We Can All Be Superheroes

Menjadi superhero baik dalam komik, film, maupun serial TV kini tidak lagi didominasi oleh kaum mayoritas saja. Banyak kaum minoritas yang kini sudah dipercaya mengemban tugas menjadi pahlawan.

nick_fury_by_jprart-d3g5y5p

Apabila kita membaca menonton film superhero patut diperhatikan bahwa mayoritas karakter komik yang kita baca berasal dari ras Caucasian (kulit putih). Tidak percaya Coba simak siapa-siapa saja karakter superhero yang populer: Superman, Batman, Spider-man, Wolverine, Wonder Woman, dan banyak lainnya rata-rata adalah superhero kulit putih. Apabila ingatan saya tidak keliru hanya tiga kali aktor kulit hitam menjadi sorotan utama di film superhero: pertama adalah Steel yang dibintangi oleh bintang basket Shaquille O’Neal (dan adalah mimpi buruk bagi pecinta komik), kedua adalah superhero komik Image Spawn, dan terakhir dan tersukses adalah trilogi superhero vampire Blade yang diperankan Wesley Snipes.

Sebenarnya ini bukan kesalahan dari film-film tersebut karena dari material komik sendiri sangat jarang superhero yang berasal dari kaum minoritas mendapatkan kesempatan untuk tampil sebagai sang primadona. Mereka lebih sering mendapatkan tempat dalam grup seperti Green Lantern John Stewart di serial animasi Justice League atau Nick Fury di dalam proyek The Avengers sebagai penyeimbang dan pelengkap saja. Gara-gara kekurangan bahan inilah film adaptasi komik kerap mengundang amarah orang karena mereka mengubah ras dari karakter-karakter komik yang bersangkutan. Lihat saja Kingpin, Heimdall, Perry White, sampai belakangan ini yang sedang panas adalah pemilihan Michael B. Jordan sebagai Human Torch. Apa yang diharapkan oleh studio Hollywood menjadi film superhero yang lebih merepresentasikan segala kaum penonton berbalik menjadi bumerang karena para fans komik menuding para eksekutif Hollywood sekedar melakukan hal ini guna menciptakan hype dan lantas mengeruk untung yang lebih besar.

The Black Human Torch

Akan tetapi perlahan tapi pasti stigma kulit putih yang mendominasi kaum superhero Amerika ini berusaha diubah oleh para pencipta komik Marvel dan DC. Selama beberapa tahun belakangan ini kedua pencipta komik terbesar Amerika tersebut mulai menciptakan karakter-karakter baru untuk merepresentasikan lebih banyak kaum, mulai dari etnis minoritas, agama minoritas, sampai kaum LGBT. Mereka sadar bahwa Amerika adalah sebuah negara melting pot:campuran dari berbagai etnis di dalamnya dan komik mereka pun sudah sepantasnya merefleksikan hal tersebut.

Beberapa di bawah ini bagi saya merupakan sosok-sosok yang merepresentasikan kaum-kaum minoritas di genre superhero:

1. Green Lantern John Stewart

Debut: 1971

John Stewart awalnya adalah seorang eks-marinir Amerika Serikat yang terpilih oleh cincin Green Lantern menjadi sosok ketiga dari bumi yang mendapatkan tanggung jawab ini (setelah Hal Jordan dan Guy Gardner). Dekade 1970 – 1980an memang merupakan saat-saat yang kontroversial bagi titel Green Lantern dan Green Arrow di mana tim penulis yang bertanggung jawab untuk kedua komik ini tak takut memasukkan unsur-unsur politik, rasisme, sampai masalah obat-obatan terlarang di dalamnya.

John Stewart

Walaupun pada awal penciptaannya John Stewart lebih banyak berkarir sebagai backup dari Hal Jordan dan Guy Gardner, waktu membuktikan bahwa akhirnya ia menjadi salah satu tokoh Green Lantern paling populer – mungkin yang kedua paling populer hanya di belakang Hal Jordan, dikarenakan dirinya didapuk menjadi bagian dari serial animasi Justice League yang populer selama dekade 1990 – 2000an.

2. Jubilation ‘Jubilee’ Lee

Debut: 1989

Jubilation Lee alias Jubilee adalah karakter mutant baru yang diciptakan oleh Chris Claremont dan Marc Silvestri untuk Marvel. Memasuki dekade 1990an komik X-Men dan mutant dan kata-kata ‘Generation X’ tengah ngetren dan diciptakanlah Jubilee untuk mewakili anak-anak pada generasi tersebut. Lihat saja kostum Jubilee yang di masa sekarang terlihat sangat… ‘berwarna’? Adalah rahasia umum bahwa Jubilee acap dipasangkan dengan Wolverine karena ia diplot sebagai Kitty Pryde untuk generasi baru (mengingat Kitty sudah tumbuh semakin dewasa sejak debutnya). Jubilee memang tak pernah menjadi karakter sepopuler Kitty tetapi ia adalah salah satu mutant dengan ras Tionghoa-Amerika yang terkenal.

Jubilee

Walaupun di era sekarang Jubilee tak selalu memiliki peranan penting di casting X-Men yang makin meluas, ia tetap salah seorang karakter yang relevan. Bagi mereka yang ingin tahu, Jubilee kehilangan kekuatannya sebagai mutant tetapi mendapatkan kekuatan baru… sebagai vampir!

