Fokus Permainan Interaktif untuk Wujudkan Ekonomi Kreatif Indonesia

Permainan Interaktif (2)

Rapat Paripurna sebagai lanjutan dari rangkaian kegiatan FGD (Focus Group Discustion) Ekonomi Kreatif, kemarin (3/7) dilaksanakan di Balairung Soesilo Soedarman Gedung Sapta Pesona, kantor Kementerian Parekraf, dan dipimpin langsung Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Mari Elka Pangestu.

Inti plenary kali ini adalah pemaparan dari masing-masing perwakilan subsektor ekonomi kreatif, terkait apa yang akan dikembangkan, isu strategis yang dihadapinya dan rekomendasi program pengembangan subsektor ekonomi kreatif pada periode 2015-2019 mendatang.

Permainan Interaktif (3)

Semua subsektor menyampaikan penekanan potensi dan permasalahan yang berbeda-beda, termasuk dari subsektor permainan interaktif yang diisi oleh Robi Baskoro. Dari definisi yang diberikan, permainan interaktif berarti memiliki media permainan dari mulai bentuk eletronik atau fisik, aktifitas yang berarti bisa dilakukan sambil duduk atau berlari, objektif untuk mengejar score atau level, dan rules yaitu aturan dan mekanisme dari permainan tersebut.

Setelah berlanjut tentang ruang lingkup dari permainan interaktif yang bisa dibagi berdasarkan platfrom atau genre yang masih terus berkembang. Robi memaparkan dua dari sepuluh isu yang paling terkemuka di permainan interaktif. Pertama adalah kualitas dari orang kreatif, kualitas yang tidak hanya soal skill, tetapi juga attitude dan knowledge dari masing-masing sumber daya manusia tersebut. Kedua adalah soal pembiayaan yang sudah ada, tapi masih sangat sedikit. Harus ada pihak terjamin yang berani menaruh dana di Indonesia untuk menciptakan game.

Permainan Interaktif

Dari pemaparan tersebut, muncul tiga usulan untuk menyukseskan permainan interaktif di Indonesia. Pertama adalah membuat kawasan, yang bisa dimulai dengan social network, dimana para pelaku industri kreatif harus dipaksa berkumpul, sehingga menciptakan produk yang tidak hanya game. Kedua adalah membuat dua ratus tv lokal, serta diharapkan Indonesia bisa meniru Korea yang sudah memiliki lembaga konten kreatif sendiri yaitu KOCCA (Korea Content Creative Agency).


SHARE
Previous articleKerennya Poster Karakter Rurouni Kenshin Kyoto Arc
Next articleKrisis Melanda Developer Crysis, Lebih dari 100 Staff Mogok Kerja
Lulusan Politeknik Negeri Jakarta yang belum puas kuliah, tapi udah sering nulis di media online. Suka game dari kecil, tapi gak pernah fokus. Alhasil, cuma bisa nge-PES doang. Namun, dunia jurnalistik membawanya ingin mengetahui semua hal di dunia, terutama Game dan Sepak Bola. Dan sekarang, Ia coba mewujudkannya!