Hidupku, Jiwaku, Matiku Semua Untuk Idol !!

028

Bisa dikatakan Athira menjadi seorang wota dimulai saat tahun 2007, ketika Athira melihat sebuah anime dengan judul iDOLM@STER: XENOGLOSSIA. Anime ini menceritakan tentang kehidupan idol yang juga mengendarai mecha. Para karakter yang tampil sangat menyenangkan untuk dilihat di dalam anime ini membuat Athira terjun ke dunia idol untuk pertama kalinya. Tahun-tahun berikutnya, Athira yang sudah cukup mendalami iDOLM@STER mulai menjadi wota yang cukup heboh setiap kali barang-barang yang berhubungan dengan judul bawaan Bandai Namco tersebut keluar. Athira juga tidak segan-segan untuk merogoh kocek (bila ada) untuk membeli barang-barang tersebut.

Hal ini terus berlanjut hingga suatu hari Athira bertemu dengan seorang teman yang kurang menyukai wota, dan pada saat itu ia berkata pada Athira bahwa, “Jangan terlalu terikat sama barang-barang seperti itu, apa bedanya dengan berhala nantinya? Kamu mau jadi orang yang tidak punya tabungan hanya demi barang-barang ini?”

IMG_1132
Barang-barang seperti ini (bukan milik saya, ini foto dari iDOLM@STER Cafe)

Saat itu Athira berdalih bahwa uang bisa dicari namun kebahagiaan atas memiliki barang-barang idol ini tidak.

Namun ternyata, jawaban tersebut justru menjadi bumerang bagi Athira. Karena teman saya menjawab, “Bukannya itu sama saja dengan diperalat oleh Bandai Namco? Apa bedanya kamu dengan K-Popers yang rela menghabiskan uang demi boyband kesayangan sedangkan kamu tidak menyukai K-Popers?”

Dari titik itulah Athira mulai sedikit terbuka (iya, sedikit saja) pada “kejamnya” para perusahaan pemegang idol yang ada. Apalagi saat ini, bisa dikatakan bahwa idol is a thing! Dan kalau kamu cermat terhadap sekelilingmu, kamu bisa melihat bahwa sudah banyak sekali orang-orang yang memprioritaskan idol di atas kehidupan layak mereka.

Fenomena ini menjadi salah satu fenomena yang sebenarnya membuat hati miris karena di saat dirinya sendiri membutuhkan perhatian, perhatian para wota justru ditujukan pada idol yang mereka cintai. Mereka memang mendapatkan kebahagiaan dari hal tersebut, namun kebahagiaan itu semu, dan memang hampir semua dari wota yang saya kenal adalah jomblo, menjurus jones alias jomblo ngenes.

jkt48-1st-album-10
Termasuk jones tidak?

Menyukai idol bukan lagi sekedar hobi, melainkan menjadi “gaya hidup” yang harus dipenuhi, kira-kira itulah yang terjadi saat ini. Yang lebih hebat lagi, para wota ini tidak hanya menyukai idol 3D alias cewek asli tulen yang bisa kita sentuh di dunia ini, namun juga idol 2D seperti Athira yang menyukai iDOLM@STER . Para wota disihir dengan hebat oleh para idol tersebut sehingga tidak bisa melepaskan diri dari mereka, bahkan berjabat tangan dengan para idol sendiri sudah menjadi hal yang sangat eksklusif, kamu tidak bisa semerta-merta menghampiri anggota JKT48 dan “Mbak, minta salaman dong,” karena kamu harus memiliki tiket khusus demi berjabat tangan dengan mereka.  Tentu saja, tiket ini tidak murah, bahkan ada salah satu wota yang rela membeli satu single yang sama secara berulang-ulang demi mendapatkan kesempatan bersalaman dengan idol kesukaan mereka atau mendapatkan kartu-kartu idol mereka yang dapat dikoleksi.

Sebenarnya kalau kita berpikir secara logika, sebuah jabat tangan adalah sesuatu yang sudah biasa, bisa dilakukan oleh siapa saja dan kepada siapa saja asal tidak bermaksud yang aneh-aneh dengan jabat tangan tersebut. Namun ternyata, jabat tangan itu bisa menjadi “lahan uang” bagi perusahaan pemilik para idol. Idol-idol ini digambarkan sebagai seseorang yang pure sehingga kamu harus benar-benar beruntung atau lebih tepatnya, mau mengeluarkan banyak uang demi berjabat tangan. Hanya sebuah jabat tangan.

jktdalam

Mungkin memang jabat tangan ini dibuat ekslusif untuk menghindari hal-hal tidak senonoh ataupun kedatangan fans dalam jumlah berlebih yang sangat berpotensi menimbulkan kekacauan di tempat. Namun membeli 10 CD single yang sama untuk satu kali jabat tangan entah mengapa saya rasa cukup berlebihan, terlebih harga CD di Jepang tidaklah murah bila kita melihat acara jabat tangan AKB48. Lalu siapa yang diuntungkan di sini? Tentu saja promotor. Mengetahui para fans akut ini sangat mencintai para idol mereka dan rela melakukan apapun, para promotor pun memasang harga yang cukup besar untuk setiap event-nya dan apakah para fans ini merasa rugi? Saya rasa tidak. Dengan hadir di dalam acara tersebut para fans mendapatkan “kebahagiaan” seperti yang sudah Athira sebutkan tadi.  Namun apakah ini baik? Saya tidak bisa mengatakan bahwa ini sepenuhnya baik. Prioritas hidup para fans akut ini sudah berubah. Kalau memang uang terus mengalir saya rasa tidak masalah, dan kalau memang itu adalah hobi juga tidak ada salahnya,  namun bagaimana bila untuk hidup saja sudah susah dan idol sudah tidak lagi menjadi hobi?

Athira rasa, pihak perusahaan pemilik para idol di sini memang sangat pintar untuk membujuk para wota masuk ke dalam dunia idol. Dengan memberikan delusi kebahagiaan sesaat mereka mampu menyedot para manusia ini untuk menyerahkan uang mereka pada benda-benda per-idol-an. Mau tahu bentuk kegilaan fans idol lainnya? Yuk, kita buka halaman berikutnya untuk mengetahui hal-hal “gila” apa yang sudah dilakukan para penggemar idol terhadap uang (dan yang lain) mereka!

1
2

SHARE
Previous articleComic-Con 2014: Microsoft Tampilkan Detail dan Trailer Perdana Halo: Nightfall!
Next articleKini Siapa Saja Bisa Berpartisipasi dalam Fase Beta Destiny!
Penggemar berat Roger Federer, Jouji Nakata, Sho Hayami, dan Suwabe Junichi. Wota iDOLM@STER dan juga seorang penikmat game yang memiliki karakter laki-laki 30 tahun ke atas. Silahkan lihat kegalauan saya di twitter: ryofucha