Lima Hal yang Membuat Bravely Default Lebih Unggul dari Final Fantasy

boss spesial di Bravely Default

Sewaktu masih kecil, saya mungkin menghabiskan lebih banyak waktu bermain Final Fantasy daripada waktu di sekolah. Bertahun-tahun kemudian, kualitas seri game kebanggan Square Enix ini (setidaknya bagi saya) merosot drastis, dari sumber penceritaan fantasi yang ajaib menjadi RPG generik, membosankan, penuh filler, dan ketika dimainkan memberikan rasa ‘guilty pleasure’ (minus pleasure-nya).

Kemudian hadirlah Bravely Default!

Awalnya diciptakan sebagai sekual Final Fantasy: The 4 Heroes of Light, namun kemudian dirilis dengan judul baru, menanggalkan nama besar ‘Final Fantasy’, yang justru menjadi refreshing, bahkan mendobrak pakem yang ada. Bravely Default jauh mengunguli prekuelnya dari berbagai aspek. Siapa yang kenal The 4 Heroes of Light yang dirilis di Nintendo DS dulu? Padahal game itu adalah spin-off Final Fantasy yang sangat bagus. Bandingkan dengan Bravely Default, yang meski tanpa membawa nama besar Final Fantasy, hype-nya meledak bukan hanya di kalangan penggemar RPG Jepang, melainkan juga gamer pada umumnya.

Ada yang masih ingat game ini?
Ada yang masih ingat game ini?

Belum memainkan Bravely Default? Saya akan berikan pencerahan! Berikut adalah lima alasan mengapa Bravely Default lebih unggul dari Final Fantasy (khususnya FF modern):

1. Brave dan Default

bravely default screen 3
Menyegarkan turn-based battle

Game ini dinamakan dari sistem battle baru Brave/Default, yang membuat saya kebingungan ketika memainkan demonya kapan hari. Pada dasarnya sistem battle-nya mengadopsi Final Fantasy klasik, turn-based. Brave/Default mengubah segala strategi sistem turn-based itu. Tiap turn, pemain memiliki opsi untuk melakukan Brave atau Default. Brave artinya meminjam turn selanjutnya untuk digunakan sekaligus dalam turn ini. Yang berarti juga pemain akan kehilangan turn berikutnya bagi karakter yang bersangkutan. Sedangkan Default sebetulnya adalah pembaharuan dari ‘defense’. Bedanya, pemain mendapatkan turn tambahan pada turn berikutnya. Ini adalah sistem risk/reward yang sangat menarik untuk diterapkan di battle turn-based. Karakter bisa menggunakan empat turn sekaligus, kemudian kehilangan tiga turn selanjutnya. Tapi kenapa butuh tiga turn selanjutnya, kalau memang kita bisa habisi musuhnya saat ini juga? Ini high risk, high return. Tweak kecil seperti ini benar-benar memberikan penyegaran sistem battle turn-based yang sudah dianggap basi oleh kebanyakan RPG Jepang.

2. Mengakar!

Kembali ke fitrahnya. Inilah sebutan yang tepat bagi Bravely Default. Meski tanpa menggunakan judul ‘Final Fantasy’, Bravely Default adalah game yang paling ‘Final Fantasy’ yang dirilis generasi ini (kompetitor lainnya adalah The Last Story dan Lost Odyssey, yang diciptakan Hironobu Sakaguchi, pencipta Final Fantasy). Ketika Final Fantasy semakin modern dan kehilangan jati diri, Bravely Default malah mencoba untuk menjadi Final Fantasy. Kembalinya tema kristal, four heroes of light, sampai job system dengan berbagai job khas Final Fantasy.

Kehilangan jati diri?
Kehilangan jati diri?

3. Audio Visual Nendang!

Penggemar Final Fantasy klasik hingga era PSone sangat familiar dengan musik-musik Nobuo Uematsu. Ketika musiknya ditangani oleh Noriko Matsueda (X-2), lalu Hitoshi Sakimoto (XII, Ivalice Alliance), lalu Masashi Hamauzu (XIII, Fabula Nova Crystallis), nuansa Final Fantasy-nya memudar, bahkan menghilang. Tapi coba dengarkan gubahan Revo untuk Bravely Default. Musiknya MANTAB!! Tidak ingin kembali ke jaman Uematsu, namun Revo berhasil memberikan kontribusi luar biasa dalam tiap lagu yang muncul. Ini penilaian subyektif, namun saya sudah lama tidak mendengar musik yang begitu cocok sejak Final Fantasy X dan XI.

Yuna... NO!!
NO!!

Beralih ke tampilan visualnya. Bravely Default memiliki art style yang sangat indah, yang jarang sekali ditemukan di game-game masa kini. Background game ini diciptakan dengan lukisan cat air yang menyempurnakan dan mengundang pemandangan yang lebih indah di setiap sudutnya. Art semacam ini benar-benar mengingatkan saya pada Legend of Mana di PSone dulu, tapi tentu saja dengan lompatan grafis yang jauh lebih baik. Sementara Final Fantasy yang baru tampil lebih mewah dengan dukungan teknologi tinggi. Tentu saja lebih superior. Namun untuk segi artistik (sekali lagi ini subyektif), semuanya terasa hambar.

I... ini tampilan in game, lho!
I… ini tampilan in game, lho!

