Artoncode: #TGS2014 Bukan untuk Pamer Produk, Tapi untuk Mencari Partner

Indra Gunawan (kiri) dan Anton Budiono
Indra Gunawan (kiri) dan Anton Budiono

Banyak developer Indonesia yang tidak memiliki tujuan yang pasti kala menghadiri sebuah event seperti TGS 2014. Atau mereka sudah memiliki tujuan yang pasti namun tujuan tersebut tidak sesuai dengan event yang kita ikuti. Hal inilah yang menjadi isu utama yang diangkat Artoncode saat menyampaikan pendapatnya tentang TGS 2014 ini. Kepada Duniaku yang mewawancarai mereka di sela-sela aktivitas mereka di Jepang, Indra Gunawan selaku CEO dan Anton Budiono selaku CTO memberikan banyak pendapat dan saran mengenai pelaksanaan TGS ini dan juga event-event ke depannya.

“Intinya kita harus menyamakan dulu apa tujuan dari game developer Indonesia ini datang ke TGS.  Kita datang ke TGS ini sebenarnya kan bukan untuk men-show off produk kita karena kita definitely ga punya produk yang kita show,” ungkap Indra membuka diskusi. “Karena kita harus tahu, TGS ini mempunyai tujuh hall. Dan ketujuh hall ini diisi untuk player-player game yang uda sangat besar, yang uda sangat mendunia,” lanjutnya. Indra juga mengomentari kegunaan booth Indonesia yang sebenarnya digunakan untuk networking, bukan hanya untuk sekedar memamerkan produk. “Ada stand-nya PlayStation yang gedenya 300 meter persegi. Ada stand-nya Bandai Namco yang besarnya 200 meter persegi. Dan kita hanya punya stand yang besarnya 18 meter persegi. Jadi tujuannya booth ini kan bukan untuk men-show produk, tapi untuk membuat networking dengan orang-orang yang sudah expert di industri ini,” jelas Indra. “Booth ini tujuannya untuk menjustifikasi bahwa ya, ada developer Indonesia dan betul bahwa ada beberapa produk yang sudah kita kembangkan,” lanjutnya.

Indra juga mengungkapkan penting juga bagi developer Indonesia untuk duduk bersama dan membahas persiapan sebelum mengikuti sebuah event agar tujuan setiap mengikuti event bisa tercapai. “Kita harus sama-sama untuk mematangkan rencana setiap ada event internasional. Jadi jangan sampai TGS ini baru dikonfirmasi, persiapannya baru sebulan atau dua bulan sebelumnya. Ini perlu preparation sebenarnya dengan teman-teman developer yang lain. Toh uda jelas, event-event dalam setahun ke depan itu kita udah tau ada apa aja. Harus diadakan meeting secara reguler antara game developer mengenai pas event ini kita mau ngapain, event itu mau ngapain dan sebagainya,” paparnya. “Persiapan tersebut harus lebih ke kita bisa saling membuat janji dengan misalnya Google atau publisher, dimana kita sebagai game developer bisa bareng-bareng meeting dengan mereka, menunjukkan produk-produk dan dimiliki, dan menawarkan apakah si publisher bisa mempromosikan game kita di pasar yang mereka sudah familiar,” harapnya.

duniaku-artoncode-1

Kebersamaan dan keterbukaan ini penting bagi developer game agar bisa saling membuka peluang dan memahami satu dengan yang lainnya. Beberapa developer game Indonesia menurut Indra sudah slaing terbuka, seperti Artoncode dan Touchten yang saling lempar-lempar dan share meeting. Dan sudah seharusnya developer Indonesia perlu seperti itu. “Kita udah mulai keterbukaan kita dengan share, kita udah meeting dengan si ini, kenalkan dengan Touchten, dan kenalkan dengan developer Indonesia lainnya. Saat ada meeting saya juga ngenalin, kenalkan dengan developer yang lain, jadi jangan cuma meeting sama saya aja,” lanjut Indra. Terkadang ada peluang besar yang sudah di depan mata, namun tidak bisa jika hanya dikerjakan satu studio saja. Indra mencontohkan selama TGS 2014 kemarin Artoncode mendapat tawaran untuk membuka sekolah animasi dari Cool Japan, bahkan sudah ada proposalnya. Tetapi dia mengaku tidak sanggup jika harus dikerjakan Artoncode sendirian. “Tapi kalau kita bareng-bareng dan Cool Japan bisa bekerja sama dengan asosiasi game developer di Indonesia, we can make it happen,” yakinnya.

Indra juga menggaris bawahi bahwa developer jangan hanya bergantung kepada pemerintah saja untuk mewujudkan tujuan mereka. Selain itu, rencana ke depan dari booth Indonesia juga harus dimatangkan. “Jangan berpikir kita cuma ingin punya booth yang keren. Tapi yang harus dipikir adalah bagaimana indie company seperti kita ini mulai dengan dua booth supaya taun depan bisa berkembang jumlahnya seperti Malaysia atau Thailand. Untuk bisa seperti itu Indonesia ga bisa rely on government aja, tapi bagaimana setiap event itu dimatangkan dari segi bisnisnya,” paparnya. “Sekali lagi, yang penting adalah meeting-nya. Yang penting bukan berapa orang yang datang, tapi seberapa besar potential meeting yang kita dapat,” lanjutnya.

