Baru Berumur Setahun, Square Enix Menutup Studionya yang Ada di India

Baru berumur satu tahun sejak didirikan, Square Enix menutup studio cabangnya yang berada di India. Kabarnya, penutupan ini juga akan diikuti oleh studio yang ada di Amerika Selatan.

Banyak hal yang dilakukan developer untuk membantu pengembangan game, sekaligus memperluas pasarnya. Salah satunya adalah meletakkan studio-studio baru di beberapa negara. Hal ini juga dilakukan oleh Square Enix yang meletakkan banyak studio yang tersebar di seluruh dunia, termasuk di India. Tetapi sayang, Square Enix India yang baru berumur satu tahun ini harus menghentikan aktivitasnya alias ditutup.

Studio yang didirikan pada bulan Maret 2013 ini awalnya memfokuskan diri untuk pengembangan dan publishing game-game mobile, terutama di India itu sendiri. Sayangnya, belum ada satu game pun yang dihasilkan dari satu tahun berdirinya studio ini. Kabarnya, penutupan ini akan diikuti oleh beberapa studio di belahan dunia lainnya, salah satunya adalah studio yang berada di Amerika Latin. Dilansir dari MCV India, studio ini sebenarnya bukan sepi dari proyek pengembangan game. Terdapat beberapa game mobile yang sudah mereka kembangkan bekerja sama dengan developer lokal di India. Sayangnya semua produk tersebut tidak berhasil mencapai standar yang ditetapkan oleh Square Enix pusat, sehingga batal untuk dirilis.

Square Enix membangun studio di India atas dasar pertumbuhan game mobile yang sangat pesat di negara tersebut. Tahun lalu, pengguna mobile di India mencatatkan angka 1.2 miliar download untuk game yang dipasarkan di sana. Bahkan, ada satu game endless runner yang dibuat berdasarkan satu film Bollywood yang berhasil mendapatkan angka 15 juta download. Square Enix sendiri dalam beberapa tahun terakhir memang tampak sangat rajin menyasar pasar mobile ini dengan beberapa judul mereka, sebut saja porting beberapa Final Fantasy klasik, hingga judul baru seperti Guardian Cross.

[Sumber: VentureBeat/Polygon]

Share this article

TENTANG PENULIS
Febrizio

Ex Managing Editor majalah Zigma dan Omega yang mengawali karirnya sebagai kontributor sebuah blog teknologi. Febrizio dikenal juga suka dengan teknologi, film, pengembangan software, perkembangan sepakbola, serta saat ini juga mulai tertarik untuk mempelajari proses pengembangan game.