sebaliknya. Nah dengan menghadirkan dua genre sekaligus, kita ingin mengambil pasar yang lebih besar. Jadi bagi para pemain MMORPG yang selama ini tidak tertarik dengan MOBA, bisa mencobanya hanya dalam satu game, yaitu TOD ini.Hal yang sama juga berlaku kebalikannya.

 D: TOD baru saja masuk tahap OBT beberapa waktu lalu, bagaimana tanggapan gamer sejauh ini?

I: Ini hal yang menarik sebetulnya. Kita dulu sebenarnya ingin mengedukasi para gamer di Indonesia dengan mengenalkan apa itu Closed Beta Test yang sebetulnya adalah tempat bagi developer dan publisher dalam mencari bug-bug yang mungkin mengganggu. Namun kita perlu juga melakukan stress test untuk mencoba kemampuan dari servernya itu sendiri. Respon paling menarik adalah dari judul game itu sendiri karena TOD memang kata yang agak controversial apalagi dengan taglinenya kita ‘Nge-TOD yuk!’ yang lebih ‘memancing’ gamer lagi. Nah dari kebanyakan gamer yang mencoba TOD, hampir 50 persennya mencoba karena tertarik dengan nama TOD itu sendiri. Mereka penasaran, ‘apa sih TOD itu? Titlenya keren, mau coba ah!’ Dari segi pencapaian saya merasa cukup puas karena kita sama sekali tidak punya fanbase namun cukup banyak gamer yang mencoba game ini.

D: Apa strategi marketing Pandawa untuk TOD?

I: Yang pasti kita akan lebih mendekatkan diri dengan user. Dari pengalaman saya bersama teman-teman, kita lebih mengedepankan servis untuk meraih user-user yang loyal. Volume user sendiri bagi kami bukan lah yang utama. Walaupun member base kita tidak banyak, namun mereka loyal kepada kita. Selama kita memiliki user yang loyal, spending rate mereka tidak akan kalah dengan perusahaan lain yang memiliki member base lebih besar. Hal ini tentunya hanya bisa terjadi jika kita memiliki servis yang memuaskan dan membuat para user merasa nyaman.

Pandawa - Ihsan Wahab 2

D: TOD dibawa Pandawa dengan proses co-develop, boleh diceritakan prosesnya?

I: Kita memiliki hubungan yang baik dengan developernya yang bernama EGA Play. Selain itu ada juga pihak ketiga China Online Games yang memang disupport oleh pemerintah untuk membantu semua game developer China menjual lisensi game-game mereka ke luar negeri. Pertama tentu kami memberi tahu bahwa kami ingin mengerjakan game TOD ini bersama-sama. Jadi tidak hanya murni bisnis saja, kita juga sering kesana dan duduk bersama dengan para 3D artists dan programmer-programmer dari mereka. Menurut saya sebenarnya kita lebih maju dibandingkan dengan mereka. Kenapa? Karena di Indonesia yang menjadi role model banyak, kita mengambil contoh-contoh dari China, Jepang dengan animenya, Korea bahkan Eropa dan Amerika. Masih ditambah lagi dengan artwork-artwork local yang punya ciri khas tersendiri. Makanya praktisi kita sebenarnya tidak kalah dengan perusahaan luar, oleh karena itu banyak perusahaan-perusahaan luar yang membuka studio disini dengan menggunakan orang-orang Indonesia yang berarti kualitasnya sudah terbukti.

D: Apa kesulitan terbesar dalam proses ini?

I: Yang paling sulit sebetulnya adalah permasalahan bahasa. Karena sifatnya co-develop, kita kan tidak hanya berurusan dengan orang bisnis dari pihak mereka saja namun juga dengan tim konten mereka. Kalau dengan pihak bisnisnya hampir tidak ada masalah, beda ketika kita bekerja dengan tim konten mereka. Sebagian dari mereka hampir tidak bisa berbahasa Inggris sama sekali yang berarti harus menggunakan penerjemah. Nah masalahnya, penerjemah ini adalah orang bisnis yang tidak mengerti istilah-istilah teknis sehingga sering ada kesalahpahaman.

D: Apakah TOD akan dirilis di Negara lainnya?

I: Secara teknis kami siap untuk mengoperasikan TOD untuk wilayah regional dan memang arahnya kesana. Namun tentu kita tidak bisa berjalan sendiri dan harus berkoordinasi dengan pihak developer di China serta China Online Games itu sendiri.

D: Dari ikatan co-develop ini, apa saja hal-hal yang sudah dipelajari dari proses transfer of knowledge dengan pihak China?

I: Pertama kami belajar tentang game engine mereka. Kita cukup kagum karena hampir semua developer disana memiliki game enginenya masing-masing. Memang templatenya kebanyakan mirip, namun tidak sama persis. Itu adalah hal yang sangat penting yang berhasil kita dapatkan. Dari segi kreatif seperti artwork, ide cerita dan lain-lain saya sama sekali tidak khawatir karena seperti sudah saya sebutkan sebelumnya, menurut saya Indonesia lebih maju dibandingkan dengan mereka.