Banyak developer Indonesia yang memiliki pola pikir kurang tepat. Salah satunya saat ikut ke TGS ini. Mereka berpikir bahwa mendemokan game di TGS bakal menjadi headline berita yang hebat. Namun Indra buru-buru menampik pendapat tersebut, dan menganggap setiap memiliki visi, misinya pun harus tepat. “Setiap ada event pasti learn something. uda ada planning-nya event ini mau ngapain aja. Yang perlu dibenerin itu visi dan misi dari game developer Indonesia. Jangan hanya cuma punya visi tapi ga punya misi. Misal visinya untuk memajukan industri game di Indonesia, nah misinya apa? Apa yang perlu dilakukan?” ujarnya. “Yang harus kita tahu, di saat kita masih berjalan atau merangkak di Indonesia, orang-orang di negara lain sudah berlari. Kita bisa melihat pemain-pemain besar di Industri ini bergerak agresif di mobile gaming. Dan jika kita ingin sukses di industri game, peluang kita yang besar ada di mobile gaming,” sarannya.

Mengenai platform ini, Anton Budiono ikut angkat bicara. “Bicara mengenai platform, baik mobile, pc maupun konsol punya requirement sendiri-sendiri. Kalau mengenai talent, yang kita bisa saat ini cuma web sama mobile. Lainnya ga bisa. Soalnya kita ga punya middle layer-nya. Kalau misalnya kita punya lead programmer yang sudah pengalaman coding di Playstation, itu mungkin kita bisa bikin untuk konsol. Xbox mungkin lebih gampang untuk cari talent, tapi marketing-nya yang ga gampang,” jelas Anton.

Bersama Gede Mahartapa, CEO dari PT. Buana Media Visual (GudangVoucher)
Bersama Gede Mahartapa, CEO dari PT. Buana Media Visual (GudangVoucher)

Baik Indra maupun Anton pun memberikan harapannya untuk keikutsertaan Indonesia di event-event selanjutnya. “Yang diharapkan sih banyak. Selain insight yang lebih serius, juga jika mau ikut event harus ada persiapan yang lebih serius dan ada tujuan ke event tersebut mau ngapain. Untuk tahu ‘mau ngapain’ ini juga harus tahu kualifikasinya. Contohnya kalau mau ikut Casual Connect. Untuk ikut ke Casual Connect perlu tahu orang-orang yang datang itu seperti apa aja, game-gamenya seperti apa aja dan kalau ikut ke sana bakal malu-maluin atau ga?” papar Anton. “Kalau event-nya cuma indie oke-oke aja, karena indie ga punya ukuran tertentu. Tapi TGS ini levelnya berbeda. Di TGS ini kita ketemu dengan produsen konsol dan vendor,” lanjutnya. “Banyak developer besar di Indonesia seperti Toge yang tidak ikut TGS karena mereka merasa tidak useful. Itu yang paling bener. Mereka menemukan di TGS ini tidak useful maka tidak ikut. Kalo yang gede-gede ngerasa useful ikut di TGS, mengapa mereka tidak ikut?” tambah Indra.

Indra juga menggaris bawahi visi di booth Indonesia yang sangat-sangat berbeda dengan apa yang menjadi tujuan mereka. “Di sini saya benar-benar ngelihat kita datang ke booth ini hanya untuk memamerkan produk kita. Itu yang jadi main concern dan kata saya itu sangat-sangat salah. Kita di sini tidak untuk memamerkan produk. Kita di sini buat cari networking, buat cari strategic partners. Saya melihatnya di sini orang-orang malah lebih sibuk mikirin brosurnya harus seperti apa, SPG-nya harus seperti apa, booth background-nya harus seperti apa dan sebagainya,” kritiknya. “Saya pengennya di TGS yang akan datang pengunjung bukannya bertanya, ‘eh market Indonesia kayak gimana ya.’ Tapi yang perlu kita bawa ke TGS tahun depan adalah kisah bagaimana kita bisa sukses di market Indonesia. Orang akan percaya ada market apabila ada success story yang lebih relevan,” harap Indra.

Terakhir mereka berdua memiliki saran bagi para developer yang ingin ikut TGS di tahun-tahun mendatang. “Pertama adalah requirement. Kamu ikut ke TGS itu untuk apa. Apakah untuk jualan produk di sana atau untuk cari outsource. Kalau untuk cari outsource saya rasa ga perlu ke TGS. Kedua, sangat penting untuk publisher Indonesia sendiri untuk ikut unjuk gigi,” papar Anton. Indra menyetujui pernyataan tersebut bahwa di TGS selanjutnya yang ditunjukkan jangan hanya developer game-nya saja, tetapi ekosistem yang terbentuk. “Kita harus tunjukkan, bahwa Indonesia ada payment gateway dan ada publisher-nya, Ini yang bakal membuat mereka tertarik dan berpikir ada potensi besar di Indonesia. Yang tidak tahu market Indonesia bisa ber-partner bareng-bareng dengan publisher Indonesia untuk publish game mereka di Indonesia. Karena Industri bukan hanya studio. Lebih dari itu,” pungkas Indra.

Duniaku Network adalah media partner #TokyoGameShow untuk Indonesia.


SHARE
Previous articleE-Commerce Travel Menjadi Favorit Online Shopper
Next articleMiracle Fly, Game Puzzle Kreatif dengan Nuansa Anime

Mengawali karier menulisnya pada tahun 1997 sebagai kontributor rubrik game majalah Mentari Putera Harapan. Namanya mulai dikenal setelah dia turut membidani lahirnya majalah game pertama di Indonesia, Game Master. Begitu banyak majalah yang lahir dari buah pemikirannya. Sebut saja Game Master, 3D Magazine, Ultima Nation, hingga Zigma dan Omega. Tidak hanya dikenal sebagai jurnalis dan konseptor, GrandC juga seorang penulis cerita. Saat ini dia banyak disibukkan dengan pengembangan Vandaria, dunia fiksi ciptaannya.