Review The Equalizer: Keahlian Membunuh Denzel Washington Jadi Poin Utama

the equalizer

“One man show” dalam film action. Aktor mana yang ada dipikiran kalian yang bisa mengalahkan semua musuhnya sendirian? Belakangan, nama Liam Neeson menjadi salah satu yang favorite dalam film Taken. Sekarang dalam film yang bisa dibilang serupa, Denzel Washington memerankan hal tersebut.

Walaupun sama-sama aktor kawakan, Liam Neeson terlihat sangat serius dan senjata api tetap menjadi andalannya meski dia juga pandai bela diri. Sementara Denzel Washington dalam film The Equalizer melakukannya dengan cara yang unik dan segar. Dengan tingkat kesadisan yang juga tinggi, pembawaan karakternya yang santai membuat dirinya jauh dari kata menakutkan.

the equalizer-2 the equalizer-3

The Equalizer menceritakan kisah Robert McCall (Denzel Washington) sebagai orang yang bekerja di sebuah toko perlengkapan rumah (toserba) dengan sifatnya yang tenang dan selalu melakukan hal yang benar. Kesehariannya yang diketahui telah ditinggal istrinya, dilewati dengan membaca buku di sebuah cafe sambil meminum teh. Dan stop, mungkin hanya itu informasi paling jelas tentang Robert McCall yang diberikan Antoine Fuqua sebagai director film ini.

The Equalizer ini mengadopsi cerita yang sama dengan serial tv berjudul sama di tahun 80an, dimana Robert McCall pun mempunyai latar belakang yang misterius.

the equalizer 12

Sementara dalam film ini, cerita McCall bermula saat perkenalannya dengan Teri/Alina (Chloë Grace Moretz) seorang pekerja seks komersial dengan suara serak yang juga sering datang ke cafe yang sama. Teri yang bekerja untuk mafia Rusia ini sering mendapatkan perlakuan yang tidak baik, sampai akhirnya McCall merasa harus melakukan sesuatu yang benar. Ya, hanya itu alasannya. Tanpa disadari anggota mafia yang menjadi korban pertama McCall memiliki jaringan yang sangat besar.

Meski memiliki cerita yang standar khas film detektif, The Equalizer memiliki sisi menarik dari Denzel Washington. Aktor yang juga sempat meraih Oscar ini seperti memerankan dua karakter yang berbeda. Beberapa scene awal bahkan menampilkan sisi humoris darinya dan saat hendak melawan musuhnya tingkat keseriusannya menanjak, sampai dia bisa memperkirakan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menghabisi musuhnya dengan barang-barang yang ada di sekitarnya.

the equalizer 21 The-Equalizer-001

Ini juga menjadi hal yang patut diacungi jempol, pekerjaannya sebagai karyawan toserba membuat salah satu adegan pembunuhan atau kekerasan yang dilakukan McCall menggunakan barang-barang yang dijualnya tersebut. Jadi siap-siap saja melihat darah yang keluar dari leher, karena tertancap paku atau diikat kawat besi. Keahliannya dalam membunuh membuat orang bertanya-tanya siapa dia sebenarnya. Penulis sendiri penasaran dengan masa lalu McCall dan merasa terlalu aneh jika ada orang mau berbuat sejauh ini cuma karena alasan yang sepele.

the equalizer-9 the equalizer-5

Sayangnya, Antoine Fuqua tetap merahasiakan identitas McCall sampai akhir film, membuat film ini seperti akan berlanjut ke seri berikutnya. Duet Denzel Washington dan Antoine Fuqua memang sering meraih sukses dengan adegan kekerasan sebagai nilai jual utamanya. Namun, bukan berarti karakter lain tidak berperan dalam film ini. Marton Csokas yang berperan sebagai Teddy, anggota mafia yang diutus untuk membunuh McCall, berhasil membawa aura bengis Rusia yang dingin dan mematikan. Sementara Chloë, bisa menjadi pemanis di awal dan akhir film ini. Terakhir, musik pengiring yang digarap Harry Gregson-Williams terasa pas dengan tiap adegannya, ditambah Guts Over Fear dari Eminem feat. Sia di credit title mungkin menahan kalian untuk bangkit dari bangku bioskop.

the equalizer-11

Bagi penikmat film dengan adegan action thriller yang berdarah-darah dan kekuatan “one man show”, The Equalizer sudah mulai tayang di bioskop Indonesia pada 24 September 2014.


SHARE
Previous article#TGS2014 Game Eksklusif Xbox One Jepang Ternyata Lebih Cocok Jadi Game Smartphone
Next articleHati-hati Jangan Mengantongi iPhone 6 di Saku Celana Terlalu Lama!
Lulusan Politeknik Negeri Jakarta yang belum puas kuliah, tapi udah sering nulis di media online. Suka game dari kecil, tapi gak pernah fokus. Alhasil, cuma bisa nge-PES doang. Namun, dunia jurnalistik membawanya ingin mengetahui semua hal di dunia, terutama Game dan Sepak Bola. Dan sekarang, Ia coba mewujudkannya!