Inilah Potensi E-Commerce di Indonesia

E-commerce pertama kali diperkenalkan pada tahun 1994 pada saat pertama kali banner-elektronik dipakai untuk tujuan promosi dan periklanan di suatu halaman-web (website). Menurut Riset Forrester, perdagangan elektronik menghasilkan penjualan seharga AS$12,2milyar pada 2003. Menurut laporan yang lain pada bulan oktober 2006 yang lalu, pendapatan ritel online yang bersifat non-travel di Amerika Serikat diramalkan akan mencapai seperempat trilyun dolar US pada tahun 2011. Namun dalam prosesnya, customer memiliki keluhan terkait pelayanan yang disediakan perusahaan e-commerce. Hal ini menjadikan keluhan itu sebagai kelemahan, diantaranya:

1. Masalah keamanan

Transaksi e-commerce bisa jadi rawan pembajakan kartu kredit atau penipuan. Misalnya seperti ikhram.com yang menerima pembayaran yang aman melalui transfer (via ATM/ SMS Banking/setoran bank) untuk pembelian paket umroh. Pastikan Anda hanya melakukan transfer ke rekening beratas namakan perusahaan dan bukan rekening atas nama pribadi yang merujuk pada penipuan. Tidak hanya itu, Ikhram.com menyediakan jaminan keamanan transaksi secara online, teknologi SSL dengan sertifikat yang terotentikasi menjamin privasi dan keamanan transaksi mamaah pula.

2. Ketidaksesuaian jenis dan kualitas barang atau jasa yang dijanjikan

Disini bisa terjadi karena kurang detailnya informasi yang disajikan oleh perusahaan e-commerce. Misalnya, di ikhram.com jamaah umrah dapat mencari, memesan, mereview, hingga membandingkan paket-paket umrah yang ada di ikhram.com untuk menemukan paket yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan mereka. Tidak  hanya itu, jamaah umroh juga akan mendapatkan diskon ketika memesan melalui Ikhram.com

3. Ketidaktepatan waktu pengiriman barang atau jasa

Biasanya ini tidak mutlak kesalahan dari perusahaan e-commerce, karna kadangkala kendala terjadi pada layanan pengiriman barang atau jasa yang dipilih. Dengan melakukan pemesanan secara online untuk produk jasa. Harusnya sama sekali tidak ada masalah dengan ketepatan pengiriman. Masalah logistik ini sekarang mulai sudah ada solusinya oleh vendor 2 transportasi nasional seperti JNE dan TIKI

4. Masalah kultur

Yup, sebagian masyarakat Indonesia kurang merasa puas bila tidak melihat langsung barang atau jasa yang akan dipesan. Dengan tidak bisa dilihatnya produk yang akan dibeli biasanya masyarakat belum dapat menjatuhkan pilihan

5. Masalah hukum

Memang benar, di Indonesia belum memiliki perangkat hukum yang mengakomodasi perkembangan e-commerce. Kita tunggu saja ya, perkembangan selanjutnya. Jadi, meskipun benar adanya kelemahan dalam e-commerce namun peluang bisnis yang ada masih sangat besar karena semakin berkembangnya tingkat kebutuhan customer.

 


SHARE
Previous articleAnggaran E-Commerce Anda Menentukan Sukses Kampanye
Next articleMGS V: Ground Zeroes Siap Dirilis Awal Tahun Depan!