D: Saat ini Pandawa sudah menjadi bagian dari Altermyth, apa strategi kedepannya?

I: Yang pasti kita sudah tidak menyandang title consultant lagi. Pandawa saat ini adalah divisi tersendiri di dalam Altermyth yang memiliki brand tersendiri pula. Hal ini mungkin masih sedikit membingungkan di masyarakat. Jadi sebenarnya bukan ada 2 perusahaan namun Pandawa adalah salah satu brand dari Altermyth yang memiliki servis publishing.

D: Pandawa tentu memiliki impian besar, boleh diceritakan?

I: Memang idealis namun kita ingin menjadi ‘legenda’, sesuai dengan tagline baru kita yaitu ‘From Ordinary to Legendary.’ Tidak hanya dari produk saja namun juga dari personil-personilnya. Kita ingin menciptakan orang-orang yang ‘legendaris’ dimana orang-orang tersebut akan memiliki kemampuan yang mumpuni dan tetap relate dengan Pandawa dan Altermyth. Lebih jauh nantinya kita ingin menjadi ikon industry game di Indonesia sehingga nantinya cukup dengan melihat logo bintang Pandawa, orang sudah langsung tahu.

Pandawa -- Ihsan Wahab 3

D: Pandawa belum lama ini sudah meluncurkan platform mobile bernama Nampol dan saat ini beberapa perusahaan lain juga mulai melakukan hal yang serupa, apa rencana Pandawa untuk Nampol kedepannya?

I: Sebagai pioneer tentu kita ingin tetap menjadi yang terbaik. Dan memang sebetulnya strategi mobile ini adalah strategi global yang terjadi di seluruh dunia. Ambil contoh Jepang dengan market yang sudah sangat matang, disana industri gaming sudah hampir benar-benar shifting ke arah mobile. Untuk Indonesia, kita belum mengetahui secepat apa shifting tersebut akan terjadi disini. Saat ini Nampol memang masih dalam tahap beta, rencananya akan fully published akhir tahun dengan game-game yang lebih banyak. Yang pasti Nampol akan benar-benar menjadi platform murni. Kita tidak akan menciptakan banyak IP untuk Nampol. Kita sangat terbuka dengan developer-developer local jika mereka ingin menaruh game mereka di Nampol dan semuanya bisa dilakukan secara online. Saat ini pun kita merupakan satu-satunya platform dimana orang bisa melakukan top up melalui mobile dengan semua operator telekomunikasi di Indonesia. Kita ingin menunjukkan kepada masyarakat bahwa untuk bermain game online itu payment methodnya bisa dilakukan dengan mudah. Hal ini sudah terbukti melalui TOD dimana sekitar 10-15 persen user melakukan top up melalui mobile atau dipotong pulsa. Ini menunjukkan user sudah mulai aware dengan payment method yang seperti ini.

D: Setelah TOD, apa rencana selanjutnya?

I: Saat ini kan kebanyakan game online sifatnya freemium namun kedepannya kita berencana untuk menghadirkan game online dengan premium service, dan rencananya kita akan bermain di wilayah regional.

Altermyth tampaknya tidak main-main dalam dunia game publishing, terbukti dengan seriusnya penggarapan TOD yang dilakukan oleh Pandawa. Yang patut diapresiasi adalah keinginan dari Pandawa untuk terus belajar dan tidak hanya sekadar membawa game berkualitas ke Indonesia. Proses transfer of knowledge pun memang merupakan langkah yang sangat dibutuhkan oleh industri game nasional saat ini agar tidak semakin tertinggal dengan negara-negara lainnya. Jika kalian penasaran seperti apa game Thrones of Demons itu, langsung saja tonton trailernya dibawah ini!


SHARE
Previous articleLebih dari 15 Game Tengah Dikerjakan dengan Menggunakan Frostbite 3
Next articleGuLong Online Indonesia Akan Segera Dirilis!
Liverpudlian | Airplane enthusiast | History lover | Science minded | Hardcore gamer | Warmonger. Lulus dari STP Sahid pada tahun 2012, sempat bekerja di Club Med Resort selama 6 bulan pada tahun 2012 sebagai bagian dari program internship kampus. Bekerja di departemen MICE (Meeting, Incentives, Conferences and Exibitions). Aktif di WWF-Indonesia sejak 2010 sebagai volunteer untuk kampanye Earth Hour dan menjadi tim inti Earth Hour Jakarta pada tahun 2013. Saat ini aktif sebagai staff perlengkapan di Look Around Indonesia, sebuah NGO yang memfokuskan diri di bidang sosial terutama anak muda.