4. Kontrol Segala Aspek Battle

Poin nomor 4 ini menghancurkan semua JRPG yang ada. Poin ini begitu memanjakan, sehingga membuat saya enggan untuk kembali melanjutkan Final Fantasy IX yang baru saja saya beli di PSN untuk PS Vita. Kadang (atau malah sering) kita malas memainkan JRPG karena satu-dua mekanisme kecil yang mengganggu atau membosankan tapi selalu ada, karena memang seperti itulah JRPG. Bravely Default menolak menjadi JRPG itu.

Good bye, boring random battle
Good bye, boring random battle!

Pemain diberi sejumlah kontrol revolusioner atas segala sesuatu berkenaan dengan mekanisme battle, yang sulit ditemukan di genre ini. Ada fitur fast-forward dengan dua kecepatan (2x dan 4x) dalam battle, kemudian mode auto-battle di mana tim dapat menangani pertempuran kecil mereka sendiri (dengan mengulang command sebelumnya), lalu yang paling revolusioner, ada slider yang dapat diatur oleh pemain untuk mengubah frekuensi random battle. Saya belum pernah sebelumnya memainkan JRPG yang membiarkan saya menghilangkan random battle ketika ingin berfokus pada cerita, kemudian saya hidupkan kembali lagi dengan frekuensi 2x lipat untuk grinding EXP sebelum bos. Ini dahsyat!!

Kontrol di tanganmu!
Kontrol di tanganmu!

5. Fitur Sosial

Sejak mengenalkan StreetPass, game-game Nintendo 3DS (khususnya yang dibuat oleh Nintendo) berlomba-lomba menerapkan fitur sosial dalam tiap gamenya. Tak ketinggalan Bravely Default. Tapi fitur sosial seperti apa yang bisa ditawarkan oleh single-player JRPG klasik macam ini? Setidaknya ada beberapa hal eksperimental, namun unik dan terasa cocok diterapkan di JRPG macam ini. Pertama adalah village-building ala game-game social di Facebook. Yap, pemain dapat membuat (atau lebih tepatnya, merestorasi) Norende Village dengan bantuan pemain-pemain lain yang betemu lewat StreetPass. Restorasi ini membuka item-item baru sebagai hadiah. Tapi waspadalah, StreetPass tidak hanya memberikan amunisi untuk restorasi Norende, namun juga bisa mentransfer Nemesis, atau monster yang mengacaukan Norende. Monster ini sebetulnya tidak memberikan efek apapun pada Norende (sayang sekali yah), namun jika dikalahkan, pemain akan mendapatkan EXP dan item, juga hadiah dari penduduk Norende.

Belum secanggih Smurf's Village, sih...
Bangun Norende

Aspek sosial lainnya adalah pinjam-meminjam karakter. Pemain bisa menggunakan karakter pemain lain untuk memperkuat karakternya lewat fitur Abilink. Fitur ini membuat karakter yang belum mempelajari job tertentu bisa mengakses skill-skill dari karakter lain yang dipasangkan lewat Abilink.

Terakhir ada fitur summon karakter. Di sini pemain bisa mengubah gerakan yang diinginkan, atribut serangan, bahkan ucapan karakter. Pemain lain dapat memanggil karakter tersebut untuk melakukan gerakan yang sudah diatur sebelumnya. Ini mirip dengan game-game social Facebook, seperti Marvel: Avengers Alliance, yang juga diterapkan di Dark Soul. Minor, tapi menarik, dan bisa jadi sangat membantu di saat-saat battle yang sulit.

Kirim karaktermu!!
Kirim karaktermu!!

Jadi, apakah Bravely Default hanya sekedar Final Fantasy baru? Sebagian besar, dalam berbagai hal kecuali nama, bisa dipertegas bahwa Bravely Default memang Final Fantasy baru. Setidaknya game ini mencakup segala sesuatu yang membuat brand Final Fantasy dulu menjadi besar. Tapi Bravely Default lebih dari sekedar Final Fantasy baru. Game ini lebih segar, dan tentu saja lebih berisiko dari Final Fantasy (yang sudah memiliki nama besar). Tentu saja Bravely Default bukan game yang sempurna. Ada berbagai aspek yang membuat Final Fantasy lebih superior. Salah satunya adalah storyline yang sangat lemah. Namun untuk itu akan saya bahas di artikel yang lain.

Bravely Default adalah awal dari seri baru yang berhasil mengambil tempat di hati pendahulunya. Dan saya berharap kedua seri ini bisa terus bertahan. Final Fantasy berevolusi menjadi JRPG yang lebih modern, dan Bravely Default kembali ke akar JRPG itu sendiri.


SHARE
Previous articleMengulik Latar Belakang Para Tokoh Utama Guardians of the Galaxy
Next articleSuper Chibi Knight, Game yang Dikembangkan Ayah dengan Putrinya yang Berumur Delapan Tahun

Mengawali karier menulisnya pada tahun 1997 sebagai kontributor rubrik game majalah Mentari Putera Harapan. Namanya mulai dikenal setelah dia turut membidani lahirnya majalah game pertama di Indonesia, Game Master. Begitu banyak majalah yang lahir dari buah pemikirannya. Sebut saja Game Master, 3D Magazine, Ultima Nation, hingga Zigma dan Omega. Tidak hanya dikenal sebagai jurnalis dan konseptor, GrandC juga seorang penulis cerita. Saat ini dia banyak disibukkan dengan pengembangan Vandaria, dunia fiksi ciptaannya.