K-Touch Titan S100, Kekuatan “Mesin” Lotus II Dalam Ukuran Jumbo

Dewasa ini smartphone dengan prosesor quad-core menjadi satu fitur wajib sebuah produk flagship. Selain itu tren perkembangan ukuran layar smartphone juga menjadi pertimbangan konsumen menentukan pilihan. Atas dasar itulah K-Touch memasukkan dua fitur tersebut ke dalam produk unggulan mereka, K-Touch Titan S100. Smartphone Android yang dirilis dua bulan pasca K-Touch Lotus II ini membawa banyak kelebihan Lotus II, sekaligus juga menutupi kekurangannya.

K-Touch mulai menawarkan Titan sejak awak Juli 2013 lalu, namun ketersediaannya beragam di kota-kota besar Indonesia. Seperti di Surabaya, penulis baru mendapatinya mulai September kemarin, dengan harga Rp. 2 jutaan. Nama Titan langsung mewakili, S100 mengajukan ukuran tubuh yang lebih besar berkat ukuran layar yang membesar. Di sini kamu mendapatkan layar IPS dengan bidang 5.3-inchi. Dengan banyaknya smartphone raksasa berukuran layar lebih dari 5-inchi, dan pasar yang menerima baik dimensi tersebut, akhirnya melahirkan segmen baru pilihan Android berukuran jumbo. Alasannya simpel, makin besar layar membuat pengguna makin lega. Entah itu untuk menikmati konten multimedia, browsing dan bersosial media, atau tentu saja bermain game, satu opsi yang diunggulkan K-Touch melalui Lotus II.

Layar yang makin luas tentu saja dibarengi  dengan ukuran tubuhnya yang membesar. Penulis menyukai Lotus II karena dimensinya yang pas di tangan. Tidak terlalu besar dan kecil, nyaman dioperasikan dengan sebelah tangan. Namun jika selera lebih menjurus pada bidang yang lebar, solusinya hanya layar yang lebih besar. Karena bidang 5.3-inchinya, K-Touch memaksa Titan masuk ukuran smartphone jumbo. Dimensinya 153.9 x 78 x 9.25-mm, dan dengan 189.9-gram, pasti akan membuatmu agak pegal jika mengoperasikannya dengan sebelah tangan dalam waktu yang lama. Bandingkan saja dengan dimensi Lotus II yang hanya 134.6 x 66 x 9.2-mm, dan berat 141-gram. Namun jika kamu terbiasa menggunakan smartphone dengan kedua tangan (mengetik dengan keyboard yang tampilannya QWERTY misalnya), ukuran Titan tergolong pas untuk pengendalian dengan kedua tangan.

Foxconn, perusahaan elektronik Taiwan yang terkenal selalu ditunjuk Apple untuk memproduksi semua smartphone dan tablet iOS, dan menurut K-Touch juga bertanggung jawab memproduksi casing Titan, keseluruhan berhasil membuat Titan tetap tipis meskipun kapasitas baterainya tergolong besar di kelasnya, mencapai 2800 mAh. Desain luarnya pun cantik, dengan sudut yang melengkung, serta hiasan lis warna perak di sekeliling bezelnya (khusus Titan yang warna putih) menjadikannya terlihat mewah. Sama seperti Lotus II, material yang digunakan berbahan glossy, rentan meninggalkan bekas sidik jari, terutama jika kamu menggunakan Titan berwarna hitam.

Melihat di sekeliling tubuh Titan, kami mendapati tombol power ditempatkan di sisi kanan agak ke atas. Lebih memudahkan jari menjangkaunya dibandingkan jika diposisikan di sisi atas seperti pada Lotus II. Tombol volume ditempatkan di sisi kiri – atas. Hanya saja sayangnya, tombol tersebut seperti kurang feedback ketika ditekan, desainnya kurang menjorok ke luar. Di sisi atas menjadi tempat port audio 3.5 mm, dengan kualitas audio melalui headset yang sama seperti Lotus II, lumayan, meski kurang efek bass-nya. Di seberang port audio juga ada port micro USB. Sayangnya tidak ada fungsi tambahan untuk menghubungkan Titan ke layar eksternal melalui port tersebut. Di bagian belakang tubuhnya termasuk sepi, hanya ada lubang loudspeaker dan kamera 8-megapixel.

Beralih ke layar, Titan memang mengajukan bidang yang besar, 5.3-inchi. Namun sayangnya, resolusinya sama seperti Lotus II, yaitu qHD, sehingga kerapatan pixelnya tidak sebaik Lotus II. Ciri khas material IPS pada layarnya juga terlihat jelas, seperti backlight yang sangat terang, kualitas warna yang natural, serta masih didukung dengan lapisan perlindungan Asahi Glass yang diklaim tahan goresan. Seperti Lotus II, lapisan layar Titan juga mengadopsi teknologi OGS, yang menggabungkan layar, sensor sentuhan alias digitizer dan juga kaca dalam satu layer yang sama. Penerapan teknologi tersebut yang menjadikan keseluruhan layar Lotus II ini menjadi tipis, sekaligus juga membuat ketebalan tubuhnya tereduksi. Benefit lainnya, layarnya pun sangat responsif, tidak ada gejala lag kami alami selama berinteraksi dengan layarnya.

