Tren Video Game: Mulai Banyak yang Gunakan Model Pembayaran “Akses Dini” Developer Indie

Minecraft-1

Markus “Notch” Persson pertama kali membuat Minecraft di waktu luangnya, dan dia tidak memiliki cukup dana untuk mendukung terus kelansungan proyek tersebut. Bukanya mencari bantuan kepada para publisher besar seperti banyak developer lainnya, dia memilih cara pendanaan baru, dengan menawarkan “game-setengah-jadi” tersebut pada publik dan menarik biaya akses dini memainkan versi alpha­-nya. Meskipun game tersebut masih membutuhkan waktu dua tahun sebelum akhirnya dirilis pada tahun 2011, banyak gamer yang penasaran dengan game sandbox yang memungkinkan kita membangun konstruksi tersebut. Dan yang mengejutkan, hingga saat ini Minecraft sudah terjual hingga 35 juta kopi dari semua platform.

DayZ-2

“Game-setengah-jadi” memang berawal dari Minecraft dan Notch, namun kemudian Early Access juga banyak diterapkan game lainnya, selain menjadi sumber lain pendanaan game, juga bisa menjadi bahan masukan developer akan game yang sedang mereka kembangkan tersebut. Saat ini Early Access menjadi salah satu topik yang banyak dibiracaka, terutama di kalangan developer indie. Dan lagi-lagi platform yang identik dengan kata indie, yaitu Steam dibanjiri dengan game yang menawarkan akses dini tersebut. Seperti DayZ dan Starbound, versi-setengah-jadinya sudah terjual hingga 1 juta kopi menggunakan metode pendanaan baru ini. Juga ada game lain yang memilih jalur yang sama seperti Rust dan 7 Days to Die, ternyata berhasil mempertahankan posisinya di tingkat 10 besar.

Rust

Early Access selain memberi gamer opsi memainkan versi alpha atau beta-nya, juga memungkinkan mereka terlibat dalam pengembangan, dengan memberi saran dan masukan. Akses alpha atau beta mungkin jamak kita dengar dalam game massively-multiplayer online, namun ternyata untuk pengembangan game berskala kecil bisa memberi benefit, sekaligus promosi yang efektif.

Starbound

Saat ini Early Access memang baru menjadi buah bibir di tengah komunitas Steam saja, di Kickstarter juga ada walaupun dibatasi untuk para backer saja, dan yang juga sering kami dengar, beberapa developer game mobile yang biasanya merilis game mereka di wilayah tertentu sebelum akhirnya resmi mengedarkannya untuk semua pasar digital. Namun mungkin saja, publisher besar di konsol menggunakan metode tersebut, misalnya mungkin, untuk menghindari hujan kritik yang diterima Battlefield 4 karena single-playernya yang sangat singkat dan dangkal, serta banyaknya bug serta glitches pada versi-versi awal game tersebut. Selain itu, kami juga mendengar jika game online Ubisoft Ghost Recon Phantoms, atau versi betanya di Steam disebut sebagai Ghost Recon Online, ternyata juga mengadopsi model penjualan akses dini tersebut.

7-Days-to-Die

Apakah tren Steam/indie yang mulai merasuk publisher besar ini baik, atau justru sebaliknya? Kita belum bisa memutuskannya saat ini. Namun yang jelas, ikatan gamer dengan developer menjadi lebih kuat, gamer menjadi sarana promosi sekaligus keterlibatan mereka selama alpha dan beta memberi kontribusi yang besar untuk menemukan keanehan dalam game. Ya benar, gamer, pemain game tersebut, seharusnya bisa menjadi quality control terbaik, apalagi jika ada jutaan yang bersama-sama memantau pengembangannya.


SHARE
Previous article[Mr. Jas’ Lecture] Education Game, Is It Important?
Next articleTren Video Game: Virtual Reality, Nikmati Game Melalui “Mata yang Baru”
Penggemar strategy RPG Jepang, serta semua serial Super Robot Wars, yang saat ini masih menjadi kontributor penulis artikel game guide salah satu media game Indonesia. Mulai memburu game-game mobile, dan juga emulator melalui gadget Android, hanya untuk memainkan kembali game-game RPG klasik, yang menurutnya tetap lebih baik dibandingkan game modern.