Anantarupa Studios: #TGS2014 Menunjukkan Semakin Tipis Batas Antara Studio Indonesia dengan Internasional

Anantarupa Studios
Ivan Chen (paling kanan) bersama rombongan kru Anantarupa Studios

Anantarupa Studios mendapatkan tugas ekstra selama TGS 2014 ini. Selain mendemokan hasil karyanya, tahun ini mereka menjadi organizer dari Indonesia Game & Art Studios yang dinaungi oleh Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) Indonesia. Ivan Chen selaku CEO dari Anantarupa mengungkapkan, bahwa keikutsertaan Indonesia dalam TGS 2014 ini cukup bagus untuk mengetahui sedekat apa gap antara developer game Indonesia dengan internasional. “Melihat banyaknya game dan art studio yang melakukan ekshibisi di TGS tahun ini menunjukkan batas-batas game developer internasional dan game developer indonesia sudah makin menipis,” ungkap Ivan saat ditemui di sela-sela aktivitasnya selama TGS 2014 ini.

Salah satu aktivitas mereka dalam TGS 2014 ini adalah mendemokan dua game yang tengah mereka kembangkan. “Di TGS tahun ini kami showcasing dua game yang sedang kami develop yaitu Ksatria Saga dan Boma NarakasuraKsatria Saga adalah mini action RPG untuk platform mobile yang bertemakan Majapahit sedangkan Boma Narakasura adalah 2D Platformer yang terinspirasi dari wayang,” paparnya.

Ivan juga memberikan pendapat mengenai booth Indonesia Game & Art Studios yang mereka gawangi ini. “Meskipun dengan bujet yang sangat terbatas dan waktu yang sangat mepet namun setidaknya elemen-elemen untuk pameran sudah ada. Dalam kesempatan ini kami ingin mengucapkan terimakasih kepada Ibu Lolly selaku Direktur Kerjasama dan Fasilitasi Dirjen EKMDI Kemenparekraf karena sudah bersusah payah membantu teman-teman developer untuk bisa mengikuti pameran tersebut,” ujarnya. Meskipun masih belum sesuai dengan harapan, namun mengingat segala keterbatasan yang dihadapi, Ivan sangat mengapresiasi booth ini. “Tapi tentunya kami memiliki harapan lebih jauh kedepan, yaitu supaya Direktorat Ekonomi Kreatif ini diberi prioritas yang lebih atau paling tidak sama dengan direktorat yang lain,” tambahnya.

Bersama para punggawa Indonesia Game & Art Studios
Bersama para punggawa Indonesia Game & Art Studios

Cukup penting bagi pemerintah untuk terus memberikan perhatian kepada industri kreatif ini, karena menurut Ivan inilah yang akan menjadi aspek penting di era ekonomi kreatif. “Seperti yang saya tulis di makalah mengenai Industri Kreatif Indonesia untuk International Conference on Indonesia Studies 2014, bahwa di era ekonomi kreatif ini sektor Industri kreatif yang terdiri dari novel, komik, animasi, game, musik dan film adalah ujung tombak pergerakan Indonesia terhadap gelombang baru ini. Komik, animasi, musik, film dan game seharusnya menjadi inti dari strategi budaya dan menjadi peretas untuk bidang ekonomi kreatif lainnya fashion, culinary, tourism dan sebagainya. Ini yang sudah dikerjakan Jepang dan Korea,” paparnya.

Ivan lantas bercerita mengenai pertemuannya dengan salah satu pemerhati budaya, yang menganggap Indonesia tidak memiliki strategi budaya. “Ketika saya berbincang dengan salah satu tokoh pemerhati budaya dari Inggris mengenai pameran fashion kita di Inggris beliau berkomentar bahwa jelas Indonesia tidak mempunyai strategi budaya, ini yang menjadi PR bagi Kemenparekraf sekarang. Selain itu kita juga bisa lihat trend film Hollywood yang mengadaptasi novel, komik dan game. Tapi di Indonesia, bidang-bidang ini seakan dipandang sebelah mata,” jelasnya.

Selain untuk melihat sedekat apa gap antara developer Indonesia dengan developer internasional, Ivan menganggap keikutsertaan dalam TGS 2014 ini juga memberikan manfaat lain bagi developer yang ikut. “Keikutsertaan ini juga sebagai media apresiasi bagi gamedev Indonesia untuk menjajal business matching dengan game publisher dan mendapat feedback atau masukan dari mereka. Event ini berbeda dengan pameran di Indonesia yang menurut saya kurang efektif bagi game developer,” ungkapnya.

duniaku-kemenparekraf-3

Ketika ditanya mengenai harapannya untuk TGS tahun depan, Ivan lebih menyampaikan harapannya secara umum. “Mungkin harapan saya lebih general ya, yaitu di tiap-tiap elemen industri kreatif yaitu komik, animasi dan game setidaknya harus bisa mengikuti ekshibisi yang berorientasi content market. Untuk pameran di event-event internasional ini juga sebaiknya ada kerjasama dukungan baik dari pemerintah dengan kementerian, Direktorat terkait atau atase perdagangan di negara setempat. Juga dengan banyaknya kompetisi-kompetisi di Indonesia juga sebaiknya mengacu kepada event-event seperti pameran internasional seperti ini,” paparnya.

Ivan juga memberikan banyak masukan untuk event pendukung industri kreatif sehingga tidak mengakibatkan kesalah pahaman antara penyelenggara dengan para pesertanya. “Pertama, Harus ada pemahaman mengenai perbedaan antara industri kreatif dan Industri umum misalnya industri game industri dan industri IT. Kesalahpahaman ini harus diluruskan karena menyangkut banyak hal, misal kompetisi-kompetisi yang diselenggarakan di Indonesia dan maksud dan tujuan investasi. Intinya adalah industri kreatif adalah industri yang berbasis konten. Kedua, Untuk penyelenggara kompetisi kompetisi Industri kreatif, pertanyaan yang mulai sekarang harus dijawab adalah apakah setelah menang kompetisi, prototype atau pilot yang dilombakan akan direalisasikan? Karena banyak sekali kompetisi kompetisi yang tidak berujung dan pointless karena hanya euforia semata” jelasnya panjang lebar.

Terakhir Ivan juga memberikan saran untuk rekan-rekan developer Indonesia yang saat ini belum mendapatkan kesempatan untuk mengikuti TGS. “Terus berjuang, dan harus ingat bahwa sekarang tidak ada batasan antara developer internasional dan lokal karena mau tidak mau kompetisinya adalah kompetisi global,” pungkasnya.


SHARE
Previous articleEaster Egg Hunter : Ada Agent S.H.I.E.L.D dan HYDRA di Indonesia!!
Next articleE-Commerce Travel Menjadi Favorit Online Shopper

Mengawali karier menulisnya pada tahun 1997 sebagai kontributor rubrik game majalah Mentari Putera Harapan. Namanya mulai dikenal setelah dia turut membidani lahirnya majalah game pertama di Indonesia, Game Master. Begitu banyak majalah yang lahir dari buah pemikirannya. Sebut saja Game Master, 3D Magazine, Ultima Nation, hingga Zigma dan Omega. Tidak hanya dikenal sebagai jurnalis dan konseptor, GrandC juga seorang penulis cerita. Saat ini dia banyak disibukkan dengan pengembangan Vandaria, dunia fiksi ciptaannya.