Bukan tanpa alasan penulis menyebut Titan sebagai Lotus II dalam ukuran jumbo. Selain konfigurasi chipset yang sama, antar muka Titan sebelas-duabelas dengan Lotus II. K-Touch masih memilih antar muka yang mendekati stock AOSP (Android Open Source Project) Android. Interface dan launcher AOSP dikenal sangat ringan, dan memungkinkan kita lebih bebas memodifikasinya dengan launcher eksternal sesuai selera. Dan sama seperti Lotus II, K-Touch tidak 100% memberikan stock launcher, beberapa polesan kosmetik yang kami temui melalui smartphone jumbo dengan OS Android 4.1.2 Jelly Bean ini, seperti pada tampilan lock screen, ada beberapa shortcut untuk langsung mengakses aplikasi kamera, SMS, dan telepon, atau pada app drawer-nya yang dihiasi langsung wallpaper dari home screen (Google sendiri menerapkan wallpaper dalam app drawer tersebut baru mulai Android 4.4 KitKat).

Konfigurasi hardware yang dimasukkan K-Touch untuk Titan sama seperti Lotus II. Chipset Qualcomm MSM8225Q, atau yang familiar sebagai Snapdragon 200, yang dilengkapi empat inti prosesor dari arsitektur ARM Cortex-A5 dengan kecepatan standar 1.2 GHz. Mendukung kinerja prosesor, ada GPU mobile Adreno 203, serta untuk menjamin minimnya lag ketika mengoperasikan banyak aplikasi, jatah RAM-nya disediakan 1 GB. Untuk internal storage-nya, K-Touch menyediakan 4 GB, yang dipartisi cukup “adil” untuk sistem sebesar 1.40 GB dan 1.41 GB lainnya untuk internal storage. Internal storage menjadi lokasi default penyimpanan datamu, sebelum kamu memasukkan micro SD tambahan, yang mendukung kapasitas hingga 32 GB.

Poin lebih Titan lainnya dari “kakaknya” Lotus II adalah kamera. Untuk kamera utama, sensor yang disematkan 8-megapixel (5-mgapixel pada Lotus II), dilengkapi flash LED, dan mendukung autofocus. Kamera utamanya mampu merekam video dengan kualitas maksimal 720p alias HD (ini menjadi batasan chipset dan GPU Adreno 203, jadi belum bisa merekam video berkualitas full HD). Kamera depannya berkualitas 2-megapixel (0.3-megapixel pada Lotus II). Hasil kameranya jelas lebih baik dari kakaknya, dan yang kami sukai, hasil foto yang cenderung memperkuat warna biru pada Lotus II tidak penulis temui di sini. Hanya saja sayangnya Titan kehilangan opsi dual shot yang memungkinkan kita mengambil foto/merekam video, namun sekaligus juga bisa memotret atau merekam wajah kita yang sedang melakukan aktivitas tersebut (fitur yang juga kamu temui dalam Samsung Galaxy S4 dan LG Optimus G Pro). Untuk hasil perekaman videonya, seperti Lotus II suara yang terekam pun terdengar jelas. Kamu juga bisa mengambil foto selama aktivitas perekaman video dengan mudah, tinggal sentuh saja layar Titan untuk melakukannya.

Contoh hasil kamera K-Touch Titan dengan kondisi di dalam ruangan yang cahayanya cukup.

Keseluruhan Titan ini menawarkan “jeroan” yang sama seperti Lotus II, namun dengan upgrade pada kapasitas baterai yang lebih besar 1000 mAh, kamera menjadi 8-megapixel, dan ukuran layar yang lebih lega. Sayangnya, baterai 2800 mAh-nya tidak didukung dengan output charger yang mumpuni, karena hanya 800 mA saja. Sehingga butuh waktu sekitar 4 jam untuk mengisi baterainya dari kondisi kosong sampai penuh. Dengan beberapa penambahan poin plus tersebut K-Touch membanderol Titan dengan harga yang sama seperti Lotus II, yaitu Rp. 1.999.000. Namun di luar sana, terkadang ada juga toko yang menawarkannya dengan harga lebih tinggi.

Salah satu smartphone Android yang menjadi produk rebranding Titan, Blu Studio 5.3s. Merk Blu cukup terkenal di Amerika.

