CES 2014: Polaroid Socialmatic Mewujudkan Konsep Kamera Instagram

Ternyata desain Polaroid iM1836 meniru produk Nikon.
Ternyata desain Polaroid iM1836 meniru produk Nikon.

Polaroid mungkin gagal dengan kamera mirrorless pertama mereka yang menggunakan OS Android, iM1836, karena Nikon yang merasa desainnya meniru Nikon J1 berhasil memenangkan tuntutan. Imbasnya, Sakar Internasional yang memproduksi Polaroid iM1836 tidak berhak memproduksi, hingga menjual Polaroid iM1836 mulai Desember 2013 kemarin.

Polaroid-Socialmatic-2

Kejadian tersebut tidak menyurutkan langkah mereka membawa OS Google tersebut ke kamera digital. Buktinya, selama CES 2014 kali ini mereka mengkonfirmasikan kamera digital point-and-shoot ber-OS Android dengan desain yang unik, Polaroid Socialmatic. Kamera baru mereka ini bukan sekadar mampu memotret, atau membagikan langsung hasil fotonya ke jejaring sosial seperti tipikal smartphone masa kini. Namun Polaroid juga membekalinya kemampuan untuk langsung mencetaknya melalui kertas berukuran 2×3!

Polaroid-Socialmatic-3

Seperti Polaroid iM1836 dari Sakar, Polaroid Socialmatic ternyata juga tidak dibuat langsung oleh Polaroid. Kamera dengan bentuk kotak ini diproduksi oleh Socialmatic, perusahaan yang mendapatkan ide membuart kamera barunya ini dari ikon Instagram. Bahkan nama Socialmatic itu sendiri sebenarnya sudah kami dengar sejak pertengahan 2012 lalu, yang mana saat itu masih berupa konsep yang diciptakan oleh Antonio De Rosa dari ADR Studio. Lama ditunggu kabarnya, rupanya ide kamera yang dikembangkan berbasis ikon Instagram tersebut justru disambut oleh Polaroid, karena memang ada satu fungsinya yang membutuhkan lisensi penggunaan nama Polaroid, yaitu untuk mencetak langsung hasil fotonya melalui teknologi ZINK Zero ink, milik Polaroid.

Polaroid-Socialmatic-6

Ketika ide Socialmatic pertama digulirkan pertengahan 2012 lalu, sebuah versi purwarupa disiapkan dengan desain yang mengambil asis ikon Instagram, kapasitas internal storage 16 GB, koneksi Wi-Fi dan Bluetooth, opsi untuk menampilkan antar muka Instagram, dan juga yang membutuhkan nama Polaroid, dari awal sudah diplot bisa langsung mencetak hasil fotonya. Proyek ini memang tidak berhubungan langsung, atau disetujui oleh Instagram, sehingga Socialmatic pun mencari pendanaan melalui jalur crowdfunding Indiegogo untuk mewujudkannya menjadi produk komersil.

Polaroid-Socialmatic-4

Kini dengan dukungan nama Polaroid, seharusnya Polaroid Socialmatic lebih mudah mendapat tempat. Apalagi spesifikasi yang ditawarkan pun juga tidak mengecewakan. Selain desain mengotak yang tiada duanya, kamu mendapatkan sensor utama 14-megapixel, serta kamera sekunder 2.1-megapixel di sisi belakang untuk melakukan foto diri. Internal storage-nya sendiri tidak sebesar pada versi konsepnya, karena kini hanya tersedia 4GB internal storage, yang bisa diperbesar melalui slot microSD. Interaksi dengan antar mukanya diserahkan pada layar 4.5-inchi. Dari beberapa press image yang kami dapatkan melalui website-nya, terlihat Socialmatic menerapkan interface Tablet UI Android besutan Google. Antar muka tersebut cocoknya untuk perangkat dengan layar lebar, bukan layar sekecil ini.

Interface tablet untuk layar 4.5-inchi?
Interface tablet untuk layar 4.5-inchi?

Interface Tablet UI tersebut juga memberi identitas jika Polaroid Socialmatic ini bakal menggunakan OS Android. Sayang juga tidak dijelaskan versi berapa, seperti apa konfigurasi hardware yang mendukung semua pengoperasian software-nya, dan yang terpenting, berapa harganya. Yang jelas sepaket kertas Zink berisi 80 lembar harganya saja sekitar Rp. 400 ribuan!

Socialmatic: From the concept to the reality

[cb type=”company”]Polaroid[/cb]

Sumber: Socialmatic, Polaroid


SHARE
Previous articleLiputan Launching Sony Playstation 4 di Indonesia
Next articleTeacher Story, Simulasi Mengajar dengan Gameplay ala RPG Turn Based
Telah dikenal sejak satu dekade yang lalu melalui media game Ultima Nation. Saat itu artikel andalannya adalah panduan walktrough game-game RPG. Ura kemudian juga semakin dikenal lewat tulisannya yang idealis dan selalu konsisten pada satu aspek game, yaitu STORY - yang olehnya dianggap sebagai backbone sebuah game. Selain menggeluti dunia game, Ura juga penggemar gadget, dan dia memiliki hobi "ngoprek" smartphone.