3. Batwoman Kate Kane

Debut: 2006

Sebelum ada Batgirl Batman sebenarnya punya seorang sidekick / rival wanita di era 1950an dulu dalam sosok Batwoman (alter-ego Kathy Kane). DC punya hobi mengubah dunia mereka dan menciptakannya kembali berkali-kali sehingga sosok Batwoman pun terus berubah-ubah sejarahnya. Setelah even Infinite Crisis di tahun 2005 lalu, dunia DC sekali lagi mengalami perubahan besar dan karakter Batwoman (yang sebelumnya terlupakan karena kehadiran Batgirl) eksis lagi.

Dengan alter-ego Kate Kane, Batwoman mendapatkan banyak perhatian publik setelah DC menyatakan bahwa dia seorang lesbian yang bercengkerama dengan Renee Montoya, seorang polisi wanita asisten Komisioner Gordon dari kota Gotham. Terlepas dari suka tidaknya pembaca pada kaum LGBT, keputusan DC menjadikan seorang karakter high-profile dalam keluarga Batman sebagai seorang lesbian layak diberi acungan jempol.

Cinta adalah Cinta

4. Green Lantern Simon Baz & Ms Marvel Kamala Khan

Debut: 2012 & 2014

Setelah memperkenalkan karakter John Stewart, Green Lantern masih merupakan sebuah serial yang berani mendobrak stereotipe-stereotipe dalam genre superhero. Saat DC merombak dunianya di tahun 2012 dengan era baru The New 52 ada dua karakter Green Lantern yang mewakili kaum minoritas: pertama adalah Alan Scott yang adalah seorang gay sementara yang kedua adalah Simon Baz, seorang keturunan Lebanon yang beragama Islam. Simon Baz diciptakan oleh Geoff Johns dan Doug Mahnke sebagai jawaban stigma negatif Amerika pada Islam sebagai bangsa teroris. Faktanya Simon Baz bahkan dikejar-kejar pada awalnya karena dianggap sebagai teroris sebelum cincin Green Lantern menyelamatkan nasibnya. Sekarang Simon Baz tergabung dalam tim Justice League of America dan masih terus beradaptasi dengan posisi barunya sebagai seorang superhero.

Simon Baz

Apabila Baz adalah representasi kaum pria Muslim maka Kamala Khan yang baru saja debut tahun ini di komik Ms. Marvel (menjadi tokoh utama!) adalah representasi kaum wanita. Seperti yang kita tahu bahwa superheroine wanita Amerika ala Wonder Woman, Supergirl, dan banyak lagi sering memakai kostum mini dan seksi – sesuatu yang tentu tak biasa bagi Kamala yang adalah imigran Amerika dari Pakistan. Penulis G. Willow Wilson bersama artis Adrian Alphona menjadikan sosok Kamala yang cerdas dan pemberani: representasi dari gadis Islam yang muda dan modern, terkadang bingung antara ajaran agamanya dan budaya barat yang bertolak belakang, tetapi tak pernah takut untuk mencoba mencari jawabannya.

Superheroine dengan nafas Islam?

5. Spider-man Miles Morales

Debut: 2011

Sulit untuk tidak menutup list ini dengan nama yang paling populer dalam list ini: Miles Morales, sang Ultimate Spider-man.

Miles bukanlah Spider-man pertama yang bukan beretnis kulit putih, ingat Miguel O’Hara (Spider-man 2099)? Ketika Ultimate Universe diciptakan oleh Marvel hampir 15 tahun yang lalu, mereka berjanji bahwa ini akan menjadi sebuah dunia yang tak terkait dengan sejarah puluhan tahun Marvel. Oleh karena itu mereka dengan berani melakukan terobosan-terobosan baru seperti penciptaan komik The Ultimates dengan pemimpin Nick Fury kulit hitam (yang akhirnya menjadi basis penciptaan dari film The Avengers).

Don’t mess with double Fury!

Toh keputusan paling kontroversial dari tim Marvel saat itu adalah menghabisi karakter paling populer dari Ultimate Universe: Peter Parker. Keputusan ini disambung dengan menciptakan seorang karakter baru bernama Miles Morales, seorang dengan ayah kulit hitam dan ibu orang latin, sebagai karakter Ultimate Spider-man yang baru. Keputusan ini mendapatkan caci maki puluhan ribu orang yang tak terima karakter favorit mereka diganti seorang unknown, dari etnis minoritas pula.

Brian Michael Bendis sebagai pencipta serial Ultimate Spider-man juga karakter Miles Morales tidak mundur dengan segala badai kontroversi itu dan memfokuskan diri menulis sebuah kisah yang solid bagi Miles Morales. Perlahan tapi pasti para fans yang mau menerima dengan pikiran terbuka mendapati bahwa Miles bukan sekedar seorang pengganti dari Peter semata tetapi juga sosok yang pantas untuk menjadi penerus harapan dan idealisme dari Spider-man.

Alasan kenapa saya memilih Miles Morales sebagai sosok penutup dalam artikel ini adalah karena melalui dirinyalah pembaca komik (termasuk saya yang awalnya skeptis) bisa percaya bahwa kata-kata dari Paman Ben yang mendorong Peter Parker menjadi Spider-man: “With great power comes great responsibility” adalah sebuah ide yang universal.

Black, White, Heroes

Ide ini bukan sesuatu yang terkungkung hanya kepada satu individu atau ras atau agama tertentu saja tetapi sesuatu yang bisa diemban oleh siapapun, tak peduli dengan warna kulit mereka, agama apa yang mereka anut, maupun orientasi seksual mereka. We can all be superheroes!

Share this article

TENTANG PENULIS
dennis_villanueva

Dennis Indrawati Villanueva, dikenal juga dengan nama Si Tukang Review, seorang penggemar dari berbagai media hiburan yang ingin berbagi pandangan kepada dunia.