Dengan nilai tersebut, Titan bisa menjadi pilihan mereka yang mencari smartphone berlayar besar, sekaligus juga memiliki fitur dual-SIM. Satu yang mengganjal di pikiran penulis untuk Titan ini hanya dukungan software-nya. Memang OS Android 4.1.2 Jelly Bean termasuk baru, namun dengan Google yang akan segera merilis Android 4.4 KitKat, kamu yang kepingin mencoba fitur baru OS tersebut dan berharap ada update resmi dari K-Touch sepertinya perlu berpikir dua kali karena bisa jadi hanya melalui custom ROM saja bisa didapatkan. Bicara custom ROM, di luar sana Titan ini dipasarkan sebagai Blu Studio 5.3s atau Archos 53 Platinum, sehingga banyak yang masih setia mengembangkan custom OS untuknya.

Bukan tanpa alasan penulis menyebut Titan sebagai Lotus II dalam ukuran jumbo. Selain konfigurasi chipset yang sama, antar muka Titan sebelas-duabelas dengan Lotus II. K-Touch masih memilih antar muka yang mendekati stock AOSP (Android Open Source Project) Android yang terkenal ringan.
Ada beberapa polesan kosmetik yang kami temui melalui smartphone Android 4.1.2 Jelly Bean ini, seperti pada lock screen, ada beberapa shortcut aplikasi kamera, SMS, dan telepon, atau pada app drawer-nya yang dihiasi langsung wallpaper dari home screen (sama seperti pada Android 4.4 KitKat).
Konfigurasi hardware yang dimasukkan K-Touch untuk Titan sama seperti Lotus II, sehingga hasil benchmark-nya pun menunjukkan nilai yang sama. Dari pengujian AnTuTu kami mendapatkan poin 10 – 11 ribuan. Untuk Quadrant sekitar 4700, dan untuk uji grafis Nenamark hasilnya sekitar 38 fps.
Sayangnya Titan tidak selengkap Lotus II dalam urusan sensor. K-Touch membuang sensor magnetic, sehingga kamu tidak bisa mendapatkan fitur kompas digital. Selain itu, Titan juga kehilangan sensor orientasi, yang biasanya mendukung kinerja magnetic sensor. Menggunakan Android 4.1, Titan juga sudah siap menjalankan BBM untuk Android.
Untuk internal storage-nya, K-Touch menyediakan 4 GB, yang dipartisi cukup “adil” untuk sistem sebesar 1.40 GB dan 1.41 GB lainnya untuk internal storage. Jatah RAM yang disediakan 1 GB pun juga tersisa cukup besar dalam kondisi default. 

Spesifikasi K-Touch Titan S100

  • Jaringan: Dual-SIM GSM Dual-ON, 3G WCDMA/GSM HSDPU 7.2 Mbps dan HSUPA  5.76 Mbps (SIM 1), 2G EDGE GSM (SIM 2)
  • Chipset: Qualcomm MSM225Q
  • Prosesor: Snapdragon S4 Play Quad-core 1.2 GHz Cortex-A5
  • GPU: Adreno 203
  • RAM: 1 GB
  • Memory internal: 4 GB
  • Memory eksternal: Micro SD hingga 32 GB
  • Dimensi: 153.9 x 78 x 9.25-mm, berat 189.9-gram
  • Layar: Panel TFT IPS 5.3-inchi, resolusi QHD 540×960-pixel, 209-ppi
  • Fitur layar: Lapisan Asahi Glass, multi-touch 5 titik, teknologi OGS (one glass solution)
  • OS: Android 4.1.2 (Jelly Bean)
  • Kamera: Utama 8-megapixel (3200 x 2400-pixel) dengan flash LED, sensor BSI. Kamera depan 2-megapixel (1600 x 1200-pixel)
  • Fitur kamera: Auto fokus, sentuh untuk fokus, merekam video HD 720p pada 30 bingkai per detik
  • Fitur media: Memutar video full HD 1080, radio FM
  • Sensor: G-Sensor (acceleromoter), Proximity dan Light Sensor
  • Baterai: Li-Po 2800 mAh, klaim waktu siaga hingga 264 jam, waktu bicara hingga 21 jam (2G), dan 15 jam (3G).

SHARE
Previous articleKolaborasi Monster Hunter 4 dan One Piece, Kamu Bisa Bertemu Chopper
Next articleNatsume Akan Merilis Sayonara Umihara Kawase di Amerika Utara
Telah dikenal sejak satu dekade yang lalu melalui media game Ultima Nation. Saat itu artikel andalannya adalah panduan walktrough game-game RPG. Ura kemudian juga semakin dikenal lewat tulisannya yang idealis dan selalu konsisten pada satu aspek game, yaitu STORY - yang olehnya dianggap sebagai backbone sebuah game. Selain menggeluti dunia game, Ura juga penggemar gadget, dan dia memiliki hobi "ngoprek" smartphone.