Tren Video Game: Model Pemasaran Free-To-Play Mulai Masuk ke Konsol

Clash-of-Clan-2

Seiring dengan terus meningkatnya perkembangan gadget mobile, yang begitu cepat peralihan teknologinya, game-game mobile pun juga ikut terkatrol, dan menikmati masa-masa keemasannya melalui platform seperti iOS dan Android. Dan dengan ceruk pasar mobile yang begitu besar, publisher pun harus pandai memikat pasar agar mereka mau setidaknya mencoba dulu memainkan game yang ditawarkan.

Konsep “mencoba sebelum membeli” tersebut memang banyak dipakai beberapa waktu lalu, dan hingga sekarang game-game mobile masih banyak yang ditawarkan dalam beberapa level awal saja yang bisa dinikmati, dan sisanya harus membayar agar bisa meneruskan permainannya. Pada perkembangannya, publisher game mobile menerapkan konsep jualan seperti yang banyak dilakukan perusahaan game online, yaitu free-to-play.

Clash-of-Clan-4
Unsur kompetitif yang hebat mendorong pemain membeli IAP untuk mempercepat gameplay, dan membuat game strategi semacam Clash of Clan meraih pemasukan per hari yang sangat besar.

Mereka sepenuhnya menggratiskan gamenya, gamer hanya dibebani biaya internet untuk mengunduh dari pasar digital, dan monetasi dijalankan entah melalui iklan, atau menjual in-app purchase (IAP). Saat ini free-to-play, atau gamenya juga sering disebut sebagai game freemium, menjadi salah satu metode distribusi game yang sangat penting dan begitu dikenal di kalangan gamer, khususnya gamer mobile.

Menurut kami, free-to-play adalah cara yang sangat efektif untuk mengiklankan sebuah franchise baru. Kemudian gamer juga diuntungkan, karena mereka bisa menilai sendiri gamenya, tidak perlu harus terpaku pada media. Jika suka, tinggal bayar sepantasnya sesuai kepuasan gamer saat memainkannya pada publisher dengan membeli in-app purchase yang mereka tawarkan.

Clash-of-Clan-5
Jika Warframe terlalu fiktif dan berbau alien, bisa mencoba Blacklight: Retribution, dengan setting masa depan Bumi dan intrik yang lebih sederhana.

Untuk konsol, metode free-to-play memang masih terdengar asing. Namun di pasar game mobile dan PC, sudah ada banyak contoh nyata kesuksesan game yang ditawarkan secara freemium yang sukses mengantarkan publishernya menjadi nama besar. Salah satu contohnya adalah Angry Birds, bisa juga dengan Supercell, developer game mobile yang dikenal melalui Clash of Clan dan Hay Day, pertengahan 2013 lalu diklaim mendapatkan US $2.4 juta setiap harinya hanya dari mengoperasikan dua game itu saja. Di Jepang, kami juga mencatat beberapa game gratisan yang berhasil menorehkan penjualan yang sangat besar melalui IAP, yaitu Puzzle & Dragons, Dragon Coins, dan Brave Frontier. Atau dua contoh game konsol, Warframe dan Blacklight: Retribution, yang bisa terus eksis tanpa harus memaksa gamer konsol mengganti satu kopi game tersebut dengan harga standar konsol US $60!

Clash-of-Clan-6
Grafis Warframe sebenarnya lebih pantas disepadankan dengan game retail yang berbayar!

Selama Game Developers Conference, Sony Computer Entertainment America yang mengadakan panel menarik dengan judul “F2P on PS4-Can it Work?” mengaku, bahwa usaha mereka akhir-akhir ini juga mendorong untuk masuk ke pasar free-to-play membuahkan hasil yang sukses. Warframe menjadi game FTP terlaris untuk PS4, dengan monetasi melalui microtransaction-­nya diklaim dua kali lebih besar dibandingkan PC. Blacklight: Retribution pun juga mencapai predikat yang sama. Game FTP lainnya, DC Universe Online dengan 8 juta pemain, juga diklaim pendapatan untuk versi PS4-nya 70% lebih tinggi dibandingkan PC.

Clash-of-Clan-3

Bagaimana dengan beberapa game lain dari last-gen yang mencoba FTP namun gagal? Penulis ingat dua judul, seperti Ascend: Hand of Krul dan Spartacus Legends, keduanya muncul di PSN dan Xbox Live, dan sayangnya saat itu masih belum diterima dengan baik oleh pasar. Namun dengan perubahan pada generasi saat ini, dimana game FTP populer di  PC bisa dengan mudahnya di-port ke konsol (karena persamaan arsitektur diantara mereka), maka game FTP PC seperti War Thunder, World of Tanks dan Warframe pun bisa segera dinikmati gratisan di tengah ruang keluarga X1 dan PS4.

 

Masih terlalu dini menyebut FTP juga akan sukses di konsol dibandingkan di PC atau platform mobile, namun beberapa judul dari current-gen sudah membuktikan, dan tampaknya tren metode distribusi FTP itu akan makin besar di konsol seiring makin diterima gamer, dan seiring developer yang akan terlibat dengan game FTP di konsol akan tetap konsisten menyajikan game yang fun, agar komunitasnya tetap terjaga untuk terus bermain, apalagi jika game tersebut memang ditujukan untuk konsol. Plus menghilangkan sterotip negatif yang selama ini sudah terpaku pada game FTP, khususnya yang eksis di platform mobile, yang biasanya sekadar polesan atau daur ulang game lainnya.

Brave-Frontier-3

Oh ya, penulis juga tetap yakin FTP tidak akan menggantikan sistem pemasaran lama game konsol kok. Karena penulis yakin, tipikal game single-player emosional dan fokus menceritakan kisah seseorang, pasti akan susah ditawarkan dengan gratis dan dijejali banyak item untuk dibeli di tengah permainan. Game dengan mayoritas user bermain online seperti Call of Duty dan Battlefield sebenarnya cocok juga ditawarkan secara gratis dengan microtransaction, namun hal itu jelas akan mengecewakan penggemarnya yang pasti sudah tahu kualitas seperti apa yang mereka dapatkan dengan membayar US $60.


SHARE
Previous article[Mr. Jas’ lecture] Game Publisher and Developer
Next articleTren Video Game: Tahun Penentuan Masa Depan Wii U?
Penggemar strategy RPG Jepang, serta semua serial Super Robot Wars, yang saat ini masih menjadi kontributor penulis artikel game guide salah satu media game Indonesia. Mulai memburu game-game mobile, dan juga emulator melalui gadget Android, hanya untuk memainkan kembali game-game RPG klasik, yang menurutnya tetap lebih baik dibandingkan game modern.