Menparekraf Kunjungi Forum Surabaya Kreatif

Mari Elka Pangestu, Menparekraf RI
Mari Elka Pangestu, Menparekraf RI

Pelaku industri kreatif Surabaya kemarin, hari Sabtu, 4 Januari 2014, berkumpul di Jari Art Link untuk bertemu dengan Mari Elka Pangestu, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Pelaku industri yang hadir bukan hanya dari industri game dan animasi saja, melainkan juga dari komunitas fotografi, perupa, dan ilustrasi.

Menparekraf membuka gathering ini dengan membahas permasalahan-permasalahan umum di industri kreatif, seperti kurangnya SDM dan pembentukan jaringan (network), aspek pembiayan, akses pasar, ruang publik untuk komunitas kreatif, dan organisasi/asosiasi. Menurut Menparekraf, komunitas kreatif cenderung egaliter sehingga suka kikuk berorganisasi, khususnya organisasi dengan hirarki. Padahal aspek ini bisa sangat membantu membuka komunikasi dengan organisasi lain, pemerintah, dan stakeholdernya.

Diskusi Seru Pelaku Industri Kreatif dengan Ibu Menteri
Diskusi Seru Pelaku Industri Kreatif dengan Ibu Menteri

Pada kesempatan ini, rekan-rekan pelaku industri kreatif juga banyak yang memberikan masukan maupun bertaya langsung kepada Menparekraf. Jonathan Chanutomo, seorang ilustrator, mengangkat tentang kekuatan perlindungan HAKI yang didaftarkan di Indonesia, sementara karyanya (ilustrasinya) dibajak di luar negeri. Dia merasa kurangnya daya dukung pemerintah dalam perlindungan IP kreator kita, padahal hal ini adalah DNA-nya ekonomi kreatif.

James Tomasouw, dari Klik Indonesia, memperkenalkan platform pemanfaatan jejaring sosial yang sebaiknya mulai digunakan oleh bangsa Indonesia sendiri daripada harus menggunakan platform yang selama ini dikonsumsi massal oleh pengguna internet kita. Menparekraf menyambut hal ini dengan sangat positif. Langkah yang diperlukan untuk hal ini adalah menciptakan kondisi atau kampanye, supaya terjadi migrasi besar-besaran ke platform lokal. Tentu akan butuh waktu, namun jika bisa terlaksana, maka dampaknya akan sangat baik bagi ekonomi kreatif Indonesia ke depan.

Bonnie Soeherman, dari Machanimotion Entertainment, menyoroti soal kemampuan talent lokal yang sudah mumpuni. Hanya saja beberapa kebijakan dirasa kurang berpihak, sehingga talent lokal hanya menjadi sarana outsourcing dari perusahaan asing. Menurut Menparekraf, outsourcing adalah masa belajar dan transfer pengetahuan dan teknologi. Di titik tertentu perlu dikembangkan juga kemandirian untuk menjadi creative business owner.

Selanjutnya ada Mamuk Ismuntoro, mewakili komunitas Matanesia dan komunitas fotografer, mengungkap bahwa masih begitu Jakarta-sentrisnya dunia fotografi di Jawa Timur, sehingga untuk beberapa kegiatan harus mendatangkan ‘ahli’ dari Jakarta, meskipun di Surabaya sudah banyak yang mumpuni. Menparekraf memandang perlunya ada klasifikasi keahlian, misalnya dengan memisahkan fotografer amatir dengan profesional, atau kategorisasi berdasar genre, misal lansekap, model, jurnalistik, dsb. Dan hal ini justru yang bisa menjawab adalah para pelaku sendiri yang kemudian dapat dibicarakan dengan Kemenparekraf.

Kumara Sadana Putra, wakil akademisi dari Ubaya, mengangkat kembali soal PPKI yang baru diselenggarakan. Menurutnya potensi kreatif Surabaya tidak kalah dengan Jakarta maupun Bandung. Surabaya merupakan creative pool dari Indonesia Timur, di mana creative network juga mulai terbangun. Diperlukan aktifitas kolektif, seperti event, dan tempat yang memadai.

Dari komunitas perupa, ada Agus Koecink, yang menyatakan perlunya ada ruang publik yang memadai untuk meningkatkan kualitas, kuantitas dan value seniman dan karya dari Surabaya dan Jawa Timur. Kekurangan ini membuat kita tidak bisa menyediakan ruang yang akomodatif dan representatif bila ada peluang kolaborasi dengan seniman yang berasal dari kota atau negara lain yang sudah lebih baik infrastuktur seninya. Ibu Menteri merespon bahwa meskipun itu merupakan area pemerintah kota, beliau akan membantu memberikan ‘appeal’ agar usul itu bisa direalisasi.

Forum Surabaya Kreatif
Forum Surabaya Kreatif

Sebelumnya rekan-rekan industri yang tergabung dalam Forum Surabaya Kreatif juga sempat memberikan usulan ke Pemerintah Kota Surabaya melalui Bappeko untuk menciptakan ruang semacam ini, entah akan jadi Surabaya Creative District atau bentuk co-working place lainnya yang memudahkan interaksi dan kolaborasi antar laku ekonomi kreatif.

Saya pribadi sangat mengapresiasi kunjungan Ibu Menteri ke komunitas kreatif Surabaya. Harapan saya hal ini tak hanya menjadi wacana saja, melainkan dapat ditindaklanjuti menjadi gebrakan yang lebih nyata. Salam kreatif!

Reportasi Ramok Lakoro, Founder Red Paradigm, Forum Surabaya Kreatif


SHARE
Previous articleCHAOS World Championship 2014
Next articleEye Candy: Deretan Concept Art Menarik dari 47 Ronin
Mengawali karier menulisnya pada tahun 1997 sebagai kontributor rubrik game majalah Mentari Putera Harapan. Namanya mulai dikenal setelah dia turut membidani lahirnya majalah game pertama di Indonesia, Game Master. Begitu banyak majalah yang lahir dari buah pemikirannya. Sebut saja Game Master, 3D Magazine, Ultima Nation, hingga Zigma dan Omega. Tidak hanya dikenal sebagai jurnalis dan konseptor, GrandC juga seorang penulis cerita. Saat ini dia banyak disibukkan dengan pengembangan Vandaria, dunia fiksi ciptaannya.