Mojiken Studio Rilis Vamp’s Revenge, Gado-gado Genre yang Adiktif!

Dalam beberapa tahun terakhir semakin banyak developer game bermunculan di Indonesia, baik yang perseorangan maupun yang sudah membentuk studio. Salah satu diantaranya adalah Mojiken Studio, sebuah studio asal Surabaya yang baru saja dibentuk pada bulan Agustus 2013 lalu. Setelah sebelumnya sempat merilis sebuah game eksperimental berjudul Ninjakira Combo Showdown, kali ini game yang beranggotakan 10 orang yang semuanya artist ini merilis satu game kasual lain yang tidak kalah adiktif berjudul Vamp’s Revenge.

Vamp’s Revenge sendiri dirilis hanya beberapa hari setelah Mojiken membawanya untuk mengikuti Indie Prize Casual Connect Asia 2014 tanggal 20 hingga 22 Mei 2014 lalu. Dalam game ini, pemain akan diajak untuk menikmati gado-gado genre yang ditawarkan, mulai dari launcher, platformer dan beat ’em up. Kombinasi beberapa genre yang unik dan adiktif inilah yang menjadi salah satu daya tarik Vamp’s Revenge saat dipamerkan dalam Indie Prize Showcase lalu, selain menampilkan gaya grafis lucu penuh warna.

Mojiken Studio saat Indie Prize Casual Connect Asia 2014 lalu.
Mojiken Studio saat Indie Prize Casual Connect Asia 2014 lalu.

Vamp’s Revenge sendiri mengisahkan seorang vampir kecil yang selalu di-bully oleh musuh abadinya, Wolfy yang merupakan sesosok Werewolf. Setiap kali sang vampir menikmati kehidupannya, selalu saja Wolfy datang dan merusaknya. Hingga suatu ketika sang vampir sudah tumbuh dewasa, dan jatuh cinta kepada seorang wanita yang baru pertama kali ditemuinya. Seperti biasa, Wolfy pun mulai “merusak” kebahagiaan yang didapatkan sang Vampir. Kali ini, sang Vampir pun tidak tinggal diam, dan berencana untuk melakukan pembalasan kepada Wolfy dengan cara menghancurkan bulan yang menjadi sumber kekuatan utamanya.

Seperti yang saya sebutkan di awal, game ini mengkombinasikan genre launcher, platformer dan beat ’em up dalam satu game sekaligus. “Pada awalnya itu idenya kami pengen bikin game yang punya mekanik launch, jadi tujuannya ya tinggi-tinggian atau jauh-jauhan. Yang paling menginspirasi awal itu Knightmare Tower/Buritto Bison sih,” ungkap Eka Pramudita, CEO dari Mojiken Studio sekaligus ketua komunitas Game Developer Arek Suroboyo kepada Duniaku.net. “Kita pengennya sih si player bisa dapet feel “ascending”-nya. Kalau Knightmare Tower kan Seakan-akan musuhnya di lemparin ke kita gitu. Nah, makanya kita juga coba ngambil elemen dari Doodle Jump, yang lompat-lompat platform,” lanjutnya.

Dalam game ini, kamu hanya perlu menggunakan gerakan dan satu klik mouse saja untuk memainkannya. Kamu perlu mengeklik mouse saat bar menunjukkan maksimum saat peluncuran awal, dan mengendalikan sang vampir dengan menggerak-gerakkan mouse ke kanan dan kiri. Di sepanjang jalan, kamu bisa menghajar musuh yang menghalangi sambil mengumpulkan koin-koin yang ada. Tapi awas, karena ada beberapa musuh seperti Imp yang memiliki tanduk yang tidak boleh kamu pukul dan harus dihindari, karena bisa melukaimu!

Genre beat ’em up sendiri tersaji saat kamu berada dalam mini game Realm Fight. Tugasmu adalah memukul musuh-musuh yang berdatangan dari segala arah menggunakan klik kiri mouse sebanyak mungkin sebelum nyawamu habis. Mengenai mini game ini, Eka memiliki kisah yang menarik. “Awalnya, daripada player gak ngapain-ngapain pas nungguin gamenya nge-load, kita kasih game pukul-pukulan. Ide intinya sih defending, dan biar “fit in” sama mekanik gamenya yang “smashing” makanya dibikin memukul. Nah, rupanya kita baru tahu kalau sistem mini game pada waktu loading itu ada yang udah mematenkan. Akhirnya daripada dibuang, toh assetnya udah ada, kita masukkan itu kedalam gameplay-nya,” ungkap Eka.

Jack’s Revenge, asal mula Vamp’s Revenge yang batal dirilis menjelang Halloween tahun lalu
Gameplay Jack’s Revenge

Game ini juga memiliki beberapa fitur lain seperti sistem upgrade untuk meningkatkan kekuatan dari si vampir itu sendiri, berbagai misi yang harus kamu capai agar bisa mendapatkan tambahan koin, hingga sistem achievement. Lebih lanjut Eka membeberkan kisah menarik dari pembuatan game ini. “Pada waktu awal pembuatan, kita sebetulnya pengen bikin sesuatu yang tematik. Berhubung event yang paling dekat pada waktu itu adalah Halloween, jadi dipakailah tema Halloween. Awalnya dulu gamenya berjudul Jack’s Revenge, yang menceritakan Jack o’ Lantern yang ingin balas dendam karena dia disabotase dan ketinggalan malam Halloween. Ternyata game-nya belum selesai pada waktu Halloween. Solusi yang kita pikirkan akhirnya membuang semua asset yang bertema Halloween, dan akhirnya kepikiran karakter apa yang masih bisa relevan dengan environment dan asset-asset lain yang udah dibuat, biar gak harus bener-bener rework dari awal. Keingetlah film Twilight, haha..”, beber Eka.

Dengan dua game kasual yang sudah dirilis, Mojiken yang sebagian besar anggotanya artist ini memiliki harapan agar tiap-tiap dari mereka nantinya bisa merilis game sendiri. “Untuk ke depannya kita mau coba bikin game-game yang lebih kecil, semacam game-game HTML 5 gitu. Jadi nantinya tiap-tiap artist di Mojiken bisa rilis game-nya sendiri-sendiri,” harap Eka. “Yang membuka jalan pertama kali kemarin sih Ninjakira Combo Showdown, yang saya kerjakan berdua dengan salah satu programmer Mojiken,” lanjutnya.

Mojiken Studio Rilis Vamp’s Revenge, Gado-gado Genre yang Adiktif!

Salah satu studio asal Surabaya, Mojiken Studio merilis Vamp's Revenge yang menawarkan kombinasi genre yang adiktif. Seperti apa game-nya? Apa yang mengilhami Mojiken untuk mengembangkan game ini? Simak di dalam!

Abaikan

Tertarik untuk menjajal gado-gado genre ala Mojiken Studio dalam Vamp’s Revenge ini? Kamu bisa langsung memainkannya secara gratis melalui link berikut ini. Bantu sang vampir untuk menyelesaikan misi balas dendamnya kepada Wolfy!


SHARE
Previous articleKostum Wonder Woman di Batman v Superman Adaptasi Game Injustice?
Next articleTV Spot Terbaru Transformers: Age of Extinction Kenalkan Robot-robot Baru
Ex Managing Editor majalah Zigma dan Omega yang mengawali karirnya sebagai kontributor sebuah blog teknologi. Febrizio dikenal juga suka dengan teknologi, film, pengembangan software, perkembangan sepakbola, serta saat ini juga mulai tertarik untuk mempelajari proses pengembangan game.