#TGS2014 Mengintip Aktivitas di Booth Indonesia Game & Art Studios

Indonesia Game & Art Studios

Selama beberapa tahun terakhir, nama Indonesia selalu ikut memeriahkan pagelaran Tokyo Game Show (TGS). Tak terkecuali dengan tahun ini, dimana Indonesia juga mengirimkan beberapa wakilnya untuk mengikuti ajang tahunan tersebut. Mengusung nama Indonesia Game & Art Studios dan di bawah naungan Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Indonesia, para wakil Indonesia ini turut menyemarakkan empat hari penyelenggaraan TGS 2014 kemarin di booth yang terletak di Asia New Stars Area. Booth ini didesain minimalis, dengan banner berhias batik yang “Indonesia banget”.

Indonesia Game & Art Studios

Artoncode Indonesia, Touchten Games, Kidalang, Rolling Glory, Manikmaya Games dan Anantarupa Studios adalah keenam wakil Indonesia yang menggawangi Indonesia Game & Art Studios ini. Masing-masing membawa game andalannya untuk dipamerkan. Selain keenam studio yang menggawangi Indonesia Game & Art Studios, terdapat juga beberapa developer lain yang ikut memamerkan karya dalam event ini, seperti Digital Happiness yang mewakili Indonesia di ajang Sense of Wonder Night 2014, serta nama-nama lain seperti Altermyth, Tinker Games, Bamboomedia, Enspire Studio, Sign Design, KreeApe Indonesia, Inmotion dan Oray Studios yang memiliki booth tersendiri.

duniaku-indonesiaTGS2014-3

Banyak kejutan yang dibawa para developer Indonesia ini selama keikutsertaan mereka dalam TGS 2014. Kidalang contohnya, mereka mengkonfirmasikan bahwa saat ini sudah menggandeng salah satu perusahaan dari Jepang, NiwakaSoft untuk melakukan lokalisasi Sage Fusion 2 di Jepang. Rencananya, versi Jepang dari game pemenang Tizen App Challenge ini akan dirilis beberapa bulan mendatang. Selain Sage Fusion 2, Kidalang juga memamerkan satu Visual Novel buatan mereka, An Octave Higher yang rencananya akan dirilis sekitar akhir tahun 2014 mendatang untuk iOS dan Android.

Kidalang, Sage Fusion 2

Lokalisasi untuk pasar Jepang bukan hanya dilakukan oleh Kidalang saja. Dua game lainnya, DreadOut besutan Digital Happiness dan The Great Adventures of Botchi buatan Rolling Glory juga mengikuti jejak Sage Fusion 2. Bahkan Digital Happiness sudah merilis DreadOut versi 1.6.1 yang menggunakan bahasa Jepang untuk menandai keikutsertaan mereka dalam TGS 2014 ini dan langsung bisa dicoba oleh para pengunjung. Sedangkan Rolling Glory sendiri selama TGS 2014 memamerkan buku cerita interaktif The Great Adventures of Botchi yang sudah menggunakan subtitle bahasa Jepang untuk memudahkan pengunjung mengenali kisahnya.

duniaku-indonesiaTGS2014-7

Deretan game baru juga menjadi menu beberapa developer game Indonesia selama TGS 2014 ini. Anantarupa misalnya, menampilkan dua game mobile baru mereka yang berjudul Boma Naraka Sura dan Majapahit Kshatriya Saga. Beda lagi dengan Inmotion, studio yang sebelumnya kita kenal dengan game 3D Angkot The Game ini menampilkan teaser versi 2D dari game tersebut yang akan dirilis untuk platform mobile.

duniaku-indonesiaTGS2014-8

Sedangkan Touchten dan Artoncode sepertinya menjadi dua developer yang paling sibuk selama TGS 2014 kali ini. Dalam TGS 2014 ini, mereka memang membawa game andalan masing-masing. Namun selain memamerkan karya-karya tersebut, mereka banyak memiliki kegiatan lain. Artoncode misalnya, dua punggawa mereka Indra Gunawan dan Anton Budiono jarang terlihat di booth Indonesia Game & Art Studios karena banyak menghadiri meeting dan menjalin relasi. Hanya Hardi yang sering terlihat di booth dan mengenalkan game-game Artoncode kepada para pengunjung.

duniaku-indonesiaTGS2014-9

Untuk Touchten sendiri, selain memamerkan karya dan menjalin relasi juga mendapatkan job “dadakan” lain: menjadi penerjemah untuk developer Indonesia lainnya. Ya, dengan latar belakang pernah beberapa tahun menimba ilmu di Jepang, Anton Soeharyo yang merupakan CEO dari Touchten sering terlihat berada di booth dan menjadi penerjemah yang menghubungkan antara rekan-rekannya dengan pengunjung Jepang yang kurang fasih berbahasa Inggris.

Duniaku Network adalah media partner #TokyoGamesShow untuk Indonesia.


SHARE
Previous articlePenampilan Satria Garuda Bima X Saat Beraksi di Popcon Asia 2014
Next articleReview Fairy Tail Online: Paket Lengkap MMORPG dengan Cerita Serupa Animenya
Mengawali karier menulisnya pada tahun 1997 sebagai kontributor rubrik game majalah Mentari Putera Harapan. Namanya mulai dikenal setelah dia turut membidani lahirnya majalah game pertama di Indonesia, Game Master. Begitu banyak majalah yang lahir dari buah pemikirannya. Sebut saja Game Master, 3D Magazine, Ultima Nation, hingga Zigma dan Omega. Tidak hanya dikenal sebagai jurnalis dan konseptor, GrandC juga seorang penulis cerita. Saat ini dia banyak disibukkan dengan pengembangan Vandaria, dunia fiksi ciptaannya.